Alasan Dee Lestari menghidupkan kembali "RAPIJALI"

id Dee lestari,Rapijali

Alasan Dee Lestari menghidupkan kembali "RAPIJALI"

Penulis novel Dee Lestari dalam bincang-bincang novel "RAPIJALI" secara daring di Jakarta, Jumat (22/1/2021). ANTARA/Maria Cicilia Galuh.

Jakarta (ANTARA) - Manuskrip milik penulis Dee Lestari yang berjudul "RAPIJALI" sempat "tertidur" selama 27 tahun, namun di tahun 2021 ini dia memutuskan untuk merilisnya dalam dua versi. Apa yang menjadi alasan Dee?

Pemilik nama asli Dewi Lestari ini mengatakan sejak kecil sudah memiliki hobi menulis. "RAPIJALI" pun merupakan sebuah karyanya yang ditulis ketika lulus SMA pada tahun 1993, namun dulunya bernama "PLANET PING".

"Dulu saya membayangkannya jadi cerbung (cerita bersambung) dan saya bagi-bagikan cerbung-cerbung ini ke keluarga sendiri aja, tapi tidak sampai selesai karena keterbatasan saya dalam menyusun konflik, keterbatasan saya dalam menyusun cerita, setelah itu saya mencoba menulis segala macam," kata Dee dalam bincang-bincang "Dee Lestari RAPIJALI Media Meet", Jumat.

Di tahun 2000-an, Dee membuat manuskrip "Supernova". Karena sifatnya serial dan sudah berjanji untuk menerbitnya, "RAPIJALI" pun kembali "terkubur".

Baca juga: Dee Lestari bakal hadirkan novel baru "RAPIJALI" dalam dua versi

Baca juga: Dee Lestari bocorkan novel mendatang


Waktu terus berjalan, karya-karya Dee yang lain pun terus bermunculan seperti "Perahu Kertas", "Filosofi Kopi", "Madre" hingga "Aroma Karsa". Namun "RAPIJALI" yang mati suri terus mengusik pikiran Dee.

"Tahun 2007 saya sempat ada di persimpangan saat ditawari cerbung digital, saya ada di dua pilihan 'Perahu Kertas' atau 'PLANET PING', tapi 'Perahu Kertas' lebih rampung akhirnya saya memutuskan menghidupkan lebih dulu 'Perahu Kertas'," ujar Dee.

"Saat itu saya seperti terus dihantui oleh 'PLANET PING'. Selain itu sebagai musisi masa saya enggak punya manuskrip tentang musik," imbuh dia.

"RAPIJALI" akan hadir sebagai cerita bersambung digital melalui platform Storial.co dan juga buku fisik yang dijadwalkan rilis pada akhir Februari 2021.

Dee mengatakan sengaja merilis dalam dua versi untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi pembacanya. Selain itu, Dee ingin mengembalikan "RAPIJALI" pada sejarah terbentuknya yang berupa cerita bersambung.

"Menerbitkan kembali jadi cerbung sama dengan mengembalikan ke fitrahnya. Dulu kita mengandalkan media cetak, sekarang untuk menciptakan sensasi itu saya harus beralih ke digital dan memang kali ini partner-nya dengan Storial," kata Dee.

"RAPIJALI" berkisah tentang Ping, remaja perempuan berusia 17 tahun yang hidup damai di Pantai Batu Karas bersama kakeknya yang seorang pemusik di rumah mereka dekat tepian Sungai Cijulang.

Dengan bakat musiknya yang istimewa, Ping merasa tidak memiliki wadah di Batu Karas. Namun, dia tidak berani bercita-cita besar karena keterbatasan yang melingkupi hidupnya.

Hidup Ping mendadak jungkir balik ketika dia harus pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarga calon Gubernur. Dia harus menghadapi sekolah baru, kawan-kawan baru, dan tantangan baru. Dari sana, Ping menyadari hidupnya ternyata tidak sesederhana yang ia duga. Ada sesuatu dari masa lalunya yang menanti untuk dikuak.

Baca juga: Dee Lestari serukan untuk tak unduh buku bajakan

Baca juga: Bakat menulis Dee Lestari menurun ke anak

Baca juga: Dee Lestari ungkap Glenn Fredly ubah lirik lagu "Malaikat Juga Tahu"


 

Pewarta : Maria Cicilia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar