Mengapresiasi komitmen Pertamina hadirkan NKRI di perbatasan Malaysia

id Pertamina, elpiji

Mengapresiasi komitmen Pertamina hadirkan NKRI di perbatasan Malaysia

Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di kawasan Juata Permai, Tarakan yang mendistribusikan elpiji hingga ke Krayan, Nunukan perbatasan Indonesia - Malaysia. Antara/Susylo Asmalyah.

Tarakan (ANTARA) - Tabung gas elpiji terlihat berjajar mulai ukuran subsidi tiga kilogram, Bright Gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di kawasan Juata Permai, Tarakan.

Stasiun pengisian elpiji tersebut yang dibangun oleh mitra Pertamina, SPPBE PT Kayan Central Pratama dan SPBE PT Kaltara Petroleum Gas, merupakan yang pertama kali di Kaltara untuk memasok elpiji untuk wilayah Tarakan dan Nunukan.

Peresmian SPPBE dan SPBE pada Senin (7/6), dilakukan Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang yang didampingi Executive General Manager Regional Kalimantan Pertamina MOR VI Freddy Anwar, Ketua DPRD Kaltara Norhayati Andris, Wali Kota Tarakan Khairul dan Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid.

SPPBE dan SPBE ini bisa disebutkan sebagai tonggak baru keberhasilan pemerintah dalam pengembangan distribusi elpiji di wilayah Kalimantan Utara.

"Selama ini kebutuhan elpiji di Kaltara dipenuhi dari Depo Balikpapan yang diangkut menggunakan kapal LCT (Landing Craft Tank), dengan waktu tempuh lima hari," kata Executive General Manager Regional Kalimantan Pertamina MOR VI, Freddy Anwar.

Waktu tempuh lima hari itu baru sampai ke Tarakan, bila cuaca cerah.  Namun bila cuaca kurang bersahabat maka dapat terjadi "force majeure" lebih dari lima hari.  Telatnya distribusi elpiji dari Depo Balikpapan, terkadang dapat menyebabkan kelangkaan elpiji di wilayah Kaltara.

SPBE dan SPPBE ini berkapasitas 500 metrik ton elpiji, sedangkan kebutuhan elpiji di Kaltara per harinya 25 metrik ton.

Freddy mengatakan, biasanya ketahanan stok elpiji di Kaltara hanya tiga hari, tapi saat ini mampu menjaga ketahanan kebutuhan elpiji sampai 20 hari.  Manfaat lainya adalah menambah jumlah lapangan kerja, hal ini tentunya berdampak positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kaltara.

"Ini aman sekali dan memberikan kontribusi yang positif bagi Kaltara. Ini 'entry point' pelayanan di Tarakan dan Nunukan," katanya.

 
Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di kawasan Juata Permai, Tarakan yang mendistribusikan elpiji hingga ke Krayan, Nunukan perbatasan Indonesia - Malaysia. Antara/Susylo Asmalyah.


Pertamina saat ini sedang mengkaji  memungkinkan SPBE dan SPPBE pengisian di Tarakan ini,  tidak hanya melayani dua wilayah namun akan diperluas ke wilayah Malinau, Bulungan dan Tana Tidung.

"Bahkan yang lebih penting membuktikan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tetap ada di perbatasan  dengan adanya SPBE ini. Kita juga komit untuk memasok elpiji di wilayah perbatasan," kata Freddy.

Dijelaskannya bahwa di Krayan, Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia sejak dua bulan lalu sudah ada pengiriman elpiji Non Public Service Obligation (NPSO) Bright 12 kilogram.  Dengan harga jual tabung plus isi Rp600.000,- dan isi ulang (Refill) seharga Rp190.000.

Tabung elpiji Bright 12 kilogram diangkut dari bandara Juata, Tarakan dengan penerbangan menuju bandara Yuvai Semaring, Krayan dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 45 menit menggunakan pesawat kecil CASA yang dimiliki Pelita Air Service  kapasitas 45 tabung.

Biasanya masyarakat Krayan memperoleh gas elpiji ukuran 14 kilogram dari Malaysia dengan harga Rp1.000.000/tabung. Belum ditambah ongkos pikul seharga Rp400.000, - Rp500.000. Bila tidak didapat elpiji tersebut, maka masyarakat Krayan untuk kegiatan memasak menggunakan kayu bakar.

"Angkutannya menggunakan pesawat, yang lebih mahal pesawat dari elpjinya. Tapi ini komitmen Pertamina bersama pemerintah membuktikan bahwa NKRI itu ada. Bahwa masyarakat yang selama ini merasa tidak diperhatikan dan itu fakta," katanya.

Hal ini untuk mewujudkan kedaulatan energi hingga ke wilayah perbatasan negara.  Merupakan upaya Pertamina untuk memastikan ketersediaan energi nasional yang berkeadilan.

Carter pesawat

Pemerintah Provinsi Kaltara mulai tahun 2022 berencana mensubsidi angkutan udara untuk manusia dan barang termasuk untuk elpiji, selama satu tahun di mana tiap bulan operasional pesawat carteran selama 80 jam.

Pesawat carteran tersebut akan mengangkut tabung elpiji dari Pertamina ke daerah di Kaltara yang tidak dapat dijangkau dengan angkutan darat dan angkutan laut.

"Dalam sebulan bisa mengatur pengangkutan ke berbagai wilayah. Dengan anggaran Rp12 miliar setahun.  Supaya masyarakat kita juga bisa menikmati, terutama daerah yang susah transpor" kata Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang.

Serta meminta Pertamina untuk mengupayakan wilayah Malinau, Bulungan dan Tana Tidung untuk distribusi tabung elpiji menggunakan SPBE dan SPPBE yang ada di Tarakan bukan dari Depo Balikpapan, supaya tidak ada istilah "anak tiri".

Selain itu, dia meminta aparat gabungan seperti kepolisian, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Bea dan Cukai serta TNI AL untuk dapat mencegah masuknya tabung elpiji yang berasal dari Malaysia.
 
Selama ini, masyarakat perbatasan masih menggunakan tabung elpiji produksi perusahaan minyak dan gas (migas) Malaysia baik perusahaan Petronas maupun Shell tabungnya berwarna hijau dan kuning.  Gubernur mengharapkan agar mulai menggunakan elpiji Bright 12 kilogram

Namun, Zainal tetap meminta tambahan kuota elpiji,  di mana saat ini hanya 1.000 tabung kalau perlu minta dua kali sampai tiga kali lipat  tabung elpiji lagi.

Sementara itu, Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid mengatakan dengan adanya SPBE dan SPPBE yang pertama di Kaltara ini, sudah menjawab masalah kekurangan tabung elpiji baik di wilayah Nunukan kota maupun di pedalaman.

Permasalahannya adalah distribusi, kemudian kuota elpiji yang memang harus ditambah, karena masyarakat yang berada di pedalaman juga harus diperhatikan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi untuk masyarakat di Nunukan.

"Persoalannya saat ini, tabung elpiji yang non subsidi kadang kekurangan.  Akhirnya masyarakat menggunakan yang subsidi. Mudah - mudahan dengan 'lock down' di Malaysia, distribusi tabung elpiji ke masyarakat jelas," kata Laura.

Tabung elpiji Malaysia 

Laura juga mengeluhkan banyaknya tabung elpiji milik Malaysia yang beredar di wilayahnya.  Namun penggunaan tabung elpiji milik "Negeri Jiran" itu bukan tanpa alasan. Hal ini disebabkan karena di Nunukan juga mengalami kekurangan gas elpiji.

Bupati juga akan mendukung pihak Pertamina dalam melakukan distribusi terutama wilayah yang susah dijangkau seperti Krayan, karena Nunukan termasuk daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Terpencil).

Selain itu, terobosan dari Pemprov Kaltara untuk menyediakan pesawat carteran untuk mengangkut tabung elpiji secara gratis ke wilayah perbatasan Nunukan - Malaysia dapat mengurangi beban masyarakat.

Kehadiran SPBE dan SPPBE di Tarakan memberikan "angin segar" untuk warga di Kaltara serta Tarakan dan Nunukan pada umumnya.

"Dengan adanya pengisian elpiji sedikit demi sedikit Kaltara jadi semakin maju," kata Ketua DPRD Kaltara Norhayati Andris.

Hal tersebut membantu pelayanan pengisian elpiji, sehingga masyarakat tidak perlu lagi antri. Kemudian, menekan agar harga elpiji bisa standar sesuai yang ditentukan  oleh pemerintah.

Serta membantu membuka lapangan pekerjaan walaupun tidak 100 persen mampu menyerap pengangguran, tapi minimal sudah membantu membuka lapangan kerja.

Intinya, masyarakat Kaltara terutama di Krayan tidak lagi masak menggunakan kayu bakar jika elpiji habis.

Dengan begitu, langkah Pertamina ini patut mendapat apresiasi karena telah mendedikasikan diri untuk negara, serta berperan dan berkontribusi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, akselerator kesejahteraan sosial dan penyedia lapangan kerja.

Selain itu menjadi lokomotif penggerak ekonomi nasional, karena kemajuan ekonomi nasional harus ditopang energi yang tangguh, kuat dan mandiri.
 

Pewarta : Susylo Asmalyah
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar