Cabai rawit merah tembus Rp100 ribu di Pasar Tebet Barat

id harga cabai rawit merah, DKPKP DKI jakarta, jakarta selatan, harga cabai rawit melambung,Harga cabai,Cabai rawit,Cabai rawit merah

Cabai rawit merah tembus Rp100 ribu di Pasar Tebet Barat

Petugas Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta melakukan monitoring cabai di sejumlah pasar Ibu Kota, Kamis (28/1/2021). ANTARA/HO-DKPKP DKI Jakarta.

Jakarta (ANTARA) - Harga cabai rawit merah di pasar tradisional termasuk di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg),  menurut Info Pangan Jakarta (IPJ), Kamis.

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPK) DKI Jakarta membenarkan hal tersebut. Namun kenaikan harga tidak terjadi di semua pasar tradisional Ibu Kota, hanya di pasar-pasar tertentu, salah satunya Pasar Tebet Barat.

"Harga cabai rawit merah ada yang menjual kisaran Rp75 ribu hingga Rp90 ribu per kg, hanya di Pasar Tebet Barat yang Rp100 ribu," kata Pelaksana Tugas Kepala DKPKP DKI Jakarta Suharini Eliawati.

Elly menjelaskan, ada juga pasar yang menjual harga cabai di bawah rata-rata pasar sebesar Rp45 ribu, yakni di Pasar Metro Atom, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Adanya perbedaan harga cabai rawit merah ini, menurut Elly, disebabkan beberapa kemungkinan. Bisa saja pedagang memiliki stok cabai yang lama sehingga dijual dengan harga terjangkau daripada busuk.

Baca juga: Harga cabai rawit di Jakarta Barat melonjak
Pedagang memilah cabai di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Rabu (16/12/2020). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, menjelang Natal dan Tahun Baru, rata-rata harga cabai merah besar di pasar tradisional di seluruh Indonesia naik 1,33 persen dari Rp52.452 menjadi Rp53.150 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau naik 1,79 persen dari Rp41.801 menjadi 42.550 per kilogram. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa.
Sementara harga jual di tingkat pasar induk yang menjadi pemasok cabai untuk pasar tradisional di Jakarta, yakni Pasar Kramatjati, Pasar Cibitung dan Pasar Tanah Tinggi, Tangerang Selatan, memang mengalami kenaikan.

"Selain itu, pasar-pasar tradisional di Jakarta punya keunikan berdasarkan lokasinya. Jika berada di kawasan elit, masyarakat kelas menengah atas, harga mengikuti psikologis wilayahnya," kata Elly.

Menurut Elly, kenaikan harga cabai rawit merah dikarenakan pasokan cabai dari sentra produksi cabai di wilayah Jawa. Pasokan terhambat cuaca yang kurang mendukung, petani juga tidak memetik cabai akibat hujan yang terus turun di wilayah sentra.

Untuk mengantisipasi harga jual cabai di pasar tradisional terus melambung, pihaknya tengah membicarakan dengan Kementerian Pertanian untuk memperpanjang operasi pasar (OP) cabai murah.

"Kita sudah koordinasi dengan Kementerian Pertanian, kita minta operasi pasar cabai murah diperpanjang pelaksanaannya di pasar-pasar tradisional," kata Elly.

Sebelumnya, operasi pasar atau gelar pangan murah (GPM) cabai pernah dilaksanakan pada tanggal 12-13 Januari 2021 di Pasar Mitra Tani Klender, Pasar Mitra Tani pasar Minggu, Cengkareng, Pal Merah, Jatinegara, Pluit dan Kelurahan Benhil.

Selama pelaksanaan GMP harga cabai rawit merah dijual Rp 56 ribu per kg. Menurut Elly, setelah pelaksanaan GMP, sempat mempengaruhi harga cabai, namun tidak berlangsung lama, karena pasokan dipengaruhi cuaca di wilayah sentra. Wilayah sentra cabai untuk DKI seperti Blitar, Kediri, Subang dan Kabupaten Bogor.

Baca juga: DKPKP gelar bazar cabai murah di pasar dan kantor kelurahan
Pedagang memilah cabai yang akan dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (16/12/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.
Info Harga 
DKPK DKI Jakarta melakukan pemantauan harga cabai rawit di 48 pasar tradisional di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.

Hasil pantauan hari ini, harga cabai rawit merah Rp80 ribu di antaranya ada di Pasar Klender SS, Pasar Kalibaru, Pasar Kelapa Gading, Pasar Pal Merah, Pasar Kalideres, Pasar Cengkareng, Pasar Lenteng Agung dan Pasar Pesanggrahan.

Pasar Johar Baru, Pasar Cempaka Putih, Pasar paseban, Pasar Ujung Menteng, Pasar Cinajtung, Pasar Pal Meriam, Pasal Ciplak, Pasar Pulo Gadung dan Pasar Perumnas Klender.

Selain itu Pasar Jatinegara, Pasar Kramatjati, Pasar Jatinegara, Pasar Pramuka, Pasar Minggu, Pasar Grogol, Pasar Jembatan Merah serta Pasar Senen Blok III-VI.

Sedangkan harga cabai Rp 85 ribu ada di Pasar Glodok, Pasar Tanah Abang Blok A-G, Pasar Cipete, Pasar Mampang Prapatan dan Pasar Pluit.

Harga cabai rawit merah Rp90 ribu terjadi di Pasar Anyer Bahari, Pasar Rawamangun, Pasar Koja Baru, Pasar Tomang Barat, Pasar Rumput, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Gondangdia, Pasar Mayestik dan Pasar Rawa Badak.

Baca juga: Telur dan cabai murah ada di lima pasar ini
Pedagang menata cabai yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). Bank Indonesia memperkirakan inflasi Januari akan mencapai 0,42 persen berdasarkan hasil survei pemantauan harga (SPH) hingga minggu keempat bulan ini, hal tersebut karena faktor naiknya harga sejumlah komoditas pertanian seperti cabai merah, bawang merah, beras, dan beberapa sayuran karena dampak musim penghujan yang berpengaruh pada panen. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aa. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Ada juga pasar yang menjual cabai rawit merah Rp68 ribu di Pasar Induk Kramatjati, Rp78 ribu di Pasar Sunter Podomoro, Rp75 ribu di Pasar Cibubur, Pasar Pondok Labu dan Pasar Jembatan Lima.

Untuk harga Rp70 ribu per kg, hanya ada di dua lokasi, yakni Pasar Pos Pengumben serta Pasar Pademangan Timur.

Sementara itu, untuk cabai jenis lain, seperti cabai merah kerinting, hijau kerinting, cabai merah besar, hijau besar, juga dijual dengan harga rata-rata DKI Jakarta Rp51.149. Sedangkan untuk harga tertinggi Rp65 ribu per kg di Pasar Mayestik dan terendah Rp35 ribu per kg di Pasar Jembatan Lima.

Cabai rawit hijau rata-rata Rp 76.192 per kg, harga tertinggi Rp 90 ribu per kg di Pasar Ikan Koja, dan terendah Rp55 ribu di Pasar Mayestik.

Untuk cabai merah besar rata-rata Rp50.977 per kg, harga tertinggi Rp70 ribu di Pasar Ciplak dan terendah Rp35 ribu di Pasar Jembatan Lima.

Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar