BMKG: Waspada gelombang hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia

id Bmkg maritim, Peringatan dini gelombang tinggi, nelayan, masyarakat pesisir

BMKG: Waspada gelombang hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia

Nelayan berusaha menghidupkan mesin perahunya setelah perahu itu terseret ombak di Perairan Baubau bagian Selatan di Kecamatan Kokalukuna, Baubau, Sulawesi Tenggara, Senin (15/2/2021). BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari mengeluarkan surat peringatan dini gelombang tinggi di sejumlah perairan di wilayah Sulawesi Tenggara dengan tinggi gelombang laut mencapai 2,5 meter. ANTARA FOTO/Jojon/hp.

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini untuk mewaspadai  potensi gelombang tinggi hingga empat meter di sejumlah perairan Indonesia pada 1-2 Maret 2021.

“Terdapat Siklon Tropis Marian di Samudra Hindia barat daya Lampung, yang berdampak pada ketinggian gelombang di Samudra Hindia barat daya Lampung dan selatan Banten,” ujar Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo di Jakarta, Senin.

Gelombang tinggi sekitar 2,5-4 meter berpotensi terjadi di beberapa perairan Indonesia di antaranya perairan barat Pulau Enggano, perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai - Lampung, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Banten - Lombok, Selat Bali - Lombok - Alas bagian selatan, dan Samudra Hindia selatan Banten hingga Nusa Tenggara Barat.

Baca juga: BMKG peringatkan beberapa wilayah berpotensi hujan lebat hari ini

Sementara, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter berpeluang terjadi di perairan utara Sabang, perairan barat Aceh, perairan barat Simeuleu - Kepulauan Mentawai, perairan barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Aceh - Kepulauan Nias, perairan selatan Sumbawa - Pulau Sawu, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan.

Kemudian berpotensi terjadi pula di perairan Kupang - Pulau Rotte, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan Pulau Sumba - Pulau Rote, Laut Banda, Perairan Kepulauan Letti - Kepulauan Tanimbar, Laut Arafuru, perairan Yos Sudarso - Merauke, Laut Sulawesi bagian timur, perairan utara Kepulauan Sangihe - Kepulauan Talaud, perairan utara dan timur Halmahera, Laut Maluku, Laut Halmahera, perairan utara Papua Barat - Papua, dan Samudra Pasifik utara Halmahera - Papua.

Baca juga: BMKG: Terdapat 13 titik panas di Sumut

Adanya gelombang tinggi, kata Eko, dipengaruhi pola angin di wilayah Indonesia bagian utara pada umumnya bergerak dari barat laut - timur laut dengan kecepatan angin berkisar 5-20 knot.

Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari barat daya - barat laut dengan kecepatan angin berkisar 5 - 25 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Makassar bagian selatan, Perairan barat Sulawesi selatan, Laut Flores, Teluk Bone, Laut Banda bagian barat, Laut Arafuru bagian timur, Perairan selatan Merauke.

Kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

Baca juga: BMKG keluarkan peringatan dini hujan disertai petir Kepulauan Seribu

BMKG selalu mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, terutama bagi nelayan yang beraktivitas di laut.

“Terkait tinggi gelombang, aktivitas masyarakat pesisir yang berkaitan dengan kegiatan di laut dapat menyesuaikan diri. Kemudian nelayan agar tidak memaksakan diri beraktivitas di laut jika kondisi cuaca membahayakan mereka,” ujar Eko.

Pengguna moda transportasi laut diharapkan memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran seperti perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter).

Kemudian kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter), kapal ferry (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter) dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar*l (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 meter).

Baca juga: BPBD Lebak minta warga waspada hujan lebat disertai angin kencang

Baca juga: BPBA catat luas lahan terbakar di Aceh mencapai 107 hektare

Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar