LPS: Likuiditas perbankan cukup tapi pertumbuhan kredit perlu didorong

id LPS,Kredit,DPK,Simpanan

LPS: Likuiditas perbankan cukup tapi pertumbuhan kredit perlu didorong

Dokumentasi - Tangkapan layar - Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam jumpa pers virtual terkait penurunan tingkat bunga penjaminan di Jakarta, Selasa (24/11/2020). ANTARA/Dewa Wiguna.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Komisioner Lembaga penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, likuiditas perbankan saat ini menunjukkan kondisi yang relatid cukup yang diindikasikan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Januari 2021 sebesar 10,57 persen.

"Namun, pertumbuhan kredit masih perlu didorong untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional di mana saat ini angka pertumbuhan kredit sebesar minus 1,92 persen year on year," kata Purbaya melalui keterangan di Jakarta, Rabu.

Purbaya menuturkan, LPS, ikut menjaga simpanan industri perbankan agar tumbuh stabil melalui cakupan program penjaminan yang kredibel dan terpercaya.

Menurut dia, suku bunga kredit perlu untuk terus didorong penurunannya dan karena setiap sektor ekonomi rill mengalami tantangan yang berbeda, sehingga perlu dorongan kebijakan yang berbeda pula.

"Kesinambungan kebijakan akan mempengaruhi perbaikan perekonomian, oleh karena itu kita harus menggunakan segala instrumen yang ada untuk mendukung pemulihan ekonomi," katanya.

LPS dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang lain, katanya, akan terus menjalin sinergi kebijakan dan berbagai langkah stimulus. Sinergi tersebut yang menjadi fokus KSSK sekarang.

"Pemerintah dan KSSK telah dan akan terus berupaya secara maksimal untuk memitigasi dampak akibat pandemi COVID-19 di semua sisi melalui berbagai kebijakan terpadu," ujar Yudhi.

Purbaya menegaskan, LPS berkomitmen menjaga stabilnya industri perbankan dan perekonomian nasional dengan berbagai kebijakan yang dijalankan saat ini. Ia optimistis ekonomi nasional akan pulih dan bahkan tumbuh lebih baik.

"Saat ini kita memang belum pulih sepenuhnya, tetapi sudah ada tanda-tanda perbaikan. Dampak COVID-19 terhadap ekonomi sempat berpengaruh besar, tetapi perlahan kita mulai bisa mengendalikan. Kebijakan yang kita laksanakan saat ini relatif baik untuk mencegah Indonesia untuk jatuh lebih dalam ke jurang resesi," katanya.

Menurut Purbaya, respons pemerintah dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomian sudah tepat.

Apabila dibandingkan dengan berbagai negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang baik, terlihat dari data, pertumbuhan ekonomi kita minus 2,07 persen sepanjang 2020, sementara Singapura minus 5,75 persen, Amerika Serikat minus 3,5 persen, dan Jerman minus 5 persen.

"Dengan adanya program vaksinasi dan pembatasan sosial, pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada triwulan IV 2020 mulai menunjukkan perbaikan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional," ujar Purbaya.

Purbaya mengatakan, ada beberapa indikator kegiatan usaha dan konsumsi yang menunjukkan perbaikan namun masih memerlukan dorongan untuk pulih lebih cepat.

Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang sebelumnya menunjukkan grafik penurunan, terutama pada April 2020 di mana hanya tumbuh sekitar 30 persen, sekarang grafiknya terus mengalami peningkatan dan pada Februari tahun ini angka pertumbuhannya sebesar 50,9 persen.

Sedangkan penjualan kendaraan bermotor, setelah mengalami penurunan signifikan pada pertengahan 2020 atau Juni 2020, angka penjualan mobil merosot hingga 80 persen atau hanya terjual sekitar 200.000 unit. Namun hingga awal tahun ini atau pada Januari 2021 grafiknya meningkat dan naik hingga minus 34,22 persen atau terjual sebanyak 394.733 unit.

Purbaya juga menjelaskan mengenai outlook pertumbuhan ekonomi global, di mana menurutnya perekonomian global akan sangat bergantung terhadap keberhasilan negara dalam mengatasi pandemi, termasuk di dalamnya ialah penyaluran vaksin kepada masyarakat.

"Data pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan perhitungan World Bank pada bulan Januari 2021 tumbuh sebesar 4,4 persen dan IMF mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8 persen. Namun hingga bulan Maret 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut OECD naik sebesar 4,9 persen," ujarnya.

Baca juga: Dirut BRI: Daya beli dan konsumsi publik kunci pertumbuhan kredit

Baca juga: OJK minta perbankan dorong pertumbuhan kredit UMKM

Baca juga: Ekonom dorong insentif genjot pertumbuhan kredit 2021

Baca juga: Survei BI tunjukkan pertumbuhan kredit baru triwulan III meningkat

 

Pewarta : Citro Atmoko
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar