Target IDI tekan angka kematian tenaga kesehatan hingga 50 persen

id IDI,Kematian nakes,COVID-19,dokjter,perawat,aa

Target IDI tekan angka kematian tenaga kesehatan hingga 50 persen

Tenaga kesehatan berjalan untuk pergantian tugas jaga di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat (26/2/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akan terus berupaya untuk menekan angka kematian tenaga kesehatan (nakes) dari terinfeksi COVID-19 hingga mencapai 50 persen.

"Jumlah nakes gugur semakin banyak, dokter sudah 325 orang, perawat di atas 200 orang, dikhawatirkan melumpuhkan pelayanan. Targetnya dalam 3 - 6 bulan bisa kita turunkan sampai 50 persen, dan angka terkepaparan hingga 30 persen," kata Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI dr Daeng Muhammad Faqih dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Jakarta, Selasa.

Dalam rangka mencegah keterpaparan nakes terhadap COVID-19, ia menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan pelatihan khusus keselamatan bagi nakes, memberikan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja, hingga menerapkan sistem pencegahan kelelahan.

"Untuk yang terlanjur terinfeksi kita tetap memberikan respon membantu ketersediaan fasilitas alat maupun obat yang dibutuhkan," katanya.

Di samping itu, lanjut dia, pihaknya juga akan terus mendorong penerapan protokol kesehatan diberlakukan secara ketat, baik itu dengan mengubah perilaku di pelayanan kesehatan maupun memodifikasi lingkungan di tempat praktik kerja nakes.

"Ini respon secara nasional, kita lakukan untuk membendung angka kematian yang tinggi pada nakes yaitu implementasi penurunan pada mortality sampai 50 persen," katanya menegaskan.

Ia mengatakan bahwa IDI memiliki sejumlah kegiatan utama dalam rangka menjaga nakes yang terpapar, diantaranya memberikan bantuan obat-obatan khusus, membantu mencari tempat rawat inap hingga membantu pemeriksaan laboratorium.

"Bahkan kalau membutuhkan plasma konvalesen kita bantu juga," katanya.

Daeng juga mengatakan jika terdapat nakes terindikasi positif antigen pihaknya akan segera meminta untuk melakukan tes PCR SARS-COV-2.

"Kalau dinyatakan positif maka diharuskan segera dilakukan rontgen agar segera diketahui apakah ada pneumonia dan menghindari 'happy hypoxia'," katanya.

"Happy hypoxia" merupakan kondisi kurangnya oksigen dalam darah namun pasien tidak menunjukkan gejala atau keluhan apapun.

Ia menambahkan jika terdapat nakes positif bergejala atau tanpa bergejala tapi rontgen menunjukkan "happy hypoxia" maka diwajibkan rawat inap.

"Dengan begitu kita dapat memberikan antivirus lebih awal," demikian Daeng Muhammad Faqih.

Baca juga: Mitigasi IDI sebut 363 tenaga medis wafat terinfeksi COVID-19

Baca juga: Wakil Ketua MPR prihatin jumlah dokter wafat karena COVID-19 meningkat

Baca juga: PPNI berduka atas wafatnya enam perawat pasien COVID-19

Baca juga: Heri jadi perawat pertama di RSPI Sulianti yang wafat akibat COVID-19


Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar