KKP: Perlu pemetaan tambak garam di Pulau Madura

id tambak garam,pulau madura,kkp

KKP: Perlu pemetaan tambak garam di Pulau Madura

Ilustrasi - Aktivitas petambak garam. ANTARA/HO-KKP/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan pentingnya mengembangkan riset dan inovasi di sektor kelautan dan perikanan Madura termasuk dalam melakukan pemetaan tambak garam yang ada di pulau tersebut.

"Khusus untuk Madura, perlu dilakukan pemetaan tambak di pulau tersebut untuk menentukan tambak yang aktif dan yang tidak," kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja, dalam siaran pers di Jakarta, Minggu.

Selain itu, ujar dia, perlu adanya kampung inovasi garam mulai dari hulu sampai hilir di beberapa lokasi di Madura sebagai model percontohan.

Terkait inovasi garam ini, Sjarief menyatakan pihaknya telah melakukan riset melalui Instalasi Pengembangan Sumber Daya Air Laut (IPSAL) Pamekasan, Madura, di bawah Pusat Riset Kelautan BRSDM.

Baca juga: Kemenperin jaga pasokan bahan baku garam untuk sektor industri

"Salah satu inovasi yang dihasilkan adalah Pompa Air Tambak Garam Aplikasi Kincir Sumbu Vertikal, bekerja sama dengan Bank Negara Indonesia. Inovasi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kecelakaan yang dialami oleh petambak akibat terbentur bilah kincir konvensional hingga mengakibatkan kematian," kata Sjarief.

Dengan mengaplikasikan kincir sumbu vertikal, lanjutnya, selain aman, juga tahan terhadap badai dan perubahan arah angin. Sebagai uji respons ketahanan, alat ini dipasang di 10 tempat tambak garam rakyat.

IPSAL juga bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, dalam pembinaan dan pendampingan produksi garam rekristal. Kerja sama sejak 2018 ini merupakan rangkaian dukungan program Pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk menciptakan 10.000 lapangan kerja.

"Masyarakat Desa Bunder dan Desa Pandemawu Barat, Pamekasan, juga menggunakan inovasi alat dan metode pemurnian garam rekristal sistem rebus memanfaatkan kalori sampah sejak 2020. Inovasi ini merupakan Penerapan Teknologi Adaptif Lokasi (PTAL) hasil riset kelautan yang dilakukan IPSAL," papar Sjarief Widjaja.

Ia mengatakan, pihaknya juga telah membuat konsep technopark, yaitu kawasan bangunan yang diperuntukan bagi penelitian dan pengembangan sains dan teknologi berdasarkan kepentingan bisnis.

Baca juga: KKP luncurkan paket inovasi untuk hasilkan produk garam berkualitas

Technopark bertujuan untuk mendorong pemerintah daerah, dalam rangka pengembangan riset untuk menghasilkan penemuan baru dan kerja sama antara pemangku kepentingan serta memperoleh keuntungan dari pemanfaatan teknologi dan transfer teknologi yang kuat antara pemerintah, industri, universitas, dan masyarakat sehingga meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Selain itu, ada pula inovasi alat Pemantau Lingkungan Tambak Garam (Pentagar). “Pentagar diharapkan dapat memudahkan para peneliti untuk menganalisis berbagai fenomena iklim, cuaca dan parameter lingkungan tambak terkait produksi garam secara khusus maupun dinamika atmofser di wilayah pesisir secara umum," ucapnya.

Sebagaimana diwartakan, Kementerian Perindustrian berupaya menjaga pasokan bahan baku garam yang dibutuhkan oleh berbagai subsektor industri sehingga dapat memacu pemulihan ekonomi nasional dari dampak pandemi COVID-19.

“Garam merupakan komoditas strategis yang penggunaannya sangat luas mulai dari industri petrokimia, pulp dan kertas, farmasi dan kosmetik, pengeboran minyak, aneka pangan, hingga untuk konsumsi rumah tangga,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Muhammad Khayam.

Menurut Khayam, dampak luasnya penggunaan garam serta pertumbuhan industri penggunanya yang cukup signifikan adalah meningkatnya kebutuhan garam di Indonesia. Pada tahun 2021, diproyeksi kebutuhan garam nasional mencapai 4,6 juta ton, yang sebagian besar (84 persen) merupakan kebutuhan dari industri manufaktur.

“Dari total 4,6 juta ton kebutuhan garam nasional tersebut, sebanyak 2,4 juta ton atau 53 persen merupakan kebutuhan untuk sektor chlor alkali plant (CAP) yang meliputi industri petrokimia, pulp dan kertas,” tuturnya.

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar