Ekonom Indef yakini BSI jadi lompatan besar perbankan syariah

id bank syariah indonesia, bank syariah, keuangan syariah, BSI bank syariah

Ekonom Indef yakini BSI jadi lompatan besar perbankan syariah

Ilustrasi - Pegawai berjalan di Bank Syariah Indonesia (BSI) usai peresmian di Jakarta, Senin (1/2/2021). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.

Jakarta (ANTARA) - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Iman Sugema menyakini Bank Syariah Indonesia (BSI) akan menjadi lompatan besar dalam pengembangan perbankan syariah termasuk dalam mendongkrak pangsa pasar.

“Lompatan yang bisa dilakukan BSI, tentunya yang paling dirasakan adalah digitalisasi,” kata Iman Sugema dalam diskusi daring Indef terkait perbankan syariah di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, digitalisasi bisa diakselerasi terutama karena didukung permodalan yang kuat hasil merger tiga bank syariah yang merupakan perusahaan anak tiga bank BUMN.

BSI saat ini memiliki modal inti mendekati Rp21 triliun dengan basis nasabah mencapai sekitar 15 juta orang.

“Dalam melakukan transformasi digital, perlu modal dan jaringan konsumen besar. Jika bank modal di bawah Rp10 triliun, maka digitalisasi akan jauh lebih sulit,” katanya.

Sementara itu, terkait upaya mendongkrak pangsa pasar, Iman mengatakan merger bank syariah merupakan salah satu cara yang akan mendongkrak pangsa pasar.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) November 2020, pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia baru mencapai 6,33 persen, sedangkan sisanya dikuasai bank konvensional.

Padahal, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar merupakan peluang besar mengembangkan perbankan syariah di Tanah Air.

Menurut dia, selama ini perbankan syariah Indonesia lebih banyak bernaung di bawah bank konvensional sebagai induk usaha.

Dengan kondisi itu, lanjut dia, dari sisi ukuran keuangan menjadi lebih kecil sehingga cakupan layanan kepada nasabah juga terbatas baik variasi produk dan jenis layanannya, begitu juga investasi di teknologi juga tidak optimal.

Akibatnya, bank syariah yang berukuran kecil itu akan kesulitan mencari dana murah bahkan menaikkan suku bunga atau bagi hasil untuk mendapatkan dana murah sehingga kondisi itu menjadi tidak sehat bagi bank syariah.

Share akan cepat berkembang kalau dari awal, size lebih komparabel dengan bank konvensional yang besar,” katanya.

Di sisi lain, untuk mengembangkan bank syariah juga tidak terlepas dari peran para bankir top dan talenta lain, sehingga perlu disediakan insentif yang kompetitif.

“Kalau bank syariah bisa hire top bankir, maka dengan sendirinya perusahaan jauh lebih baik berkembang,” katanya.

Sebelumnya, per 1 Februari 2021, tiga bank syariah yang merupakan anak usaha bank BUMN merger menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Per Desember 2020, BSI memiliki aset Rp239,73 triliun, dengan total kelolaan dana pihak ketiga mencapai Rp209,9 triliun, pembiayaan Rp156,52 triliun dan laba bersih mencapai Rp2,19 triliun.

Baca juga: BSI bidik pembiayaan Rp272 triliun pada 2025
Baca juga: OJK ungkap empat strategi perbankan syariah menjadi raksasa
Baca juga: Erick : Hadirnya Bank Syariah Indonesia sebagai kesetaraan


Pewarta : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar