Kemendikbud : Fungsi perpustakaan di sekolah belum optimal

id Totok Suprayitno,Kemendikbud,rakornas bidang perpustakaan,perpusnas,perpustakaan sekolah,relaksasi dana BOS

Kemendikbud : Fungsi perpustakaan di sekolah belum optimal

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno di Jakarta, Senin (22/3). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan fungsi perpustakaan di sekolah masih belum optimal.

“Sebagian besar perpustakaan masih seperti gudang penyimpanan buku. Kondisi itu banyak dijumpai di sekolah,” ujar Totok dalam Rakornas Bidang Perpustakaan yang digelar Perpusnas di Jakarta, Senin.

Perpustakaan semestinya menjadi tempat bagi siswa untuk meningkatkan literasi baca, ujarnya.

Baca juga: Sekolah leluasa gunakan dana BOS untuk beli buku

elum berfungsinya dengan baik perpustakaan sekolah dipicu oleh berbagai faktor seperti jam istirahat siswa yang terbatas hanya 15 menit sehingga tidak memiliki kesempatan berkunjung ke perpustakaan, kurangnya koleksi bahan bacaan yang memadai, dan tidak adanya manajemen pengelolaan perpustakaan yang baik.

Totok menambahkan siswa ke perpustakaan hanya untuk mengerjakan tugas sekolah dan meminjam buku teks pelajaran, bukan untuk meningkatkan literasi warga sekolah.

“Perpustakaan seharusnya dapat dijadikan warga sekolah baik siswa maupun guru untuk meningkatkan literasinya. Dalam berbagai survei tentang kebisaan membaca menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa berkontribusi positif terhadap kemampuan membaca dan memahami mata pelajaran. Siswa dengan literasi yang baik akan memiliki kemampuan dalam menarik logika, memaknai sesuatu yang tidak tertulis dari sebuah teks bacaan,” terang Totok.

Baca juga: Perpaduan perpustakaan dan sekolah wujudkan kemandirian belajar

Ia menjelaskan bahwa rendahnya minat baca dikarenakan sejumlah kendala mulai dari budaya baca yang rendah, ketersediaan dan permintaan buku, sarana dan prasarana yang kurang memadai, akses terhadap buku bacaan bermutu yang masih rendah dan lainnya.

Kemendikbud mendorong pustakawan tidak sekadar melakukan manajemen perpustakaan, tetapi juga melakukan, memberikan inspirasi, dan mendukung manajemen pembelajaran.

Baca juga: Pelangi impian bangsa bangun 128 perpustakaan sekolah di NTT

Kemendikbud pun telah melakukan relaksasi terhadap data Bantuan Operasional (BOS). Kemendikbud memberikan fleksibilitas agar sekolah-sekolah bisa membeli buku, baik buku teks atau buku bacaan yang bermanfaat bagi siswa dan guru.

“Tujuannya selain memenuhi kebutuhan buku teks guru dan siswa, juga dianjurkan membeli buku bacaan untuk mendukung kegiatan literasi,” jelas Totok.

Baca juga: Mendikbud janjikan perpustakaan setiap sekolah Malang Raya


Pewarta : Indriani
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar