Babel kembangkan budi daya kepiting bakau skala industri

id kepiting bakau

Babel kembangkan budi daya kepiting bakau skala industri

Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman Djohan saat rapat virtual dengan Direktur PT Sarana Hatchery Abadi, Peter Nugraha di Pangkalpinang, Rabu (10/2/2021). ANTARA/Aprionis/am.

Pangkalpinang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengembangkan budi daya kepiting bakau berskala industri untuk mendorong perekonomian masyarakat di tengah pandemi COVID-19.

"Pada tahun ini, kami bersama PT Sarana Hatchery Abadi mulai mengembangkan kepiting bakau di 13 lokasi," kata Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman Djohan saat rapat virtual dengan Direktur PT Sarana Hatchery Abadi, Peter Nugraha di Pangkalpinang, Rabu.

Ia mengatakan Bangka Belitung memiliki potensi budi daya kepiting bakau, namun potensi ini tidak menjadi apa-apa jika tidak dimulai dengan aksi nyata. oleh karena itu, pemprov memulai pengembangbiakan kepiting bakau skala industri untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Selama ini, kami memiliki program di kawasan hutan hanya digunakan untuk pemeliharaan bakau saja. Namun sering kali pemeliharaan tidak dilakukan dengan tertib. Bakau dibiarkan hidup dan tidak lagi diurus, yang penting daunnya masih ada, ya sudah dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Ia berharap dengan budi daya kepiting bakau ini, masyarakat ‘terpaksa’ memelihara hutan bakau untuk menjaga kehidupan kepiting bakau agar dapat berkembang biak dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

“Kami butuh solusi terbaik untuk menghidupkan kepiting, mulai dari sistem pembibitan, pembesaran hingga perkembangbiakan kepiting, kami ingin kepiting bisa diproduksi dalam skala masif, kalau bisa jadi komoditi Babel. Jadi, sistem budi daya seperti apa yang efektif untuk digunakan?” tanyanya.

Peter Nugraha selaku penasihat memberikan saran, “Kita harus berpikir secara industrial. Jadi pembesaran kepiting tidak bisa dilakukan secara asal. Berbeda dengan udang, kepiting lebih rumit dan lebih rawan mengalami kerugian dengan sistem hatchery. Namun, jika sudah bisa berkembang lebih besar akan lebih mudah perawatannya,” jelasnya.

Direktur PT Sarana Hatchery Abadi, Peter Nugraha mengatakan 13 lokasi yang sudah diajukan Pemprov Babel tidak bisa disamaratakan perawatannya. Perlu ada observasi lebih lanjut untuk mengetahui kebutuhan dari setiap lahan agar dapat mengembangkan kepiting dengan metode yang tepat.

“Saya juga memiliki semangat yang sama dengan Gubernur Babel untuk menjadikan kepiting sebagai komoditas Babel. Ke depan, saya akan kirim kan beberapa orang untuk memeriksa lokasi pengembangbiakan kepiting,” katanya.

Pewarta : Aprionis
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar