Polda Jatim ungkap kasus prostitusi daring anak di bawah umur

id polda jatim,prostitusi anak,tim siber

Polda Jatim ungkap kasus prostitusi daring anak di bawah umur

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko (tengah) di sela konferensi pers kasus prostitusi anak di bawah umur di Mapolda Jatim di Surabaya, Rabu (10/03/2021). (ANTARA Jatim/Willy Irawan)

Surabaya (ANTARA) - Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur mengungkap kasus prostitusi daring yang korbannya anak di bawah umur dengan menangkap warga Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan berinisial BD (39).

"Penangkapan bermula dari tim melakukan operasi siber di media sosial," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko di Surabaya, Rabu.

Wadirreskrimsus Polda Jatim AKBP Zulham Effendy mengungkapkan, kepada penyidik tersangka mengaku sudah melancarkan aksinya sejak November 2020.

Baca juga: Polisi Kediri ungkap praktik prostitusi libatkan anggota keluarga
Baca juga: Polisi bekuk pria gunakan uang palsu untuk prostitusi di Bandung
Baca juga: Polisi limpahkan berkas perkara ABG di Rejang Lebong jadi muncikari


BD melibatkan korban berinisial M yang ditawarkannya di media sosial Twitter, kemudian dilanjutkan dengan WhatsApp untuk transaksi prostitusinya.

"Dia menawarkan threesome, satu wanita dan dua laki-laki dengan bayaran Rp300 ribu (diberikan ke korban)," kata Zulham.

Terkait motif yang dilakukannya, BD mengaku bahwa terinspirasi dari film porno, dan dia pun berfantasi untuk bisa "main" bersama laki-laki lain.

Ketika menawarkan ke kliennya, BD juga mengklaim kalau M adalah istrinya.

"Dari keterangan bilang istrinya. Laki-laki hidung belang yakin mau, korban juga minta foto kliennya. Apabila sepakat ditentukan satu tempat (hotel). BD sudah tiga kali melibatkan M," tutur dia.

Selain menangkap tersangka, kata dia, polisi juga menyita sejumlah barang bukti yakni ponsel milik tersangka dan korban.

Atas perbuatannya, pria kelahiran Bojonegoro terjerat Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE Jo Pasal 296 KUHP. Ancaman hukumannya enam tahun penjara atau denda Rp1 miliar.

Pewarta : Fiqih Arfani/Willy Irawan
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar