"Catch 22" serial perang bernuansa komedi

id catch 22,mola tv

"Catch 22" serial perang bernuansa komedi

George Clooney tiba di penayangan perdana "Catch 22", serial terbatas yang ia bintangi dan produksi berdasarkan buku yang ditulis oleh penulis Joseph Heller, di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Selasa (7/5/2019). (REUTERS/MONICA ALMEIDA)

Jakarta (ANTARA) - Film yang menceritakan perang umumnya dibalut jalan cerita menegangkan, namun lain halnya dengan "Catch 22" yang mengisahkan Perang Dunia II yang dibungkus unsur-unsur komedi.

"Catch 22" yang disutradarai George Clooney, Grant Heslov dan Ellen Kuras, adopsi buku Joseph Heller (1961). 

Serial itu menceritakan John Yossarian (Christoper Abbott), pria penakut yang bertugas di skuadron Angkatan Udara Amerika Serikat jelang akhir Perang Dunia II. 

Kisahnya bermula saat mengikuti sejumlah pertempuran. Dia dibuat kesal karena musuh mencoba untuk membunuhnya. Pasukannya pun terus meningkatkan jumlah misi yang harus John lakukan sebagai seorang pembom.

Baca juga: Mola gratiskan tayangan hiburan selama PPKM Darurat

Baca juga: Seal, Fatboy Slim, hingga Kodaline akan tutup EURO 2020 di Mola TV


Ia pun kerap mempertanyakan keputusan atasannya Kolonel Catchcart yang diperankan oleh Kyle Chandler.

Namun, Yossarian yang sering disebut Yoyo itu tak tinggal diam. Dia selalu mencoba untuk menghindar dari tugas militer dengan melanggar aturan. Sayangnya, usahanya itu tak pernah membuahkan hasil. Kegagalan untuk "melarikan diri" dari perang ini dikarenakan sebuah peraturan ketat dan konyol bernama Catch 22.

Peraturan tersebut mengatakan, siapapun yang pergi terbang untuk berperang sendirian, tentu dia adalah orang gila. Namun, jika orang tersebut sadar untuk meminta agar tidak bertempur, maka orang tersebut dapat dinyatakan waras.

Series itu dibuka dengan adegan sirine ambulans Angkatan Darat Amerika Serikat yang nyaring terdengar di Pangkalan Udara Pianosa, Italia pada suatu siang di tahun 1944. Suasana terlihat cukup kacau pada adegan itu. Tim medis berlarian mendekati pesawat-pesawat pembom medium B-25 Mitchell yang mendarat darurat.

Adegan kemudian mengarah pada Yossarian yang menuruni pesawat dengan lumuran darah di sekujur tubuh dan wajahnya. Ia berjalan lesu melewati kekacauan yang ada di sekelilingnya. Ternyata, dia baru saja kehilangan salah satu penembaknya yang baru direkrut, Christopher Snowden yang diperankan oleh Harrison Osterfield.

Christopher tewas dalam pelukan Yossarian pada misi pemboman. Kejadian itu lantas membuat mental Yossarian terguncang. Di tengah kesibukan para tim medis dan kepulan asap mesin pesawat yang rusak, Yossarian pun berteriak histeris meratapi kepergian kru-nya.

Adegan kemudian berganti menjadi alur cerita mundur ke tahun 1941 di mana Yossarian masih menjalani pendidikan kadet di Lanud Angkatan Darat, California. Dari sinilah awal kisah Yossarian bergulir. Pada awal kisah, digambarkan bahwa Yossarian dan delapan temannya adalah seorang kelompok kadet yang bengal.

Hal itu tampak dari adegan Yossarian dan kawan-kawannya yang dimarahi karena gagal membuat formasi rapi walau sudah 11 pekan menjalani pelatihan.  Tak hanya itu saja, kebengalan Yossarian juga digambarkan pada adegan dia yang berani berselingkuh istri atasannya.

Meskipun demikian, Yossarian dan kawan-kawannya pun tetap lulus dengan pangkat letnan penerbangan. Mereka pun kemudian dikirim tugas tempur di front Mediterania pada tahun 1943. Dia dan kawan-kawannya ditempatkan di Skradon ke-256, Divisi Korps Udara ke-27, Wings Udara ke-57 Angkatan darat Amerika yang berbasis di Lanud Pianosa.

Pada adegan-adegan di Pianosa ini, karakter dari Yossarian dan kawan-kawannya lebih menonjol. Yossarian mulai mencari cara untuk bisa menghindar dari perang sebelum berpotensi tewas dalam penugasannya.

Dalam usahanya, Yossarian berusaha mendekati pendeta Kapten Albert Tappman, perawat Letnan Sue Ann Duckett, dan dokter lanud Mayor dan Daneeka. Upayanya mendekati mereka adalah untuk meyakinkan bahwa dirinya sudah gila. Sehingga, dia pun bisa direkomendasikan mengalami gangguan jiwa dan dibebastugaskan.

Namun, Daneeka justru memberitahunya bahwa keinginan tersebut mustahil. Sebab, ada sebuah peraturan yang bernama Catch 22. Yossarian pun tak kehabisan akal. Dia tetap mengusahakan berbagai cara untuk bisa segera pulang dan meninggalkan perang.

Series yang satu ini mendapatkan rating cukup baik, di Rotten Tomatoes, Catch 22 berhasil mencapai skor 84 persen dengan 90 suara. Anda bisa menonton rangkaian episode Catch 22 melalui Mola TV secara gratis selama PPKM.

Baca juga: "Escape from Mogadishu", film baru Jo In-sung soal perang di Somalia

Baca juga: Starvision turut produseri film baru Mouly Surya "Perang Kota"

Baca juga: "1917", cerita heroik Perang Dunia I dengan pengalaman visual apik


Pewarta : Lifia Mawaddah Putri
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar