WHO peringatkan bahaya pencampuran vaksin COVID-19

id pencampuran vaksin covid 19,WHO,organisasi kesehatan dunia

WHO peringatkan bahaya pencampuran vaksin COVID-19

Ilustrasi - Tangan memegang botol vaksin dan jarum suntik, deretan kapsul dan bendera WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). ANTARA/Shutterstock/pri.

Jenewa (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar orang-orang tidak mencampur dan mencocokkan vaksin COVID-19 dari berbagai produsen, dengan menyebutnya sebagai "tren berbahaya" karena diperlukan lebih banyak data tentang dampak kesehatan.

"Ada sedikit tren berbahaya di sini. Ini akan menjadi situasi kacau di negara-negara jika warga mulai memutuskan kapan dan siapa yang akan mengambil dosis kedua, ketiga dan keempat," kata kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan dalam pengarahan daring pada Senin (12/7).

Swaminathan menyebut pencampuran vaksin "tidak berbasis data", tetapi WHO pada Selasa mengklarifikasi pernyataannya dengan menyebut bahwa beberapa data telah tersedia dan lebih banyak data diharapkan.

Baca juga: Varian COVID Delta mulai menjamur di Italia
Baca juga: EU jadikan terapi antibodi dan artritis sebagai obat pilihan COVID-19


Kelompok Ahli Penasihat Strategis tentang vaksin pada Juni mengatakan vaksin Pfizer dapat digunakan sebagai dosis kedua setelah dosis awal AstraZeneca, jika dosis yang terakhir tidak tersedia.

Hasil uji klinis lebih lanjut yang dipimpin oleh Universitas Oxford, yang akan melihat pencampuran vaksin AstraZeneca dan Pfizer serta Moderna dan Novovax, sedang berlangsung.

"Data dari studi campuran dan kecocokan vaksin yang berbeda sedang ditunggu---imunogenisitas dan keamanan keduanya perlu dievaluasi," kata WHO dalam komentar melalui surel.

Seharusnya lembaga kesehatan masyarakat yang membuat keputusan, berdasarkan data yang tersedia, dan bukan individu, kata WHO.

Sumber: Reuters

Baca juga: WHO belum pastikan perlunya suntikan penguat anti COVID
Baca juga: Antibodi dari vaksin COVID China kurang efektif melawan varian Delta

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar