Pakar sampaikan panduan hadapi kerumunan saat Idul Fitri

id Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Paru, FKUI, kerumunan, Idul Fitri

Pakar sampaikan panduan hadapi kerumunan saat Idul Fitri

Ilustrasi - Sejumlah warga memadati Pasar Cisarua, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/5/2021). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww/am.

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan panduan bagi seseorang untuk menghadapi kerumunan agar terhindar dari penularan COVID-19.

"Sesudah ramai berita penuhnya orang di pasar-pasar dan mall, kini juga ada larangan mudik serta juga ada edaran Menteri Agama tentang bagaimana sebaiknya berkegiatan di seputar Idul Fitri," katanya melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Tjandra mengatakan tetap berada di rumah adalah anjuran yang lebih baik untuk menghindari penularan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Namun terkadang berada dalam situasi kerumunan kerap tidak bisa dihindari seseorang, terutama saat situasi Idul Fitri.

"Di sisi lain, kalau toh harus terpaksa berada dalam suatu bentuk kumpulan orang, karena sebab apapun, maka setidaknya ada tiga hal yang perlu dapat perhatian penting dan sebaiknya dilakukan untuk keamanan kita," katanya.

Baca juga: Jakpus antisipasi potensi kerumunan menjelang perayaan Idul Fitri
Baca juga: Peneliti: Waspadai kerumunan warga tidak mudik di Jabodetabek


Pertama, kata Tjandra, sejumlah orang berada bersama di luar ruangan tentu memiliki potensi penularan COVID-19 yang lebih rendah daripada bersama di dalam ruangan.

“World Health Organization (WHO) menyebutnya sebagai open air spaces safer than enclosed spaces. Artinya, ada dua hal kalau harus berkumpul, ke satu memang akan jauh lebih baik kalau dilakukan di udara terbuka saja dan ke dua kalau terpaksa harus di dalam ruangan maka seharusnya ada ventilasi terbuka dengan udara luar," ujarnya.

Kedua, tetap berada pada jarak minimal 1 meter dengan orang lain di sekitar kita. "Ada juga yang menyebut jarak lebih jauh khususnya kalau di dalam ruangan. Yang jelas, WHO menyebutnya sebagai farther away from others safer than close together, langkah ini untuk mencegah penularan kalau barangkali di sekitar kita ada yang batuk, bersin atau berbicara keras," katanya.

Ketiga, lebih pendek waktu seseorang berada dalam kerumunan, kata Tjandra, maka akan lebih kecil kemungkinan tertular COVID-19, dan kalau berlama-lama maka makin makin besar kemungkinan penularannya.

Tjandra menambahkan seluruh panduan tersebut harus dijalankan dengan penggunaan masker yang tepat dan baik serta kebiasaan selalu mencuci tangan.

Baca juga: Polda Metro akan cegah kerumunan di mal selama Idul Fitri 1442 H
Baca juga: TMS Ragunan buat lingkaran khusus di taman antisipasi kerumunan

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar