Relawan Muhammadiyah harus menjadi pelopor solusi kemanusiaan

id Muhammadiyah,MDMC,MCCC,kesehatan,pandemi COVID-19

Relawan Muhammadiyah harus menjadi pelopor solusi kemanusiaan

Tangkapan layar Ketua PP Muhammadiyah Bidang Kesehatan Agus Taufiqurrahman dalam siniar Pengajian Menjelang Idul Adha 1442 Hijriah yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Jakarta, Senin (19/7/2021). (FOTO ANTARA/Asep Firmansyah)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Kesehatan Agus Taufiqurrahman mengatakan bahwa relawan Muhammadiyah harus menjadi pelopor dalam memberikan solusi setiap permasalahan kemanusiaan, sesuai dengan ajaran K.H. Ahmad Dahlan.

"Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari peduli orang-orang yang membutuhkan pertolongan," katanya dalam siniar yang pantau dari Jakarta, Senin.

Di antara ajaran K.H. Ahmad Dahlan -- pendiri Muhammadiyah -- yang berulangkali disampaikan kepada para muridnya adalah pengajaran Surat Al Ma’un di dalam Al Quran. Ahmad Dahlan menginginkan santri-santrinya ketika sudah mengkaji Al Quran, maka harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

"Ketika yang diajarkan Surat  Al Ma’un, kemudian melahirkan gerakan Muhammadiyah peduli kepada problematika umat," ujarnya.

Dalam upaya mewujudkan ajaran Ahmad Dahlan, Muhammadiyah melahirkan sejumlah organisasi otonom yang bergerak di bidang kemanusiaan, seperti Muhammadiyah Disaster Manajement Center (MDMC), Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC), dan lainnya.

Pandemi COVID-19, menurut Agus, menjadi tugas baru dari relawan Muhammadiyah di berbagai tempat dalam upaya bersama dalam mengatasi permasalahan sosial mulai dari kesehatan, ekonomi, maupun pendidikan.

"Sejak awal Muhammadiyah telah mencanangkan menjadi bagian dari yang terus berikhtiar menghadapi pandemi COVID-19 ini," kata Agus Taufiqurrahman .

Sementara itu, Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan menceritakan kisah Nabi Ibrahim A.S. yang menjadi dasar pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dalam perayaan Idul Adha bagi umat Islam, terkandung berbagai hikmah yang bisa diambil oleh para relawan Muhammadiyah.

“Ada kisah sejarah yang menarik untuk kita ikuti berkaitan dengan kepeloporan dalam tugas-tugas kemanusiaan. Ibrahim a.s. lahir dalam suasana penuh kesyirikan, ketika dia memahami bahwa Allah yang mempunyai sifat tauhid dan harus dia sembah, Ibrahim berani menunjukkan itu pada ayahnya yang memang ahli syirik," katanya.

Ia mengatakan Nabi Ibrahim A.S. juga sering dihadapkan dengan berbagai ujian, namun dengan ketakwaannya kepada Allah SWT, keyakinannya tidak goyah hingga akhirnya datang pertolongan.

"Selalu ada ujian dulu sebelum mendapatkan pertolongan, ini harus kita camkan. MDMC dan MCCC yang selalu menghadapi persoalan-persoalan di lapangan, janganlah berputus asa sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, maupun putranya Nabi Ismail," kata dia.

Ujian terberat Nabi Ibrahim, kata dia, adalah ketika mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail. Secara rasional, manusia manapun tidak akan bisa menerima, tapi Nabi Ibrahim dan Ismail menggunakan logika iman yang identik dengan logika keikhlasan.

"Sehingga setiap relawan MDMC akan menunjukkan keikhlasan dalam setiap kegiatan kemanusiaan," katanya.

Dari peristiwa dialog Nabi Ibrahim dan Ismail ketika perintah menyembelih Ismail turun dari Allah SWT, dalam pandangannya, bisa ditarik pelajaran berharga. Relawan Muhammadiyah harus mampu mengorganisasi masyarakat dengan dialog

"Jangan sampai kita hanya menolong lalu pergi, tetapi datang membantu, mendidik sampai mereka bisa menolong diri mereka sendiri," demikian Budi Setiawan.

Baca juga: Muhammadiyah: Dana kurban bisa dialihkan bantu warga terdampak pandemi

Baca juga: MDMC sampaikan strategi penanggulangan bencana di forum ASEAN

Baca juga: PP Muhammadiyah minta Presiden evaluasi penanganan COVID-19

Baca juga: MCCC tekankan pentingnya keteladanan dalam kampanye pemakaian masker

 

Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar