Pentingnya kearifan lokal untuk mitigasi bencana

id Kearifan lokal,Merapi,Kelud,BNPB,Kebon pala,Kampung Melayu,Ciliwung,Kali Ciluwung,Sunfai Ciluwung,Katulampa,Doni Monardo

Pentingnya kearifan lokal untuk mitigasi bencana

Petugas mengoperasikan ekskavator untuk mengeruk endapan lumpur di Sungai Ciliwung, Pasar Baru, Jakarta, Senin (15-3-2021). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengeruk lumpur akibat sedimentasi sungai untuk memastikan aliran air terjaga dan meminimalisasi potensi banjir. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Banjir setinggi kurang lebih 70 sentimeter (cm) kembali menggenangi permukiman warga yang berada di Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (29/4) pagi.

Banjir di permukiman padat penduduk ini terjadi akibat luapan air Kali Ciliwung setelah pada Rabu (28/4) malam Bendung Katulampa di Bogor berstatus Siaga III. Malam itu wilayah Bogor diguyur hujan.

Air hujan itu mulai masuk Jakarta dan meluap ke permukiman pada pukul 03.00 WIB. Jadilah banjir menggenangi permukiman tersebut.

Banjir kali ini juga merendam rumah panggung yang sedang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta bagi warga di permukiman ini. Rumah-rumah di sini memang dirancang panggung dengan harapan warga bisa naik ke lantai atas bila banjir melanda bawah.

Konstruksi itu untuk mengantisipasi bila banjir sewaktu-waktu datang. Lokasinya yang tak jauh dari Kali Ciliwung mengakibatkan permukiman di sini menjadi langganan banjir.

Bahkan, banjir di sini seperti tak mengenal musim. Tidak ada hujan pun pernah dilanda banjir saat Bogor hujan.

Oleh karena itu, untuk meminimalkan risiko banjir, perumahan warga di sini sengaja dibuat panggung. Namun, untuk mewujudkannya, ternyata tidak mudah karena baru tahap pembangunan sudah dilanda banjir sehingga sebagian material bangunan terseret arus.

Namun, warga tak menganggap banjir kali ini dan banjir-banjir sebelumnya sebagai musibah luar biasa karena sudah rutin terjadi. Aktivitas warga masih berjalan normal seperti biasa.

Warga lebih memilih bertahan di rumah masing-masing daripada mengungsi. Mereka menunggu air surut. Jika surut, pekerjaan sudah menanti, yakni membersihkan sampah serta lumpur dari dalam rumah.

Demikianlah salah satu sisi tantangan kehidupan warga di daerah rawan bencana alam. Warga setempat tampaknya sadar betul bahwa permukimannya rawan musibah atau bencana alam sehingga sudah punya pengalaman untuk bertahan saat musibah datang.

Baca juga: BPBD DKI Jakarta: Waspada kenaikan air di Pos Pantau Angke Hulu

Rawan Bencana

Persoalannya akan lain jika warga tak menyadari permukimannya berada di daerah rawan musibah atau bencana alam, seperti letusan gunung berapi, tsunami, gempa bumi, tanah longsor, dan banjir bandang.

Padahal, peta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa hampir tidak ada wilayah di Indonesia yang bebas dari potensi bencana. Hal itu dirasakan dalam kehidupan sehari-hari: bencana alam atau musibah terjadi seperti silih berganti.

Beragam platform media secara rutin menginformasikan kejadian bencana yang terjadi seperti susul-menyusul. Laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara real time 24 jam juga menyampaikan catatan gempa, dari yang berkekuatan ringan, sedang, hingga kuat atau tinggi.

Yang menjadi perhatian semua pihak adalah gempa yang menimbulkan kepanikan dan kerusakan. Begitu juga untuk bencana alam lainnya yang menimbulkan banyak korban dan kerusakan.

Berdasarkan data BNPB, sebanyak 1.118 bencana alam telah terjadi di berbagai daerah di Tanah Air dalam kurun 1 Januari sampai dengan 14 April 2021. Bencana alam yang paling banyak melanda adalah banjir, lalu puting beliung dan tanah longsor.

Dari sebanyak 1.118 bencana alam tersebut, 473 di antaranya adalah banjir, 305 puting beliung, 217 tanah longsor, 17 gempa bumi, dan 90 kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain itu, satu peristiwa kekeringan dan 15 kejadian gelombang pasang dan abrasi.

Akibat bencana alam tersebut, sebanyak 4.901.400 orang terdampak dan sempat mengungsi, sebanyak 472 jiwa meninggal dunia, 60 orang hilang, dan 12.872 jiwa luka-luka.

Bencana alam dalam kurun waktu tersebut telah mengakibatkan 137.719 unit rumah rusak yang terdiri atas 24.987 unit rumah rusak berat, 25.926 unit rumah rusak sedang, dan 86.806 rumah rusak ringan.

Selain itu, sebanyak 2.547 fasilitas umun rusak yang meliputi 1.316 fasilitas pendidikan, 926 fasilitas peribadatan, 305 fasilitas kesehatan, 402 kantor, dan 297 jembatan rusak.

Bencana terbanyak terdapat di Jawa Barat (284), disusul Jawa Timur (157), Jawa Tengah (156), dan Aceh (76). Entah berapa kerugian materi dari bencana alam tersebut.

Baca juga: Bagian jalan di jalur Puncak-Cianjur longsor

Kearifan Lokal

Untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan dari bencana alam mitigasi adalah salah satu cara yang harus dilakukan. Namun, tak bisa semata-mata mengandalkan teknologi.

Misalnya, BMKG setiap saat mengeluarkan prakiraan cuaca. Selain cuaca, bisa juga diprakiraan intensitas hujan dan kecepatan angin serta gelombang perairan.

Analisis dari angka-angka prakiraan itu menghasilkan peringatan dini mengenai potensi banjir atau badai. Selain itu, juga kilat atau petir dan tinggi gelombang.

Akan tetapi, harus diakui bahwa teknologi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan waktu terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor. Pada masa lalu warga memitigasi potensi bencana alam dari gejala-gejala alam.

Kenyataan menunjukkan bahwa letusan suatu gunung selain bisa diperkirakan dengan seismograf juga biasa dideteksi dari turunnya hewan-hewan liar dari puncak gunung ke permukiman penduduk di lerengnya.

Hewan-hewan itu turun karena adanya aktivitas gunung, baik kegempaan maupun peningkatan suhu. Turunnya hewan liar juga biasa diinterpretasikan sebagai pertanda bahaya yang juga dianggap seolah sedang memberi tahu warga di lerengnya.

Jika situasi itu terjadi, penduduk harus segera mengungsi atau diungsikan ke tempat aman. Pada letusan Merapi dan Kelud beberapa waktu lalu juga terjadi demikian.

Pada gejala tertentu akan terjadinya tsunami, kadang air laut surut. Maka, warga di permukiman dekat pantai harus bersiap mengungsi, bukan sebalik justru mendekat ke pantai yang surut untuk memunguti ikan.

Baca juga: Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran sejauh 2 km

Disosialisasikan

Sampai sekarang tak sedikit kebiasaan lama masyarakat masih dinilai efektif untuk mendeteksi terjadinya gejala-gejala alam sebelum bencana alam melanda. Sosialisasi secara turun-temurun perlu terus dilakukan.

Kebiasaan masyarakat yang kemudian menjadi kearifan lokal harus dibangun. Contohnya masyarakat yang hidup di wilayah rawan gempa menempatkan kaleng-kaleng bekas di dekat tempat tidur atau di kamar tidur.

Kaleng-kaleng itu bisa menjadi alarm ketika ada bencana seperti gempa. Namun, kalengnya harus bersih dan tidak terlalu banyak agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Demikian pula, dengan kebiasaan menanam pepohonan. Selain menjadikan udara lebih sejuk dan bersih dengan ketercukupan oksigen, juga potensial untuk menahan longsor di samping kayunya kelak bernilai ekonomi.

Pada kawasan yang rawan banjir sepanjang tahun, membangun infrastruktur penahan luapan air adalah salah satu cara. Membangun rumah panggung, misalnya, juga solusi di samping opsi merelokasi warga lokasi aman.

Terhadap kearifan lokal untuk menekan terjadinya bencana alam, pernyataan Kepala BNPB Doni Monardo perlu menjadi perhatian.

Intinya pendeteksian terjadinya bencana alam tidak boleh terlalu mengandalkan teknologi semata karena bisa saja peralatan yang telah disiapkan justru tidak berfungsi atau rusak akibat bencana.

Baca juga: BPPTKG deteksi pertumbuhan kubah lava baru di puncak Gunung Merapi

Pernyataan itu disampaikan usai memimpin rapat koordinasi penanganan COVID-19 dan mitigasi bencana bersama jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu di Kantor Gubernur Bengkulu, beberapa waktu lalu.

Salah satu upaya mitigasi bencana untuk memperkecil risiko kerusakan dan jatuhnya korban saat terjadinya bencana alam, yaitu dengan membangun kembali kearifan lokal yang ada di masyarakat.

Masyarakat khususnya yang bermukim di daerah rawan bencana telah memiliki cara-cara tersendiri dalam mendeteksi terjadinya bencana alam. Artinya, tidak boleh tergantung pada teknologi semata karena ketika ada bencana bisa jadi teknologi tidak berfungsi.

Dalam sebuah bencana alam banyak warga yang selamat karena evakuasi yang cepat dilakukan. Pemahaman ini yang harus dibangun.

Menyadari peta potensi bencana alam yang merata di negeri ini maka mitigasi dan kesiapsiagaan jangan sampai terlambat. Di sisi lain kearifan lokal perlu terus disosialisasikan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari upaya meminimalkan dampak dan korban bencana.

Pewarta : Sri Muryono
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar