BI Bali: Harga cabai rawit tinggi jelang Nyepi bisa picu inflasi

id bank indonesia,cabai rawit merah,inflasi bali

BI Bali: Harga cabai rawit tinggi jelang Nyepi bisa picu inflasi

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda (tengah) saat menyampaikan Edukasi Kebanksentralan kepada para awak media. ANTARA/Rhisma/am.

Denpasar (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali memproyeksikan tingginya harga cabai rawit merah menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1943 akan menjadi salah satu pemicu inflasi pada Maret 2021.

"Dari survei pemantauan harga yang dilakukan pada minggu pertama Maret 2021, komoditas yang harganya naik saat ini ada cabai rawit merah, daging babi, dan bawang merah," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda dalam acara Capacity Building Media bertajuk Edukasi Kebanksentralan di Denpasar, Selasa.

Selain tiga komoditas tersebut, ujar Rizki, permintaan canang sari pada setiap hari raya di Bali juga selalu naik, termasuk menjelang Nyepi yang jatuh pada 14 Maret mendatang.

"Canang sari termasuk core inflation. Bahkan pada Nyepi tahun-tahun sebelumnya harga telur ayam juga selalu naik," ujarnya didampingi Deputi Direktur KPwBI Provinsi Bali Donny Heatubun dan Manajer KPwBI Bali Remon Samora.

Baca juga: Anggota DPR: Berdayakan petani lokal stabilkan harga cabai

Khusus mengenai harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional di Bali saat ini untuk per kilogram bahkan sudah di atas Rp120 ribu.

Agar potensi inflasi yang disebabkan cabai rawit merah tidak semakin tinggi, pihaknya menyarankan masyarakat mengurangi dari sisi "demand" atau permintaan dengan mengganti jenis cabai yang lain seperti cabai rawit hijau yang harganya tidak begitu tinggi.

Saat demand turun, lanjut dia, harganya otomatis akan turun. Selain itu, tentu dengan menambah pasokan. masyarakat dapat melakukannya dengan mulai turut menanam cabai rawit merah dengan memanfaatkan halaman rumah maupun lahan kosong.

"Logikanya, dengan menambah pasokan di setiap halaman rumah, masyarakat tidak perlu lagi membeli ke pasar, sehingga harganya pun berangsur-angsur akan turun. Pemerintah Kabupaten Karangasem misalnya, bahkan sudah menginstruksikan masyarakatnya untuk menanam komoditas yang berpotensi memicu inflasi," ucap Rizky.

Baca juga: Produksi cabai di Kabupaten Madiun turun 50 persen akibat cuaca

Langkah berikutnya, kata dia, melalui kerja sama antardaerah (baik antarprovinsi ataupun kabupaten/kota untuk memenuhi pasokan cabai rawit di Pulau Dewata.

Di sisi lain, yang tidak kalah penting dengan mengoptimalkan pemanfaatan mesin controlled atmosphere storage (CAS) seperti yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Badung.

"Tugas pemerintah daerah sebenarnya untuk mengusahakan tersedianya CAS ini, sehingga bawang dan cabai ketika panen bisa disimpan lebih lama. Dengan disimpan di CAS, ketika harga komoditas tertentu naik, komoditas yang disimpan itu bisa dikeluarkan sehingga harganya tidak melonjak terlalu tinggi," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rizky banyak mengulas mengenai peran dan fungsi Bank Sentral, visi misi Bank Indonesia, tugas dan wewenang Bank Indonesia, kebijakan moneter Bank Indonesia, hingga fungsi Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah.

Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar