Mendulang rupiah dari "urban farming"

id urban farming, hidroponik, sayuran organik, pertanian kota

Mendulang rupiah dari "urban farming"

Anggota Karang Taruna RW10 Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan memanen sayuran kangkung di lahan pertanian terbatas perkotaan (urban farming), Jumat (26/3/2021). ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.

Jakarta (ANTARA) - Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB, namun Arif Biantono, pemuda Karang Taruna RW10, Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, sudah sibuk merawat sayuran hidroponiknya.

Tangan kanan dan kirinya cekatan mengganti nutrisi di tandon air agar sayuran yang baru ditanam, tumbuh subur.

Lokasi pertanian perkotaan (urban farming) itu berada di lantai empat, salah satu rumah toko di Jalan W, RT4/RW10, Kelurahan Kebon Baru.

Di roof top itu, total ada 925 lubang tanam untuk sayuran yang dibagi menjadi dua pipa bertingkat (vertical farming) dengan media air atau hidroponik.

Satu bagian pipa bertingkat merupakan sayuran yang baru ditanam dan satunya lagi merupakan susunan pipa berisi sayuran siap panen.

Ada beberapa jenis sayuran yang digarap oleh pemuda berusia 30 tahun itu di antaranya kangkung, bayam dan pokcoy.

Beberapa saat kemudian, pria yang akrab disapa Jimmy itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk memanen sayuran kangkung, dibantu dua rekannya yang juga dari karang taruna setempat.

Sedikitnya, sekitar tiga kilogram kangkung dipanen dari lahan pertanian minimalis milik warga setempat yakni Hartono yang tinggal di seberang rumah toko itu.

Hartono menuturkan ia bersama anaknya mulai melakukan urban farming mulai 2020 dengan menggandeng karang taruna itu.

Dari awalnya hanya 300 lubang tanam, kini mendekati 1.000 lubang tanam yang dimiliki.

Hasil dari pertanian itu tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga untuk tetangga, warung sekitar hingga kerja sama dengan karang taruna sehingga memberikan nilai ekonomi.

Meski dikelola kecil-kecilan, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) DKI itu, mengaku dalam sebulan rata-rata ia memperoleh sekitar Rp300 ribu hingga Rp800 ribu dengan waktu panen dua hingga tiga kali untuk tiga sayuran yakni bayam, pokcoy dan kangkung.


Pemberdayaan warga
Keterlibatan warga dalam urban farming tidak terlepas dari peran Kelompok Tani New Garden Hydro, Karang Taruna Kebon Baru.

Ketua Kelompok Tani New Garden Hydro La Ode Hardian menuturkan pertanian perkotaan mulai digagas sejak pertengahan 2019 setelah mendapatkan pelatihan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan.

Baca juga: Urban Farming, jawaban keterbatasan pangan perkotaan di saat pandemi

Ia kemudian mengajak warga dan anak-anak muda setempat untuk ikut mengembangkan urban farming.

Satu hal yang ditekankan adalah pemberdayaan ketahanan pangan secara mandiri atau bahkan jeli memanfaatkan peluang ekonomi.

Mulanya, tak mudah merangkul warga untuk mau bertani karena terbatasnya lahan, namun berkat pendekatan yang intensif, mereka pun kini kian bersemangat.

Dari 14 RW di Kelurahan Kebon Baru, sejumlah warga di sembilan RW sudah menerapkan urban farming.

Mereka membuat instalasi pribadi di rumah mereka masing-masing secara swadaya, seperti yang dilakukan Hartono dan ada pula dibuat di sekretariat karang tarunanya.

Sarjana pertanian lulusan Universitas Haluoleo, Kendari itu mencatat awalnya kelompok tani itu hanya ada 72 lubang tanam dalam pipa bertingkat.

Kini, jumlahnya sudah meningkat mencapai total 4.211 lubang tanam.

Ketua Kelompok Tani New Garden Hydro La Ode Hardian memilah benih kangkung yang siap ditanam di rak bertingkat dengan media air atau hidroponik di Kebun Edukasi yang berlokasi di Gang D3, RW4, Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (24/3/2021). (ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna)


Kelompok tani ini juga mengelola kebun edukasi sekaligus pusat pengembangan urban farming memanfaatkan lahan kosong milik warga yang berada di Jalan D3, di seberang Masjid Jami Al Husna, Jalan Kebon Baru Utara melalui Gang R2, RT9/RW4, Tebet.

Siapa menyangka di gang sempit berukuran lebar sekitar satu meter itu dapat dikatakan sebagai salah satu percontohan urban farming di Jakarta Selatan.

Di lahan seluas sekitar 9x8 meter persegi, kelompok tani itu mengembangkan tiga jenis sayuran yakni bayam, kangkung dan pokcoy karena menyesuaikan permintaan yang cukup tinggi.

Baca juga: Ayo berkebun dengan mudah dan sembuhkan Bumi!

Di kebun edukasi itu, mereka melakukan penyemaian yakni benih sayuran ditabur pada media busa. Tiga hari kemudian, benih tersebut pecah hingga tumbuh daun dan akar.

Setelah itu, benih kemudian dipotong bersama busanya menjadi beberapa bagian kecil, lalu dipindahkan ke lubang tanaman di pipa vertikal.

Agar tanaman lebih kuat dari serangan hama, pemuda berusia 31 tahun itu menyemprotkan pestisida nabati dari endapan rendaman bawang putih.

Dalam waktu kurang dari 30 hari sejak penyemaian, sayur pun siap panen.


Tembus pasar

Urban farming yang dikelola kelompok tani anak-anak muda itu nampaknya bukan isapan jempol.

Melihat peluang yang besar didukung keseriusan warga, hasil produksi sayuran kelompok tani itu, tak tanggung-tanggung sudah merambah Gelael, pasar swalayan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Dalam satu minggu, mereka mampu mengirim dua kali yakni setiap Rabu dan Sabtu dan langsung dikirim ke pasar swalayan yang dilakukan sejak Juni 2020.

Untuk menembus pasar modern, pihaknya juga melalui proses di antaranya pemeriksaan laboratorium dari pihak swalayan untuk memastikan tidak ada kandungan berbahaya.

Satu kali pengiriman rata-rata mencapai 7,5 kilogram untuk tiga jenis sayuran yakni bayam, kangkung dan pokcoy, atau masing-masing sebanyak 2,5 kilogram.

Baca juga: Pemprov DKI catat kebutuhan sayuran capai 1.500 ton per hari

Kelompok tani juga mengemas produk itu dengan nama label “New Garden Hydro”.

Sayuran dikemas masing-masing 10 bungkus untuk tiga jenis sayuran itu dengan berat 250 gram.

Hardian menjelaskan satu bungkus sayuran itu dihargai Rp7.500 per 250 gram. Dalam satu bulan, kelompok tani itu mampu memanen bersih rata-rata mencapai 60 kilogram untuk tiga jenis sayuran.

Ia menuturkan pendapatan bersih yang diraup kelompok tani itu mencapai rata-rata sekitar Rp2 juta per bulan.

Pendapatan tersebut digunakan untuk biaya modal, termasuk 10 persen di antaranya masuk ke kas kelompok tani untuk biaya operasional.

Hasil dari pendapatan itu juga digunakan untuk menambah kapasitas lubang tanam.

Ketua Kelompok Tani New Garden Hydro La Ode Hardian menunjukkan hasil pertanian memanfaatkan lahan terbatas perkotaan (urban farming) yang sudah menembus pasar modern di Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (24/3/2021). (ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna)


Peluang besar
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta mencatat kebutuhan sayuran di Ibu Kota per hari mencapai sekitar 1.500 ton per hari.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas KPKP DKI Suharini Eliawati mengatakan potensi tersebut menjadi peluang besar bagi kelompok tani di Jakarta untuk memetik nilai ekonomi.

Baca juga: Akademisi : Pandemi ubah pola suplai dan akses makanan

Meski lahan terbatas, namun sistem pertanian perkotaan menjadi solusi untuk merebut pasar, selain menjaga ketahanan pangan secara mandiri.

Apalagi saat pandemi COVID, urban farming bisa menjadi alternatif usaha.

Dinas KPKP DKI mencatat urban farming dinilai akan menggerakkan potensi lini usaha baik hulu dan hilir di antaranya penyediaan sarana produksi pertanian, jasa dan budidaya penanaman termasuk kebutuhan bibit.

Sedangkan di hilir, di antaranya pemasaran, pengolahan hingga jasa pengiriman. Pasar kini sudah membuka ruang bagi kelompok tani skala kecil dalam menyerap produksi urban farming.

Kini, bola ada di tangan masyarakat termasuk muda mudi, agar pertanian perkotaan ini bisa terus dikelola secara berkelanjutan.

Bukan tidak mungkin, usaha mikro kecil ini bisa menguasai pangsa pasar lebih besar.


Pewarta : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar