ICRC prihatin atas jumlah korban jiwa dan luka-luka di Myanmar

id Komite Palang Merah Internasional,Palang Merah,Red Cross,ICRC,Myanmar

ICRC prihatin atas jumlah korban jiwa dan luka-luka di Myanmar

Para pengunjuk rasa berlindung saat bentrok dengan pasukan keamanan di Monywa, Myanmar, Minggu (21/3/2021). ANTARA/REUTERS/aww/cfo/via REUTERS/SOCIAL MEDIA.

Jakarta (ANTARA) -
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan prihatin atas jumlah korban jiwa dan luka-luka dan orang-orang mereka yang ditahan di berbagai daerah di Myanmar.
 
"ICRC mendesak pasukan keamanan untuk mengambil semua langkah yang mungkin dilakukan untuk memastikan bahwa penggunaan kekuatan dan senjata api terkontrol dengan ketat," kata  ICRC dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Komite itu juga juga mendesak agar para penegak hukum hanya diperbolehkan menggunakan tekanan apabila sangat dibutuhkan dan saat tindakan lainnya telah dilakukan --guna memastikan kehidupan manusia dihormati.
 
Penggunaan senjata berapi yang mematikan harus dihindari, lanjut ICRC, kecuali hanya untuk melindungi orang-orang dari ancaman yang tak terhindarkan terhadap nyawa mereka dan saat langkah lain yang tak begitu ekstrem tidak lagi cukup.
 
"ICRC juga menyerukan bahwa mereka yang terluka harus segera diberikan akses terhadap perawatan medis yang layak dan tidak terhalang, tanpa ancaman lebih lanjut terhadap keamanan mereka," katanya.
 
Komite menekankan pentingnya dukungan dan penghormatan terhadap para pekerja dan relawan kesehatan dan armada ambulans. Juga, katanya, perlu dipastikan mereka  tidak terhalangi atau terancam saat melalukan tugasnya dalam merawat atau mengevakuasi orang-orang yang sakit atau terluka ke fasilitas medis.
 
Selain itu, mereka yang ditangkap maupun ditahan juga perlu diperlakukan dengan manusiawi. "Kehidupan mereka, integritas fisik dan kehormatan harus dihormati dan dilindungi dalam keadaan apa pun. Ini termasuk informasi terkait keberadaan mereka pada kerabat dan keluarga yang kerap berhubungan."
 
ICRC, yang merupakan organisasi independen itu, juga menyerukan tindakan yang terhormat terhadap mereka yang telah kehilangan nyawa, termasuk saat proses identifikasi dan pengembalian kepada keluarga mereka --tanpa adanya penundaan.

Baca juga: 50 pemrotes terbunuh di Myanmar pada "hari aib angkatan bersenjata"

Baca juga: Militer Myanmar luncurkan serangan udara di Negara Bagian Karen

Baca juga: Ratusan lagi tahanan di Myanmar dibebaskan


 

Pengunjuk rasa Myanmar kuyup oleh tembakan meriam air


Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar