Gubes UR: Ibu bahagia bisa cegah anaknya terhindar dari stunting

id BKKBN Perwakilan Riau

Gubes UR: Ibu bahagia bisa cegah anaknya terhindar dari stunting

Guru Besar Universitas Riau Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si, saat memaparkan materi "Pendekatan Holistik dan integratif dalam mengatasi stunting" dalam seminar  "100 Profesor Bicara Stunting" digelar secara virtual dan non virtual itu oleh BKKBN Perwakilan Provinsi Riua, di Pekanbaru, Senin (5/7/2021) ANTARA/Frislidia

Pekanbaru (ANTARA) - Guru Besar Universitas Riau Prof Dr Ir Netti Herawati, MSi mengatakan penerapan mental bahagia pada setiap keluarga terutama kaum ibu diyakini mampu mencegah kasus stunting pada anak-anak balita mereka.

"Sebab pada saat hati seorang ibu bahagia, dia akan memberikan pengasuhan, gizi, perlindungan pada anak dengan bahagia tanpa kekerasan. Saat ibu menyuapi anaknya pun dengan bahagia, tersenyum sekaligus akan membantu anak mencerna makanannya dengan baik," katanya di Pekanbaru, Senin.

Prof Netty menyampaikan itu terkait materinya berjudul "Pendekatan holistik dan integratif dalam mengatasi stunting" pada seminar "100 Profesor Bicara Stunting" diikuti 300 peserta dari Sabang sampai Merauke secara daring yang digelar Kantor BKKBN Perwakilan Provinsi Riau itu.

Baca juga: Pemenuhan kebutuhan gizi perempuan penting untuk cegah stunting

Seminar ini bertujuan menghimpun berbagai masukan terkait solusi dan upaya mencegah stunting di Tanah Air khususnya di Riau.

Menurut Netty, ketika anak sudah bisa mencerna makanannya dengan baik dan mendapat asupan gizi yang baik pula maka ancaman stunting terhadap anak bisa dihindari karena metabolisme anak terjaga dengan baik pula.

Saat anak telah memiliki pencernaan yang baik, katanya lagi, maka anak akan terhindar dari kegagalan metabolisme. Kegagalan metabolisme pada usia anak dapat mengakibatkan kegagalan ginjal dan mengalami diabetas saat mereka dewasa.

Baca juga: Menkes: KB pilar pertama cegah kematian ibu dan stunting

"Untuk itu, berikan pengasuhan yang baik dan berikan senyum bahagia, akan memberikan kecerdasan pada bayinya, dan ini harus bisa dilakukan oleh keluarga yang miskin atau kaya. Sebab pada penelitian banyak pula keluarga yang miskin anaknya justru tidak alami stunting karena mereka bahagia," katanya.

Ia menguraikan observasi yang dilakukannya terhadap sejumlah keluarga dari 1.789 anak yang ditelitinya pada 2003 ditemukan pula anak-anak berasal dari keluarga kaya justru mengalami stunting, lebih karena orang tuanya tidak bahagia, sehingga gagal memberikan perawatan dan perlindungan yang baik pada anak mereka. Kuncinya adalah bahagia maka setiap siklus kehidupan makin terjaga," katanya.

Karena itu, katanya lagi, ia menekankan pemerintah daerah perlu segera melakukan pemantauan seluruh anak-anak di Riau ukur tinggi dan timbang berat badannya.

Baca juga: Sleman luncurkan "Pecah Ranting Hiburane Rakyat" cegah stunting

Ajak ortu dan anak berprilaku hidup sehat, anak harus mendapatkan asupan gizi seimbang, berjemur, olahraga dan minum air putih yang cukup.

"Upaya penting lainnya adalah berikan stimulasi pada anak agar berkembang sel otaknya, dan orang tua harus terus mendorong pembentukan hormon-hormon kebahagian anak-anaknya. Miskin tidak menjadi alasan stunting. Ketika seorang pasangan ingin menikah, maka telitilah pasangnya masing-masing, dan lainnya ciptakan bahagia dalam rumahtangga agar ibu bisa melahirkan anak yang sehat dan tidak stunting," katanya.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, Dra. Mardalena Wati Yulia, M.Si mengatakan, prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera.

Berdasarkan data Global Nutrition Report 2016 berada pada posisi 108 dari 132 negara dan untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati prevalensi kedua setelah Kamboja.

Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8 persen atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Masalah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil (48,9 persen), Berat Bayi Lahir Rendah atau BBLR (6,2 persen), balita kurus atau wasting (10,2 persen) dan anemia pada balita.

Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

Dalam upaya percepatan penurunan stunting, Pemerintah telah meluncurkan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gernas PPG) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gernas PPG dalam kerangka 1.000 HPK, indikator dan target penurunan stunting sebagai sasaran pembangunan nasional dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2017-2019.

Pewarta : Frislidia
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar