Ketua MPR: Ada kekosongan nilai kebangsaan dari generasi muda

id Aceh,MPR RI,empat pilar kebangsaan,pancasila,politik,nasionalisme,UUD 1945,Bineka Tunggal Ika,NKRI,aa

Ketua MPR: Ada kekosongan nilai kebangsaan dari generasi muda

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat memberikan keterangan kepada awak media, di Banda Aceh, Kamis (10/6/2021). (ANTARA/Rahmat Fajri/aa.

Banda Aceh (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan bahwa hari ini terjadi kekosongan nilai kebangsaan terhadap generasi muda di Indonesia, sehingga dibenturkan nasionalisme dengan agama.

"Ada kekosongan nilai kebangsaan bagi generasi muda kita, sehingga terjadilah upaya membenturkan antara nasionalisme dan Islam," kata Bambang Soesatyo (Bamsoet) di Banda Aceh, Kamis.

Pernyataan tersebut disampaikan Bambang Soesatyo kepada media usai mengisi materi sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Baca juga: Wakil Ketua MPR pertanyakan rencana terapkan PPN bahan pokok
Baca juga: Ketua MPR RI dukung pembangunan jembatan Batam-Bintan
Baca juga: Ketua MPR tegaskan tak boleh ada toleransi bagi pelaku teror di Papua


Kata Bamsoet, kekosongan nilai kebangsaan bagi generasi muda tersebut mulai terlihat sejak reformasi, atau setelah dihapusnya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Bamsoet menegaskan, kondisi seperti ini tidak boleh terus berlarut, karena pada dasarnya negara Indonesia didirikan oleh sekumpulan ulama bersama para orang-orang nasionalis.

"Ini yang tidak boleh terjadi karena negara ini didirikan oleh alim ulama yang berjuang bersama bung Karno dari nasionalis, dan terbentuk satu negara," ujarnya.

Menurut dia, para tokoh negara ini dulu sangat berjiwa besar dalam melakukan sesuatu, salah satunya mengubah rumusan awal Pancasila di sila pertama dalam Piagam Jakarta.

Dalam Piagam Jakarta, rumusan Pancasila pada sila pertama menyatakan, "Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Setelah melakukan dialog mendalam antar tokoh nasionalis dan ulama, akhirnya disepakati menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.

Hal ini, menurut dia menunjukkan jiwa besar para pendiri bangsa guna membangun bangsa yang merdeka.

Pewarta : Rahmat Fajri
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar