Demokrat Pamekasan gelar doa keselamatan bangsa dan keutuhan partai

id Demokrat Pamekasan,Partai Demokrat

Demokrat Pamekasan gelar doa keselamatan bangsa dan keutuhan partai

Jajaran Pengurus Partai Demokrat Pamekasan, Jawa Timur, usai acara doa bersama keselamatan bangsa dan konsolidasi mendukung keutuhan partai di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono, di Pamekasan, Minggu. ANTARA/Abdul Aziz

Pamekasan (ANTARA) - Jajaran Partai Demokrat di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Minggu, menggelar doa bersama untuk keselamatan bangsa serta mendoakan keutuhan partai pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kini sedang diguncang isu kudeta.

"Semoga melalui doa bersama ini, semua persoalan bangsa kita, termasuk persoalan internal partai kami ini bisa segera teratasi," kata Ketua DPC Partai Demokrat Pamekasan, Hermanto, saat menyampaikan sambutan di acara itu.

Baca juga: Survei: Elektabilitas Partai Demokrat melonjak

Sebelum acara doa bersama, jajaran pengurus dan kader partai terlebih dahulu menggelar kataman Al Quran yang diikuti perwakilan pengurus dari 13 kecamatan se-Pamekasan, dan bakti sosial berupa santunan kepada anak yatim dan fakir miskin.

Hermanto menjelaskan, mereka terpanggil berikhtiar ikut mendoakan agar persoalan bangsa segera selesai, sebagai bentuk tanggung jawab moral Demokrat yang merupakan partai nasionalis-religius, terbuka, dan partai tengah yang menjunjung tinggi pluralisme, serta peduli pada rakyat kecil dan keutuhan bangsa Indonesia.

Baca juga: AHY: Gerakan dorong KLB Partai Demokrat tidak terkait Presiden Jokowi

Bagi Partai Demokrat, kata dia, ancaman perpecahan dalam bentuk apapun di negara ini, merupakan ancaman pula bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena semua elemen yang ada di Indonesia merupakan bagian dari negara bangsa.

Demikian juga dengan ancaman perpecahan melalui rencana kudeta yang dilakukan sebagian kader Partai Demokrat terhadap kepemimpinan AHY.

Dalam pandangan Hermanto, upaya kudeta itu inkonstitusional, tidak mendidik dan menciderai regulasi berpolitik partai, sehingga perlu diantisipasi, bahkan termasuk penghianatan pada keputusan bersama yang telah disepakati di forum resmi pengambilan keputusan tertinggi partai, yakni Kongres.

Baca juga: Pengamat: Demokrat dan AHY bisa jadi "role mode" berpolitik anak muda

"Maka dari itu, kami di DPC Demokrat Pamekasan ini, mendukung langkah ketua umum DPP Demokrat memecat kader penghianat yang seperti itu, demi untuk menjaga marwah partai dan mengamankan hasil Kongres V Jakarta yang telah menunjuk AHY sebagai ketua umum," katanya.

Kongres Partai Demokrat yang digelar pada Maret 2020 telah menyepakati secara aklamasi AHY sebagai ketua umum. "Jadi, AHY sebagai ketua umum Partai Demokrat ini harga mati," ujarnya.

Baca juga: Pengamat: Isu kudeta dongkrak elektabilitas Demokrat hingga 2 persen

Sebelumnya DPP Partai Demokrat telah memecat tujuh orang kadernya yang diketahui melakukan perbuatan tingkah laku buruk dan mengancam keutuhan partai. Masing-masing Darmizal, Yus Sudarso, Tri Yulianto, Jhoni Allen Marbun, Syofwatillah Mohzaib, Ahmad Yahya, dan Marzuki Alie.

Baca juga: Marzuki Alie dkk diberhentikan sebagai anggota Partai Demokrat

Alie dipecat karena dianggap melanggar etika, sedangkan enam kader lainnya dinyatakan terbukti melakukan perbuatan tingkah laku buruk yang merugikan Partai Demokrat dengan cara mendiskreditkan, mengancam, menghasut, mengadu domba, melakukan bujuk rayu dengan imbalan uang dan jabatan.

Selanjutnya menyebarluaskan kabar bohong dan fitnah dengan menyampaikan kepada kader dan pengurus Partai Demokrat di tingkat pusat dan daerah, baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa Partai Demokrat dinilai gagal.

Baca juga: Survei NEW INDONESIA: Elektabilitas Demokrat-PKS-PSI naik PDIP anjlok

Atas dasar itu, maka DPP Demokrat melakukan pemecatan, dan keputusan itu sesuai dengan keputusan dan rekomendasi Dewan Kehormatan Partai Demokrat yang telah melakukan beragam agenda rapat yang sidangnya digelar dalam sebulan terakhir ini.
 

Pewarta : Abd Aziz
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar