BKSDA sita dua buaya dari warga Balikpapan

id buaya,sita biaya,bksda balikpapan

BKSDA sita dua buaya dari warga Balikpapan

Buaya sapit (Tomistoma schlegelii) yang dievakuasi dari rumah warga di Markoni, Balikpapan. ANTARA/BKSDA Balikpapan.

Balikpapan (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah III Balikpapan menyita dua ekor buaya dari rumah seorang warga di kawasan Markoni, Jumat.

Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya supit (Tomistoma schlegelii) pun diangkut dari rumah itu dan dibawa ke penangkaran buaya di Teritip sebagai titipan BKSDA.

“Memelihara buaya tanpa izin itu dilarang,” kata petugas Pengendali Ekosistem Alam BKSDA Balikpapan, Kaltm Amos.

Menurut Amos, BKSDA mendapatkan informasi ada warga Markoni memelihara dua ekor buaya tersebut. Perbuatan ini diketahui melanggar Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Baca juga: BKSDA sebut lokasi buaya muncul ke permukaan pada areal konservasi

“Jadi kami datang untuk evakuasi kedua satwa tersebut,” jelas Amos.

Petugas BKSDA tanpa kesulitan melakukan evakuasi ini. Bahkan pemilik turut membantu menangkap dan mengamankan buayanya.

Untuk sementara kedua buaya dititipkan di penangkaran buaya di Teritip, 30 km utara pusat kota Balikpapan. Penangkaran buaya ini milik swasta yang dikelola untuk komersial.

“Kami titip dulu selama 3 bulan untuk mengetahui kondisi buaya-buaya itu, termasuk untuk melihat adaptasi mereka di alam,” kata Amos. Diketahui, sebagian kandang buaya di Teritip dibuat menyerupai habitat asli buaya di perairan seperti muara ataupun lubuk di sungai.

Amos juga mengimbau kepada masyarakat yang memelihara satwa dilindungi agar segera melaporkannya ke BKSDA. Barangsiapa yang menyadari dan tahu dirinya memelihara hewan atau tumbuhan dilindungi tanpa hak atau tanpa izin, maka terancam hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta.

Buaya muara di alam di Kalimantan Timur masih banyak ditemui di muara-muara sungai dan rawa-rawa mangrove di Kutai Timur, bahkan juga ada di Teluk Balikpapan hingga kawasan Mangrove Center di Graha Indah.

Bahkan, seperti juga di Kutai Timur, buaya di Graha Indah diduga bertanggungjawab atas hilangnya seorang anak yang kemudian ditemukan tewas di rawa-rawa mangrove tersebut.

“Buaya muara memang yang paling ganas dari semua jenis buaya,” kata Amos.***

Baca juga: BKSDA selidiki penyebab kematian buaya di Sungai Mentaya
Baca juga: Warga tangkap seekor buaya muara di Pantai Gunungsitoli
Baca juga: Bandara Pekanbaru gagalkan penyeludupan paket 22 anak buaya muara

Pewarta : Novi Abdi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar