Separuh dari pendatang di China termasuk "silent carrier" COVID-19

id silent carrier, tanpa gejalal di China,orang tanpa gejala di China, kasus impor di China

Separuh dari pendatang di China termasuk "silent carrier" COVID-19

Petugas keamanan dan petugas kesehatan bersiaga 24 jam di depan hotel yang menjadi tempat karantina 200 penumpang pesawat Xiamen Airlines dari Jakarta, di Kota Fuzhou, China, Jumat (23/10/2020). ANTARA/M. Irfan Ilmie/aa.

Beijing (ANTARA) - Lebih dari separuh pendatang di China, baik warga negara setempat yang pulang kampung maupun warga negara asing yang kembali, termasuk kategori orang tanpa gejala COVID-19 yang bisa menularkan kepada banyak orang lain atau "silent carrier".

Dalam laporannya, Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular China (CCDC) yang beredar di sejumlah media setempat, Kamis, menyebutkan bahwa selama April-Oktober 2020, proporsi silent carrier makin banyak.

Beberapa penyumbang silent carrier terbesar adalah Filipina, Rusia, Singapura, dan Amerika Serikat.

Laporan yang berjudul "Infeksi Tanpa Gejala SARS-CoV-2 di antara Orang-orang yang Memasuki China pada 16 April hingga 12 Oktober 2020" mencatat 19,4 juta orang pendatang yang menjalani tes usap.

Baca juga: Militer Pakistan terbangkan kiriman pertama vaksin COVID-19 dari China
Baca juga: Tim WHO yang selidiki asal-usul pandemi bertemu ilmuwan China


Dari jumlah itu, 3.103 orang hasil tesnya dinyatakan positif. Sebesar 51,9 persen atau 1.612 orang yang positif merupakan orang tanpa gejala bahkan hingga memasuki hari ke-13 masa karantina.

Orang yang baru datang dari Filipina menjadi penyumbang kasus positif terbesar di China, yakni mencapai 16,1 persen. Disusul kemudian dari Rusia, Singapura, dan AS.

Keempat negara tersebut telah menyumbangkan 43,7 persen orang yang masuk China hasil tes usapnya positif, demikian Global Times.

Sementara itu, portal berita OneTube melaporkan beberapa kasus tanpa gejala bagi pendatang di beberapa daerah.

Seperti di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, pada 16 Januari 2021, seseorang yang baru datang dari Mesir hasil tesnya positif. Padahal tiga kali tes selama masa karantina di Chengdu, Provinsi Sichuan, hasilnya negatif.

Ada juga seorang perempuan yang baru datang dari Indonesia hasil tesnya positif ketika tiba di kampung halamannya di Yuncheng, Provinsi Shanxi, pada 26 Januari 2021, meskipun selama karantina di Nanning, Daerah Otonomi Guangxi, beberala kali hasil tesnya negatif.

Hal yang sama terjadi di Qingdao, Provinsi Shandong, terhadap orang yang baru pulang dari Filipina.

Baca juga: China akan sediakan 10 juta dosis vaksin COVID untuk insiatif COVAX
Baca juga: China tangkap jaringan vaksin palsu, sita 3.000 dosis

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar