BKIPM KKP pastikan produk perikanan di Semarang-Tegal bebas formalin

id produk perikanan,bebas formalin,tegal,semarang,kkp,bkipm

BKIPM KKP pastikan produk perikanan di Semarang-Tegal bebas formalin

Petugas BKIPM KKP memeriksa produk perikanan di pasar. ANTARA/HO-KKP/am.

Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Produk Kelautan dan Perikanan (BIPM) KKP memastikan bahwa produk perikanan yang terdapat di Semarang dan Tegal, Jawa Tengah, bebas dari bahan formalin.

"Hasil pengawasan dan pengujian kita selama 2020, (produk perikanan) di Tegal seluruhnya menunjukkan bebas formalin. Semarang juga menunjukkan hasil yang baik yaitu negatif Formalin," kata Kepala Balai KIPM Semarang, Raden Gatot Perdana dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, produk perikanan di wilayah Tegal dipastikan bebas formalin setelah serangkaian pengujian di Pasar Anyar, Pasar Pagi, Transmart dan Rita Supermall Kota Tegal.

Dari sekian tempat tersebut, petugas Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) mengambil ikan Pihi, Cumi-cumi, Kerapu, Kembung, Kakap, Udang, Layang dan Banyar sebagai sampel pengujian dalam kurun waktu 2020.

Baca juga: DKPKP DKI jamin ikan di Pasar Grosir Muara Angka aman

Tak hanya di Tegal, Gatot memastikan pula bahwa produk perikanan yang ada di Kota Semarang juga bebas dari formalin.

Selama 2020, petugas BKIPM melakukan pengawasan dan pengujian dari sampel ikan embung Banjar, Cumi-cumi, Ikan Sebelah, Kurisi, Selar, Udang, Belanak, Kerapu, Tongkol, Tunul, Daruna, Teri, Kakap Putih, Otak-otak Ikan, Bakso Seafood dan Kerang yang dijual di Transmart, Hypermart, Pasar Rejomulyo, Pasar Bulu dan Pasar Johar.

Kendati bebas formalin, petugas BKIPM mengidentifikasi munculnya bakteri yang mengindikasikan penurunan mutu produk perikanan seperti Angka Lempeng Total (ALT), E.coli dan Salmonella.

Untuk itu, Gatot menekankan pentingnya penerapan cara penanganan ikan yang baik (CPIB) kepada para penyuplai serta pelaku usaha di sentra perikanan.

"Kami terus menekankan rantai dingin dan penerapan CPIB, baik itu di tataran suplier maupun pelaku usaha di sentra produksi perikanan," tegasnya.

Baca juga: BPOM minta konsumen waspadai ikan berformalin dari Jawa

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menginginkan berbagai alat uji laboratorium yang esensial terkait ekspor perikanan dapat selalu dimutakhirkan dan dimiliki sendiri oleh KKP guna menjaga kinerja ekspor perikanan.

"Kita siapkan yang terbaik, kita beli kalau perlu," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat rapat bersama para pejabat Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Kelautan dan Perikanan (BKIPM) di Jakarta, Senin (11/1).

Melalui keterangan tertulis, Trenggono mengingatkan bahwa KKP menargetkan peningkatan kualitas produk hasil perikanan untuk menggenjot volume dan nilai ekspor di tahun 2021.

Ia menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut berupa pembaruan alat uji, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan pengawasan akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut.

Dengan pemutakhiran alat uji laboratorium, Menteri Trenggono ingin produk perikanan yang diekspor bebas virus dan patogen bahaya lainnya yang dapat mengganggu kesehatan pengonsumsi.

Menteri Trenggono menambahkan, peningkatan kualitas produk perikanan harus dimulai dari hulu sehingga tim BKIPM diminta agar rutin turun ke lapangan untuk memastikan proses produksi di unit-unit pengolahan ikan berjalan sesuai standar.

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar