Buat 60 cabang dalam 5 tahun, ini rahasia bisnis Ayam Keprabon Express

id ayam geprek,kuliner,ayam keprabon

Buat 60 cabang dalam 5 tahun, ini rahasia bisnis Ayam Keprabon Express

Sushi Geprek (ANTARA/Ayam Keprabon)

Jakarta (ANTARA) - Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis makanan dan minuman di Indonesia diramaikan dengan banyaknya pendatang baru dari dalam dan luar negeri. Di tengah pesatnya pertumbuhan industri tersebut, beberapa nama lokal tumbuh berkembang hingga memiliki ratusan karyawan dan cabang.

Salah satu pemain lokal yang sukses menggebrak adalah Ayam Keprabon. Gerai makanan yang terkenal dengan varian ayam geprek ini berkembang pesat dari hanya satu outlet di kota asalnya Solo, Jawa Tengah hingga kini memiliki 600 karyawan dan 60 gerai waralaba dengan nama Ayam Keprabon Express.

Renny Rantika, CEO & Co-Founder Ayam Keprabon Express, berbagi 7 kiat dan rahasia Ayam Keprabon Express sukses menjadi perusahaan yang berkembang di Indonesia, dikutip dari siaran resmi, Sabtu.

Baca juga: Komedian Jenda Munthe buka bisnis "Anak Bakmie"

Keberhasilan datang setelah 10 kegagalan

Ayam Keprabon Express bukanlah bisnis pertama Renny dan suami. Gemar berdagang sedari dulu, peruntungan bisnis di berbagai bidang sudah pernah dicoba. Jika dihitung, setiap dari 10 jari tangan bisa mewakili kegagalan demi kegagalan dalam berbisnis. Mulai dari berjualan kerupuk di pinggiran jalan Bandung, usaha retail, hingga menjadi agen asuransi pernah dilakoni Renny dengan hasil yang kurang menggembirakan. Meski berkali-kali gagal, kunci keberhasilan Renny dan suami ada pada kegigihan dan keberanian untuk selalu memulai lagi dari nol setelah suatu kegagalan.

Alon-alon asal kelakon

Ketika banyak pemain lain di industri "mamin" fokus untuk segera membuka cabang sebanyak mungkin sekaligus, Renny dan suami memilih aliran berbeda. Ia lebih memilih memulai perlahan sehingga memiliki waktu lebih untuk membentuk pondasi bisnis yang matang. Renny mengambil waktu kurang lebih satu tahun untuk mempersiapkan jalur distribusi, standar bahan baku, standar karyawan dan lain-lain sebelum membuka waralaba Ayam Keprabon Express.

Pondasi ini juga dibuat di area dapur. Dari awal berdiri hingga kini, Ayam Keprabon Express menggerakkan roda makanannya dari dapur sentral yang ada di Solo. Dapur sentral ini menyalurkan bahan makanan ke 60 cabang waralaba yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Tidak hanya bumbu dan bahan pelengkap, stok ayam hingga sambal bohay (sambal bawang) dan yang terbaru sambal karca (kari-rica) dipasok dari sana. Sumber yang terpusat merupakan upaya untuk mengeliminasi tantangan bisnis waralaba, yaitu rasa yang tidak konsisten antara satu cabang dengan yang lain. Alon-alon asal kelakon, alias pelan-pelan saja asal berhasil, menjadi motto yang Renny dan suami percaya.

Baca juga: Tips bisnis kuliner makin "cuan"

Fokus, lurus dan jalan terus

Sebagai industri yang dinamis, pemain baru silih berganti menawarkan berbagai produk. Beberapa pemain lama juga melakukan diversifikasi bisnis dengan membuka perusahaan dengan varian makanan berbeda dari kakaknya. Berbeda dengan tren tersebut, Renny dan suami lebih memilih untuk fokus berinovasi pada bisnis Ayam Keprabon yang dirintisnya. Fokus tersebut membuat Ayam Keprabon lebih mahir dalam menciptakan inovasi, termasuk Sushi Geprek yang sukses viral dan menggebrak media sosial di periode akhir 2020 lalu.

Buka peluang untuk kolaborasi dengan siapa pun

Renny menekankan bahwa pihaknya selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan siapapun, asalkan bisa memberikan keuntungan atau kemudahan untuk konsumen.

Baca juga: Foodizz buka Sekolah Bisnis Kuliner, hadir di Bandung

Jangan puas ketika sudah go-digital

Banyak bisnis makanan dan minuman yang puas ketika sudah go-digital dan bergabung menjadi mitra layanan pesan antar makanan dan layanan pembayaran digital. Padahal di luar sana, kompetitor pun melakukan hal serupa. Renny dan timnya mengambil satu langkah lebih maju dengan memaksimalkan kampanye yang dilakukan layanan pembayaran digital dengan berbagai promosi untuk menarik pembeli.

Memanusiakan manusia

Bagi Renny, aset terbesar ada pada sumber daya manusia sebagai penggerak bisnis. Untuk memupuk loyalitas dan relasi yang panjang, Renny dan suami berpegang pada satu prinsip, yaitu memanusiakan manusia. Berbagai tradisi dan aktivitas untuk karyawan dilakukan, seperti perayaan ulang tahun, momen melahirkan, hingga liburan tahunan tak pernah dilewatkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kesejahteraan karyawan.

Baca juga: Intip bisnis restoran milik para bintang La Liga

“Saya bersyukur sekali dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau bergerak bersama memajukan bisnis Ayam Keprabon Express. Bermula dari 4 orang karyawan, saat ini ada lebih dari 600 karyawan dan semua sudah seperti keluarga. Ayam Keprabon Express tidak akan jadi seperti hari ini tanpa kehadiran orang-orang hebat ini.” ujar Renny.

“Itulah sebabnya, semangat juang saya untuk terus menjalankan Ayam Keprabon Express semakin besar di tengah pandemi. Lebih daripada keuntungan bisnis, ada tanggung jawab moral yang saya emban pada hajat hidup ratusan karyawan serta konsumen setia Ayam Keprabon Express,” kata Renny.

Amati, Tiru, Modifikasi

Lahir dengan nama Ayam Keprabon, ide bisnis mulanya terinspirasi ketika Renny dan suami mendatangi sebuah tempat makanan ayam geprek di Yogyakarta.

“Tempatnya sangat sederhana, sayang sekali padahal bisa dimaksimalkan. Dari situ saya dan suami akhirnya memiliki ide untuk mengangkat menu ayam geprek dalam konsep yang lebih mapan,” kata Renny.

"Setelah melalui berbagai persiapan, lahirlah Ayam Keprabon yang namanya terinspirasi dari lokasi gerai pertama Ayam Keprabon di Jl. Teuku Umar No. 30, Solo. Daerah tersebut juga dikenal sebagai daerah Keprabon. Sementara kata 'express' ditambahkan khusus pada gerai waralaba dengan tujuan lebih merepresentasikan hidangan yang enak, murah, praktis dan akrab di tengah masyarakat kota yang dinamis," tutup Renny.

Baca juga: Tips memulai bisnis kuliner dan jamu kekinian

Baca juga: Dimas Beck targetkan 500 reseller bisnis kuliner selama Ramadhan

Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar