Rekind-Batan rancang teknologi pengolahan logam tanah jarang

id rekind,batan,logam tanah jarang,pupuk indonesia

Rekind-Batan rancang teknologi pengolahan logam tanah jarang

Penandatanganan kerjasama antara Direktur Pengembangan Usaha Rekind, Achmad Muchtasyar dengan Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Batan, Yarianto Sugeng Budi Susilo di Jakarta, Kamis, (21/1/2021). ANTARA/HO- PT Rekind.

Jakarta (ANTARA) - PT Rekayasa Industri (Rekind) bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bekerja sama mengembangkan rancangan teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) skala komersial.

Kolaborasi antarlembaga milik negara tersebut direalisasikan melalui penandatanganan kerja sama antara Direktur Pengembangan Usaha Rekind, Achmad Muchtasyar dengan Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Batan, Yarianto Sugeng Budi Susilo di Jakarta, Kamis.

"Kerjasama ini merupakan amanah besar yang diberikan negara kepada kami, sebagai upaya meningkatkan kemampuan perekonomian bangsa melalui perwujudan teknologi merah-putih untuk industri pengolahan LTJ," ujar Direktur Utama Rekind Alex Dharma Balen melalui keterangan tertulis.

Dikatakannya, kerjasama ini menjadi tahapan awal upaya Rekind sebagai satu-satunya Perusahaan Engineering, Procurement, Construction, Commisinoning (EPCC) milik bangsa untuk berkontribusi dalam pembangunan ekosistem industri LTJ nasional.

Dalam mewujudkan teknologi industri pengolahan LTJ, Batan lebih dahulu mengembangkannya dalam skala laboratorium dan pilot, selanjutnya bersama Rekind bersinergi untuk mengembangkannya hingga tahapan skala komersial yang diharapkan mampu menggerakkan sendi-sendi sektor bisnis negara.

Baca juga: Luhut akui dilema soal pengembangan logam tanah jarang, ini sebabnya

LTJ merupakan mineral ikutan yang terdapat dalam pertambangan mineral utama. Salah satu contoh sumber deposit utamanya yaitu monazite, merupakan mineral ikutan yang ada pada pertambangan timah. Saat ini baru tiga negara yang mengembangkannya di level bisnis, yaitu China, Australia dan Amerika Serikat.

Pemanfaatan LTJ menjadi perhatian Negara sejak 2018, hal itu ditandai dengan dibentuknya konsorsium oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Keputusannya Nomor 236/2018.

Produk turunan LTJ mampu mendukung peran di sektor otomotif di masa depan, terutama dalam menyediakan magnet untuk motor pada mobil listrik. Selain itu, juga berpotensi menunjang pengembangan sektor energi melalui panel surya efisiensi tinggi dan baterai dengan kemampuan penyimpanan energi yang besar.

LTJ juga memiliki peran besar dalam industri kesehatan, seperti pada alat Magnetic Resonance Imaging (MRI), serta industri pertahanan melalui cat anti radar.

Baca juga: Badan Geologi ungkap kandungan logam tanah jarang di lumpur Lapindo

"Maka dari itu, keterlibatan kami dalam mewujudkan teknologi industri ini merupakan bentuk kontribusi besar Rekind dalam menyiapkan Indonesia menghadapi era industri masa depan, karena LTJ memiliki produk yang bervariasi dan fleksibel untuk dikembangkan," lanjut Alex Dharma Balen.

Direktur Pengembangan Usaha Rekind, Achmad Muchtasyar menambahkan, kerjasama Rekind dan Batan akan fokus pada pengolahan monazite menjadi unsur LTJ yang sudah dimurnikan dan bahan material aktif untuk berbagai aplikasi turunannya.

Anak usaha PT Pupuk Indonesia tersebut akan berperan dalam perancangan proses agar teknologi yang sudah dikembangkan Batan di skala pilot tersebut dapat beroperasi secara efektif dan efisien pada skala komersial.

"Kami mendukung upaya pemerintah yang sedang melakukan pemetaan potensi LTJ, sehingga ketika diperlukan teknologinya sudah siap," tambahnya.

Baca juga: BATAN telah kuasai teknologi pemisahan mineral galian nuklir

 

Pewarta : Subagyo
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar