China kecam pernyataan G7 yang dianggap campuri urusan dalam negeri

id china,G7,kelompok tujuh,urusan dalam negeri china,xinjiang,hong kong,taiwan

China kecam pernyataan G7 yang dianggap campuri urusan dalam negeri

Dari kiri ke kanan, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Presiden AS Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri sesi kerja selama KTT G7 di Carbis Bay , Cornwall, Inggris, Sabtu (12/6/2021). Pertemuan tersebut membahas perubahan iklim dan upaya mengatasi pandemi COVID-19 termasuk pengadaan vaksin untuk negara miskin. ANTARA FOTO/Brendan Smialowski/Pool via REUTERS/rwa.

Beijing (ANTARA) - China mengecam pernyataan bersama oleh para pemimpin Kelompok Tujuh (G7) yang telah memarahi Beijing atas berbagai masalah.

Pemerintah China menganggap sikap G7 sebagai campur tangan besar dalam urusan internal negara itu, dan mendesak kelompok itu untuk berhenti memfitnah China.

Para pemimpin G7 pada Minggu (13/6) menyinggung China tentang tugas perlindungan atas hak asasi manusia di wilayah Xinjiang, yang ditinggali mayoritas Muslim. Mereka juga menyerukan Hong Kong untuk menjaga otonomi tingkat tinggi serta menggarisbawahi pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Semua masalah itu sangat sensitif bagi Beijing .

Kedutaan Besar China di London mengatakan sangat tidak puas dengan pernyataan G7 dan dengan tegas menentang penyebutan Xinjiang, Hong Kong, dan Taiwan yang memutarbalikkan fakta dan mengungkap "niat jahat dari beberapa negara seperti Amerika Serikat".

"Urusan internal China tidak boleh diintervensi, reputasi China tidak boleh difitnah, dan kepentingan China tidak boleh dilanggar," kata kedutaan itu, Senin.

Dengan pandemi COVID-19 yang masih merebak dan ekonomi global yang lesu, masyarakat internasional membutuhkan persatuan dan kerja sama semua negara daripada politik kekuatan "cenderung eksklusif" yang menabur perpecahan, kata kedutaan China.

China adalah negara cinta damai yang menganjurkan kerja sama, tetapi juga memiliki intinya, kata kedutaan.

"Kami akan dengan tegas membela kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan nasional kami, dan dengan tegas melawan semua jenis ketidakadilan dan pelanggaran yang dijatuhkan pada China."

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan pernyataan pada Minggu dari G7 adalah langkah maju yang signifikan bagi kelompok itu ketika para pemimpin berkumpul untuk "melawan dan bersaing" dengan China pada tantangan mulai dari menjaga demokrasi hingga perlombaan teknologi.

Kedutaan China mengatakan G7 harus melakukan lebih banyak hal kondusif untuk mempromosikan kerja sama internasional daripada menciptakan konfrontasi dan gesekan secara artifisial.

"Kami mendesak Amerika Serikat dan anggota G7 lainnya untuk menghormati fakta, memahami situasi, berhenti memfitnah China, berhenti mencampuri urusan dalam negeri China, dan berhenti merugikan kepentingan China."

Kedutaan itu juga mengatakan upaya mencari asal muasal pandemi COVID-19 tidak boleh dipolitisasi, setelah G7 dalam pernyataan yang sama menuntut penyelidikan penuh dan menyeluruh atas asal muasal virus corona di China.

Kelompok ahli gabungan tentang virus antara China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan penelitian secara independen dan mengikuti prosedur WHO, tambah kedutaan.

"Politikus di Amerika Serikat dan negara-negara lain mengabaikan fakta dan sains, secara terbuka mempertanyakan dan menyangkal kesimpulan dari laporan kelompok ahli bersama, dan membuat tuduhan yang tidak masuk akal terhadap China," kata kedutaan China.

Sumber: Reuters

Baca juga: G7 terpecah tentang realokasi dana IMF ke negara-negara terkena COVID

Baca juga: G7 hadapi Inisiatif Sabuk dan Jalan China dengan proyek infrastruktur

Baca juga: G7 sumbangkan 1 miliar dosis vaksin COVID-19 ke negara-negara miskin


 

Museum arsitektur Wuhan pamerkan kecepatan China dalam perangi COVID-19


Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar