Ekonom: "Holding" ultramikro mudahkan mitigasi risiko kredit

id kredit ultramikro, holding ultramikro, induk usaha mikro, kredit umkm, kredit mikro, bank bri, kredit pegadaian

Ekonom: "Holding" ultramikro mudahkan mitigasi risiko kredit

Pekerja menata berbagai hasil produksi kerajinan di Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/1/2021). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan rencana pembentukan induk usaha atau holding usaha ultramikro tiga BUMN yakni PT Pegadaian, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam naungan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) akan memudahkan mitigasi risiko kredit.

"Mitigasi risiko jauh lebih baik dibandingkan masing-masing perusahaan,"  katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, mitigasi risiko yang lebih baik dan lebih mudah itu karena data yang dimiliki ketiga BUMN itu semakin sinkron, salah satunya menyangkut profil risiko nasabah.

Dengan risiko yang lebih optimal bisa dimitigasi, lanjut dia, maka pembiayaan kepada usaha mikro diharapkan juga akan semakin cepat.

Baca juga: Teten sebut holding BUMN ultra mikro permudah UMKM naik kelas

Tak hanya itu, lanjut dia, setelah konsolidasi ketiga BUMN itu, kemampuan penyaluran kredit kepada usaha mikro akan lebih kuat karena didukung permodalan yang besar.

"Ini akan menurunkan cost of fund yang sebelumnya dimiliki Pegadaian, PNM dan mungkin di BRI sehingga untuk pembiayaan mikro, suku bunga harusnya lebih atraktif,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, holding ultramikro tersebut juga diharapkan berkolaborasi dengan perusahaan teknologi keuangan atau fintech khususnya dalam penyaluran kredit misalnya peer to peer lending (P2P lending).

"Mungkin bisa kolaborasi dan saling melengkapi untuk proses kredit perlu ada kolaborasi dengan fintech, tentunya dengan profil risiko. Jadi ini bisa berkolaborasi atau pengembangan digital harus dipercepat karena orang mau fintech karena prosesnya cepat,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI mengatakan pembentukan holding dilatarbelakangi banyaknya pelaku usaha mikro tidak terlayani lembaga keuangan formal yakni sekitar 65 persen dari 54 juta pelaku usaha atau pekerja segmen ultramikro.

Padahal jumlah pelaku usaha mikro mendominasi lebih dari 98 persen dari total jumlah pelaku UMKM terbesar usaha besar di Indonesia.

Dengan adanya holding, potensi pendanaan lebih murah dengan target 29 juta usaha ultramikro pada 2024 dari yang saat ini baru mencapai sekitar 15 juta pelaku usaha ultramikro yang dilayani ketiga BUMN tersebut.

Selain itu, konsolidasi tersebut akan memberikan dampak salah satunya penurunan bunga pinjaman kepada nasabah.

Baca juga: Menkeu: Pemerintah bentuk "holding" dukung ekosistem ultramikro
Baca juga: Wamen BUMN: Pembentukan "holding" ultramikro sasar 57 juta nasabah


Pewarta : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar