Penyidik Kejati Bali periksa tiga saksi ahli soal korupsi aset negara

id Korupsi, Bali,Aset negara, kejati Bali,korupsi bali

Penyidik Kejati Bali periksa tiga saksi ahli soal korupsi aset negara

Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Bali Zuhandi (tengah) memberikan keterangan pers di Kantor Kejati Bali, Rabu (17/3/2021). ANTARA/HO-Penkum Kejati Bali.

Denpasar (ANTARA) - Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali memeriksa tiga saksi ahli terkait dengan tindak pidana korupsi aset negara berupa tanah kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan, Bali.
 
"Telah meminta keterangan tiga orang ahli, yaitu KPKNL, DJKN dan BPN. Selain itu, dimungkinkan adanya ahli lain yang akan dimintai keterangan lebih lanjut," kata Asisten Intelijen Kejati Bali Zuhandi dalam konferensi pers, di Denpasar, Rabu.
 
Ia mengatakan bahwa terkait dengan kasus korupsi aset negara berupa tanah kantor Kejari Tabanan, ada 14 orang saksi yang diperiksa dari 18 orang akan dimintai keterangan lebih lanjut.
 
"Dalam perkara ini, pemeriksaan tersangka juga akan direncanakan, setelah semua saksi dan ahli dimintai keterangan dengan lengkap," katanya pula.
 
Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Bali A Luga Harlianto menambahkan bahwa hasil pemeriksaan tiga saksi ahli, yaitu Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) mendukung proses penyidikan.
 
Sebelumnya, ada enam orang yang telah ditetapkan menjadi tersangka tindak pidana korupsi terhadap aset negara berupa tanah kantor Kejari Tabanan, yaitu WS, NM, NS, IKG, PM dan MK.
 
"Ya, keterangan ini mendukung pada penyidikan bahwa tersangka melakukan perbuatan sebagaimana yang disangkakan," kata Luga.

Dalam perkara ini, Kejari Tabanan juga memiliki aset berupa tanah kantor yang perolehannya dengan status hak pakai dari Gubernur Bali kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia Cq Kejati Bali untuk digunakan sebagai kantor dan rumah dinas Kejari Tabanan sejak tahun 1974.
 
Namun, oleh tersangka WS, NM, NS, IKG, PM dan MK mengklaim aset negara tersebut dan membangun rumah tinggal tanpa ada alas hak yang sah berdasarkan peraturan perundang-undangan.
 
Adapun kerugian keuangan negara yang ditimbulkan yaitu sebesar Rp14.394.600.000 sebagaimana nilai aset dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
 
Perbuatan keenam tersangka melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke 1.
Baca juga: Penyidik Kejati Bali sita dokumen terkait kasus korupsi dana LPD
Baca juga: Kejati Bali dalami dugaan korupsi dana sewa rumah dinas Sekda Buleleng

Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar