FKPT Sulteng sebut aparat keamanan harus kerja keras tuntaskan teror

id FKPT,Fkpt sulteng,Terorisme,Bnpt,Radikalisme,Muh Nur Sangaji,teror mit

FKPT Sulteng sebut aparat keamanan harus kerja keras tuntaskan teror

Ketua FKPT Sulteng Dr Muhd Nur Sangaji bersama Kepala Bidang Penelitian FKPT Sulteng Dr Irfan (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Palu (ANTARA) - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Tengah mengemukakan aparat keamanan yang tergabung dalam Satuan Tugas Madago Raya harus bekerja keras menuntaskan pelaku aksi teror terhadap warga di Kabupaten Poso.

"Tidak ada jalan lain kecuali aparatur keamanan untuk menuntaskannya," ujar Ketua FKPT Provinsi Sulteng Muhd Nur Sangaji, di Palu, Kamis, menanggapi aksi teror yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso.

Aksi teror terhadap petani di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah terjadi pada Selasa (11/5).

FKPT Sulteng, kata Muhd Nur Sangaji, menilai aksi teror itu merupakan kejahatan luar biasa yang sangat merusak kesucian bulan suci Ramadhan, dengan tindakan membunuh orang yang tidak bersalah.

"Ini tantangan sekaligus ujian reputasi yang mau tidak mau harus dihadapi," ujarnya pula.

Akademisi Universitas Tadulako Palu itu mengatakan sesuai dengan ajaran Tuhan yang Maha Esa bahwa perilaku membunuh orang lain tanpa alasan yang benar dan berdasar, sangat tidak dibenarkan.

"Pesan yang turun dari langit, barang siapa yang menghilangkan satu jiwa tanpa alasan yang benar, sama dengan membunuh seluruh umat manusia," katanya lagi.

Aksi teror itu, menurut dia, menunjukkan bahwa kelompok garis keras hingga saat ini masih eksis dan memberikan ancaman terhadap kerukunan, kebersamaan dan keberlangsungan hidup manusia serta ancaman kepada negara.

"Kejadian ini sekaligus menunjukkan bahwa aksi terorisme itu masih eksis dan mengancam kehidupan manusia di mana pun di bumi ini," ujar dia.

Motif yang dilakukan oleh kelompok tertentu itu bermacam macam, mulai dari alasan ideologi, politik, ekonomi, budaya, etnik hingga penyimpangan pemahaman keagamaan.

"Ini peristiwa luar biasa atau extra ordinary yang antikemanusiaan. Hal luar biasa ini tentu tidak salah dikutuk. Tapi tidak cukup dengan hanya mengutuk semata," kata dia.

Ia menyarankan harus ada langkah kolektif dari semua elemen bangsa, pemerintah, aparatur keamanan, dunia pendidikan, tokoh masyarakat dan tokoh agama, masyarakat dan orang tua.

Diharapkan, sinergitas dari semua elemen ini menjadi daya tangkal preventif dan kuratif untuk jangka pendek maupun jangka panjang, katanya pula.
Baca juga: Murni aksi teror, polisi imbau warga di Desa Kalimago tenang
Baca juga: JK kecam keras aksi teror Sigi

Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar