Solidaritas "people to people" RI-Palestina tak pernah padam

id RI-Palestina,hubungan,Sriwijaya,shalat ghaib,Gaza

Solidaritas "people to people" RI-Palestina tak pernah padam

Ulama Palestina Syeikh Dr Emad Abo Hozaifah memimpin shalat ghaib umat Islam di sebuah sekolah di Kota Jabalia, Gaza Utara, Gaza, Palestina, Selasa (12/1/2021) untuk jatuhnya pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. ANTARA/HO-Abdillah Onim

Jakarta (ANTARA) - Tak ada yang menyangkal bahwa hubungan antara Republik Indonesia (RI) dan Palestina, baik di tingkat pemerintahan dan juga pada skala people to people sejak sebelum Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak hanya sangat erat, namun juga terjaga dengan baik.

Untuk menggambarkan situasi itu amat mudah karena hubungan kedua negara terekam baik dari aspek kesejarahan.

Pun, kini di era modern, hubungan kedua negara dan antarmasyarakat juga bisa dirujuk pada berbagai laporan nasional kedua negara atau bahkan di media massa antarbangsa.

Menurut pernyataan yang dirilis kantor berita Pemerintah Palestina WAFA pada pertengahan Desember 2020 dilaporkan bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan penghargaannya kepada Presiden Joko Widodo atas sikap tegas Indonesia menolak normalisasi hubungan dengan Israel.

Laporan itu menyatakan Presiden Abbas menyampaikan penghargaan atas posisi Indonesia yang menolak tegas normalisasi dengan Israel dan komitmen Indonesia untuk mencapai perdamaian terlebih dahulu berdasarkan solusi dua negara sesuai dengan resolusi-resolusi dan hukum internasional.

Pada percakapan antara dua kepala negara itu Palestina menyatakan terima kasih atas sikap Indonesia yang selama ini mendukung hak-hak negaranya dan terus mendukung masalah Palestina di forum-forum internasional, khususnya selama keanggotaan Indonesia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sedangkan Presiden Joko Widodo kembali menegaskan komitmen tegas Indonesia terhadap Palestina kepada Presiden Abbas.

WAFA juga mengutip pernyataan Jokowi bahwa walaupun banyak terjadi perubahan yang begitu cepat di Timur Tengah, Indonesia tidak akan mengambil langkah apapun untuk normalisasi dengan Israel hingga terwujudnya perdamaian abadi dan komprehensif antara rakyat Palestina dan Israel.

Latar yang muncul itu karena sebelumnya dipicu laporan stasiun televisi Israel, Channel 12, yang dikutip surat kabar The Times of Israel, Minggu (13/12), di mana seorang sumber diplomat di negara itu menyatakan mereka kini tengah menjajaki peluang normalisasi hubungan dengan Indonesia dan Oman.

Informasi itu beredar setelah Israel berhasil melakukan normalisasi hubungan dengan Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Sudan dan Maroko. Karena itu, sumber itu menyebut Negeri Zionis tersebut sedang berusaha mendekat kepada Oman dan Indonesia.

Baca juga: Indonesia beri bantuan Rp32,1 miliar untuk Palestina

Penegasan

Selanjutnya, dalam press briefing virtual Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Rabu (16/12), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo dengan memberikan penegasan lagi soal tidak ada niatan membuka hubungan, terlebih hubungan diplomatik dengan Israel.

Sesuai arahan Presiden itu, ia menjelaskan dua hal, yakni pertama soal tidak adanya niat untuk membuka hubungan diplomatik, dan kedua, Indonesia akan terus mendukung kemerdekaan Palestina sehingga akan tetap berpegang pada solusi dua negara dan parameter internasional lain yang telah disepakati.

Menlu menyatakan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina berdasarkan solusi dua negara dan parameter internasional lain yang disepakati.

Alhasil, pernyataan lugas yang disampaikan oleh dua kepala negara dan kemudian digarisbawahi oleh Menlu Retno Marsudi itu membuyarkan klaim-klaim terkait soal normalisasi hubungan itu.

Baca juga: Normalisasi sejumlah negara dengan Israel, kado pahit bagi Palestina
Baca juga: Konser amal digelar Konsorsium Indonesia untuk sekolah Palestina


Kegiatan Amal Palestina

Di tingkat hubungan antarmasyarakat pun, hubungan RI-Palestina juga terus terjaga hingga saat ini, terbukti banyak kegiatan amal bagi masyarakat Palestina di Indonesia selalu disambut antusias sehingga tidak sedikit bantuan rakyat Indonesia yang terus mengalir ke Palestina sampai saat ini.

Sebagai contoh, begitu antusiasnya, Muslim Indonesia saat akan digelar konser amal peduli Palestina di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 6 September  2019 mampu mengumpulkan donasi sebesar Rp1 miliar. Konser amal itu diinisiasi Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin bekerja sama dengan Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP) itu. KNRP juga menggelar konser serupa di Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala.

Ulama Palestina Syeikh Nashef Nashir Abdullah yang hadir mengungkapkan rasa haru atas kepedulian warga Muba terhadap umat Muslim di Palestina. "Saya datang jauh dari Aqso langsung ke Muba, saya bangga dan terharu terhadap respon dan kepedulian Muba untuk Palestina," katanya.

Banyak kegiatan amal untuk Palestina di tempat lain selalu mendapat sambutan hangat rakyat Indonesia, bahkan sejumlah penggalangan donasi untuk Palestina secara daring juga masih terus aktif termasuk untuk pembangunan lanjutan Rumah Sakit Indonesia di Gaza.

Rumah sakit yang diresmikan pada 27 Desember 2015 oleh Menteri Kesehatan Palestina Abdeen itu, 100 persen sumbangan rakyat Indonesia dan sudah melawat ribuan rakyat Palestina.  Begitu cintanya rakyat Indonesia seakan rakyat Palestina menjadi anak emas bagi Indonesia.

Sehingga tidak aneh ketika terjadi musibah jatuhnya Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ-182 rute Jakarta-Pontianak pada 9 Januari 2021, rakyat Palestina juga turut berduka.

Pesawat Sriwijaya Air itu jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, di antara Pulau Lancang dan Pulau Lak dengan korban 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru.

Atas musibah itu, pendiri Lembaga Sosial Kemanusiaan Nusantara Palestina Center (NPC) yang saat ini menetap di Jalur Gaza Palestina, Abdillah Onim mengoordinasikan pelaksanaan shalat ghaib untuk para korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air itu.

Baca juga: Abbas sambut sikap Indonesia yang tolak normalisasi dengan Israel
Baca juga: ACT kumpulkan Rp418 juta donasi di konser amal Palestina


Shalat Ghaib

Shalat ghaib dan doa bersama dilakukan sebagai bentuk duka cita rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza kepada keluarga korban kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ 182 itu.

Shalat ghaib dan doa bersama yang digelar 12 Januari 2021 di halaman sebuah sekolah di Kota Jabalia Gaza Utara itu dihadiri ratusan Muslim Palestina di Gaza.

Sebelum memimpin shalat ghaib, ulama Palestina Syeikh Dr Emad Abo Hozaifah dengan napas tersendat menahan sedih kepada jamaah Muslim Palestina itu, ia menyatakan merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena saudara jauh, yakni rakyat Indonesia sedang berduka.

"Kami pun rakyat Palestina juga berduka atas musibah saudara kita di Indonesia," katanya.

Emad Abo Hozaifah menceritakan pernah ke Indonesia dan merasakan betul kebaikan rakyat Indonesia.

Ia mengungkap, orang Palestina saat berada di Indonesia merasa sebagai orang-orang yang sangat dimuliakan dan diistimewakan. "Bila mereka mendengar ada orang Palestina maka mereka akan mendatangi dan memeluk, kalian saudaraku," katanya.

Seraya mengutip Hadist Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam (SAW) bahwa "Setiap Muslim yang gugur di tengah laut atau tenggelam, mereka tergolong syuhada dan 'husnul khatimah'," ia mengajak jamaah mendoakan semua korban.

Ustadzah Huda, perempuan guru hafidz Quran pun menyampaikan duka mendalam.

Atas nama Muslimah dan wanita Palestina, Ustadzah Huda juga mengucapkan rasa solidaritas dan mendoakan arwah para korban jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 182.  "Kami sangat merasakan apa yang kalian rasakan," katanya.

Sedangkan guru hafidz Quran lainnya, Omar menyatakan dari lubuk hati yang paling dalam para guru di Palestina benar-benar merasakan duka yang dalam, dan berdoa semoga yang gugur "husnul khatimah".

Tergambar jelas dari sejumlah peristiwa, betapa hubungan erat dan solidaritas antara RI-Palestina, mulai dari pemerintahan hingga antarmasyarakat tak pernah padam.

Itu menjadi sangat mendasar hingga akhirnya bisa mengantar Palestina menjadi cita-cita yang ditunggu -- setelah sekian lama dijajah dan diduduki zionis Israel -- yakni menjadi negara dan bangsa merdeka di Tanah Air-nya sendiri.

Baca juga: Kepulangan mujahid RS Indonesia dari Gaza di tengah pandemi
Baca juga: Normalisasi Arab-Israel dan potret buram Palestina merdeka

 

Pewarta : Andi Jauhary
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar