Galian tambang ubah morfologi Sungai Satui hingga memicu banjir

id Banjir satui, ulm, banjir kalsel,Universitas Lambung Mangkurat

Galian tambang ubah morfologi Sungai Satui hingga memicu banjir

Banjir besar menerjang Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada Kamis (13/5) lalu akibat hujan dengan intensitas tinggi. (ANTARA/Bayu Pratama Syahputra)

Banjarmasin (ANTARA) - Fenomena bencana banjir besar di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, yang terjadi bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah pada Kamis (13/5) menjadi preseden buruk dalam tata kelola lingkungan daerah aliran sungai (DAS).

Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) langsung menerjunkan tim sebagai bentuk tanggung jawab akademik. Dekan Fakultas Kehutanan ULM Dr Kissinger, S.Hut. M.Si beserta beberapa tenaga ahli, di antaranya Prof Dr Syarifudin Kadir, Dr Suyanto, Dr Ahmad Jauhari, Dr Rernat Wahyuni Ilham, Dr Badaruddin, Syamani, M.S dan Dr Abdi Fithria merumuskan pandangan akademik mereka dengan harapan menjadi bahan masukan agar bencana serupa tidak terulang di kemudian hari.

Tim Fakultas Kehutanan ULM menganalisa dari Desa Sinar Bulan sebagai daerah terkena dampak banjir paling parah terletak di bagian hilir DAS Satui. Karakter bentang darat wilayah, daya tampung dan morfologi sungai, perubahan bentang alam, intensitas hujan dianalisis menjadi pemicu kejadian banjir.

Kissinger mengungkapkan DAS Satui dengan luas 86.616 ha (KLHK 2019) memiliki persentase luas tutupan hutan lebih dari 37 persen, yang berarti luasan tutupan hutan melebihi standar 30 persen.

Hasil pengamatan citra satelit Sentinel-2 Tahun 2019, kondisi hutan di bagian hulu Sungai Satui ini masih cukup bagus. Akan tetapi luas lahan kritis DAS juga terus meningkat, tercatat mencapai 38,15 persen (2016) dan 42 persen (2017).

Indeks erosi DAS sebesar 2,04 dan lahan kritis memicu tingginya run off dan erosi yang selanjutnya akan memperburuk kualitas DAS Satui yang berhulu di sebelah timur pegunungan Meratus dan memiliki dua aliran, yaitu Sungai Satui dan Batulaki.

Hasil analisis tata air DAS Satui dari beberapa parameter, seperti koefisien rejim aliran lebih dari 23,36, koefisien aliran sebesar 0,61, muatan sedimen 15,5 ton/ha/tahun. Adapun kejadian banjir lebih dari satu kali setahun, indeks penggunaan air 1,28 m3/detik.

Hasil kajian ULM juga menganalisa mengenai aspek sosial ekonomi dari kondisi DAS Satui. Pertama, tekanan penduduk terhadap lahan 0,18. Kedua, tingkat kesejahteraan penduduk 6. Ketiga, pendapatan masyarakat yang cukup tinggi sangat tergantung dengan alam sekitar.

Karakteristik DAS berdasarkan aspek tata ruang (pemanfaatan ruang), yaitu kawasan lindung 10,38 persen, kawasan budi daya didominasi oleh kelerengan 0 sampai 21 persen seluas 75,83 persen.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P. 60 /Menhut-Ii/2014 tentang Kriteria Penetapan Klasifikasi DAS, melalui pemberian bobot, penetapan kelas, perhitungan skor dan penilaian dari masing-masing subkriteria diperoleh nilai total 129,25. Maka DAS Satui termasuk klasifikasi DAS pemulihan tinggi sampai sangat tinggi.

"Daya dukungnya informasi ini mengindikasikan karakteristik DAS dengan tingkat ketergangguan tinggi. Wilayah Desa Sinar Bulan yang terdampak banjir merupakan dataran rendah yang dikelilingi landscape atau bentang darat dengan tofografi bergelombang," ujar Kissinger.

Berdasarkan pengamatan citra dengan memasukkan unsur topografi, ungkap dia, Desa Sinar Bulan merupakan wilayah cekungan yang sangat berpotensi tergenang dengan periodisitas pengulangan banjir dapat lebih satu kali dalam setahun.

Hasil analisis topography wetness index menunjukkan bahwa wilayah Desa Sinar Bulan dan sekitarnya termasuk kategori sangat tinggi untuk indeks kebasahannya.

Karakteristik meander sungai yang cukup ekstrim di bagian hilir  menyebabkan melambatnya kecepatan aliran air menuju laut, sehingga sungai meluap dan membanjiri wilayah-wilayah dengan indeks kebasahan tinggi, seperti Desa Sinar Bulan.

Meander sungai ekstrim yang diperparah dengan pendangkalan sungai akibat sedimentasi menyebabkan kecepatan air melambat menuju ke laut, sehingga menambah waktu lamanya genangan banjir.

Banjir besar menerjang Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada Kamis (13/5) lalu akibat hujan dengan intensitas tinggi. (ANTARA/Bayu Pratama Syahputra)

Upaya pengendalian 

Dekan Fakultas Kehutanan ULM Dr Kissinger mengatakan pengelolaan DAS Satui dalam rangka pengendalian banjir harus berorientasi jangka pendek, yakni perlu aksi cepat dan tepat serta jangka panjang, yaitu mitigasi dan pemeliharaan lingkungan.

Pendekatan teknis sipil dapat dilakukan untuk aksi cepat. Pembuatan embung di bagian hulu DAS dapat dilakukan untuk memperlambat aliran arus sungai.

Sementara di bagian hilir, untuk menangani karakteristik meander yang ekstrim dapat dilakukan dengan membuat sodetan.

Panjang sodetan (jarak datar) antara wilayah terdampak banjir dengan tepi laut lebih kurang 7,5 meter. Peningkatan daya tampung sungai juga menjadi langkah cepat yang bisa diambil. Perbaikan drainase di wilayah terkena dampak dapat juga dilakukan.

Sementara pengendalian jangka panjang yang bisa dilakukan dengan pendekatan revegetasi (reboisasi dan penghijauan) serta penerapan agroforestry.

Bangunan konservasi juga harus diterapkan untuk meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah. Pendekatan kebijakan merupakan hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan. Bentuk kebijakan tersebut, di antaranya dapat berupa evaluasi perizinan; penguatan RTRW dan RPJMD, sistem peringatan dini, perda jasa lingkungan dan peningkatan peran para pihak.

"Harapan bencana banjir tidak berulang akan begitu tinggi apabila berbagai langkah kongkret yang disebutkan dapat terealisasi," kata Kissinger.

Kissinger mengungkapkan berdasarkan analisis geospasial kondisi bentang lahan DAS Satui terdapat banyak galian tambang, khususnya sepanjang Sungai Satui dan anak Sungai Batulaki.

Galian tambang ini mengubah konfigurasi topografi (kontur permukaan lahan) sehingga ada kemungkinan mengubah orientasi aliran air permukaan. Sehingga terjadi perubahan morfologi Sungai Satui dalam 10 tahun terakhir.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-2 MSI perekaman Tahun 2019, setidaknya ada lima lokasi aliran Sungai Satui yang dipindahkan alirannya.

Perpindahan aliran sungai ini terjadi di lokasi pertambangan. Dimana aliran sungai yang sebelumnya berbelok-belok dipindahkan alirannya menjadi lurus. Dampaknya, aliran sungai menjadi semakin pendek dan volume sungai berkurang.

Kondisi morfologi Sungai Satui yang secara alamiah memang berbelok-belok atau banyak terdapat meander. Meander sungai pada umumnya terbentuk ketika aliran sungai menabrak tanah yang lebih keras (batuan).

Secara penutupan lahan sebenarnya kondisi DAS Satui masih cukup bagus, dimana total luasan wilayah berhutan lebih dari 36 persen. Hal ini berdasarkan data penutupan lahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tahun 2019.

Sebagian besar hutan terletak di bagian hulu DAS. Hasil pengematan citra satelit Sentinel-2 Tahun 2019, kondisi hutan di bagian hulu Sungai Satui ini masih cukup bagus.

Warga mengungsi saat banjir besar menerjang Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada Kamis (13/5) lalu. (ANTARA/Bayu Pratama Syahputra)

Setuju direlokasi

Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Safrizal mengatakan sudah ada 50 kepala keluarga (KK) di Desa Sinar Bulan setuju direlokasi, sehingga mereka tidak lagi tinggal di lokasi rawan banjir tersebut.

"Relokasi sangat diperlukan mengingat tiap tahun kebanjiran, bahkan ada yang dua kali dalam setahun," katanya.

Menurut Safrizal, lahan untuk relokasi sudah tersedia. Sekarang tinggal mencarikan alokasi anggaran untuk pembangunan rumahnya.

"Hal ini telah kami diskusikan bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu. Prinsipnya pemda memberikan solusi terbaik bagi warga dan alhamdulilah warga juga menyambut positif kebijakan relokasi ini," tuturnya.

Sebelumnya Safrizal meninjau lokasi banjir di Kecamatan Satui pada Minggu (16/5). Setibanya di lokasi dengan menggunakan helikopter BNPB, dia langsung memberikan arahan kepada petugas gabungan terkait penanganan banjir.

Safrizal menekankan pelayanan warga di pengungsian menjadi fokus utama sehingga jangan sampai muncul keluhan akibat kondisi yang dirasakan kurang nyaman.

Terdapat dua tempat pengungsian ketika banjir menerjang Satui sejak Kamis (13/5) hingga air berangsur surut pada Minggu (16/5), yaitu di di SMP 4 Sinar Bulan dan bangunan Majelis Taklim Sungai Danau.

Selain meninjau lokasi pengungsian, Safrizal juga mengecek dapur umum, bahkan ikut santap siang bersama warga dan petugas guna memastikan makanan yang disiapkan bagi pengungsi tersebut layak dan sehat.

Berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, enam desa yang terdampak banjir di Kecamatan Satui, yakni Desa Sejahtera Mulia dihuni 293 KK atau 655 jiwa, Desa Jombang 162 KK atau 515 jiwa, Desa Sinar Bulan 1.104 KK atau 4.413 jiwa, Desa Sungai Danau 1.992 KK atau 6.707 jiwa, Desa Satui Barat 120 KK atau 380 jiwa serta Desa Satui Timur 220 KK atau 763 jiwa. Sehingga total 13.433 jiwa dari 3.891 KK yang jadi korban banjir.

Bencana banjir di Kecamatan Satui juga menelan satu korban jiwa pada Minggu (16/5). Korban bernama Habruddin Nor (70) ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Desa Sinar Bulan RT 03 No 23.

Sebelumnya korban menolak dievakuasi setelah banjir menerjang pada Kamis (13/5). Dia tetap bertahan di rumah meski warga lainnya telah mengungsi. Hasil keterangan saksi yang dihimpun polisi, diperkirakan korban meninggal karena terjatuh dari tempat tidur lalu terendam air yang masih mengenangi lantai rumah.

Banjir sendiri diakibatkan karena hujan dengan intensitas tinggi sejak Rabu (12/5), sehingga mengakibatkan Sungai Satui meluap hingga enam desa terendam dengan ketinggian air bervariasi antara satu sampai dua meter.

Jalan Provinsi Km 164 RT 8 di Desa Sinar Bulan sepanjang 300 meter juga sempat tergenang air dengan ketinggian sekitar 20 centimeter, namun arus lalu lintas jalur Banjarmasin ke Batulicin masih bisa dilewati kendaraan.


Pewarta : Firman
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar