Warek UI: Program MBKM dan kuliah daring perluas pendidikan tinggi

id merdeka belajar,warek UI,universitas indonesia,hari pendidikan nasional

Warek UI: Program MBKM dan kuliah daring perluas pendidikan tinggi

Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris(1) (ANTARA/Foto: Humas UI)

Depok (ANTARA) - Wakil Rektor UI Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris mengatakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) disertai dengan pola perkuliahan daring menjadi harapan untuk memperluas akses anak-anak Indonesia dalam memperoleh pembelajaran di perguruan tinggi.

Hal tersebut dikatakan Prof. Abdul Haris dalam seminar daring bertajuk Future Talks: Reimagine The Future untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Prof. Abdul Haris dalam keterangannya, Senin, mengatakan berbicara tentang kondisi angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia yang masih rendah.

"Dari setiap 100 penduduk usia sekolah yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas, hanya ada 31 orang yang benar-benar mendapatkan kesempatan itu," ujarnya.

Keterbatasan finansial dan keterbatasan infrastruktur sering menjadi faktor penghambat dari akses masyarakat ke bangku pendidikan tinggi.

Pembicara yang hadir dalam webinar tersebut adalah Dr. Raden Edi Prio Pambudi (Staf Ahli Kemenko Perekonomian), Ridzki Kramadibrata (Presiden Grab Indonesia), Umesh Phadke (Direktur L’Oreal Indonesia), Bhismarka Kurniawan (CEO BumiLangit Entertainment), dan Ferry Ardiyanto, Ph.D (Asisten Deputi Bidang Kerjasama Multilateral Kemenko Perekonomian).

Lebih lanjut Prof. Haris mengatakan salah satu Kebijakan MBKM adalah hak belajar tiga semester di luar program studi yang dapat diambil oleh setiap mahasiswa. Ada delapan bentuk kegiatan pembelajaran yang dapat dikonversi menjadi satuan kredit perkuliahan, yaitu pertukaran pelajar, magang, asistensi mengajar, penelitian, proyek kemanusiaan, wirausaha, proyek independen, dan membangun desa.

"Bila digabungkan dengan unsur teknologi, MBKM dapat menjadi sebuah solusi akses pembelajaran yang inklusif bagi masyarakat," ujarnya.

Staf Ahli Kemenko Perekonomian Dr.Raden Edi Prio Pambudi dalam presentasinya yang berjudul The Future is New, The Future is Yours mengatakan perubahan adalah suatu keniscayaan dalam hidup.

"Siap tidak siap, kita harus berubah. Waktu berganti, teknologi berkembang, dan setiap orang selalu mencari cara yang mudah. Teknologi mengubah perilaku, merubah peradaban, kita tidak bisa lagi mempertahankan sesuatu yang lalu bila ingin berkembang," ujar Edi.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata menyampaikan bagaimana disrupsi mengubah kehidupan secara drastis beserta strategi agar terus menjadi relevan. Menurutnya, kita tidak hanya terdisrupsi oleh kompetitor, melainkan juga oleh pandemi yang menuntut kita harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi.

"Pesan saya, agar teman-teman belajar lebih giat dan memanfaatkan MBKM untuk berinovasi menghadapi disrupsi," kata Ridzki.

Direktur L’Oreal Indonesia Umesh Phadke mengatakan kemampuan-kemampuan non-mesin menjadi salah satu kriteria yang kini dipergunakan perusahaan-perusahaan besar dalam merekrut tim.

Ia memaparkan bahwa terdapat empat karakter kunci dalam seorang individu untuk dapat menjadi SDM unggul, yaitu: learning agility; ambition and resilience; judgement; dan empathy.

Keempat karakter tersebut sangat penting untuk menciptakan suatu lingkungan yang
kondusif, kolaboratif, dan inovati baik di kehidupan perkuliahan maupun di dunia kerja.

CEO BumiLangit Entertainment Bhismarka Kurniawan menekankan pentingnya mengembangkan kreativitas, mengingat besarnya peluang dan prospek industri hiburan di Tanah Air.

"Indonesia adalah negara terbesar di dunia dari segi entertainment spending. Negara
kita dari segi pasar, kebiasaan, maupun kultur sangat dekat dan sangat suka dengan ranah hiburan," katanya.

Asisten Deputi Bidang Kerjasama Multilateral Kemenko Perekonomian Ferry Ardiyanto, Ph.D memaparkan tentang pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi masalah dunia pendidikan di masa pandemi COVID-19.

Menurut dia, pandemi menghasilkan masalah kesenjangan sosial dalam hal akses pendidikan, karena tidak semua keluarga bisa mengakses layanan internet untuk dapat melakukan kegiatan belajar daring.

Untuk itu, kerja sama-kerja sama internasional dalam bidang ekonomi sangat penting agar infrastruktur terkait layanan teknologi dapat menjangkau semua lapisan masyarakat.

Seminar ini dihadiri oleh lebih dari 7.500 peserta yang berasal dari berbagai kampus di Indonesia dan beberapa universitas mitra di ASEAN, melalui tiga media siar, yaitu Zoom, kanal Youtube UI, dan kanal Youtube UI Teve.

Baca juga: Merdeka belajar dan kepastian pendidikan
Baca juga: Mendikbudristek Nadiem paparkan empat prioritas peningkatan pendidikan
Baca juga: Sri Mulyani bertekad wujudkan reformasi struktural bidang pendidikan

 

Pewarta : Feru Lantara
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar