Polda Metro tangkap calo tiket pesawat jual surat swab PCR palsu

id Polda Metro Jaya

Polda Metro tangkap calo tiket pesawat jual surat swab PCR palsu

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus berikan keterangan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya. ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat.

Jakarta (ANTARA) - Polda Metro Jaya menangkap seorang calo tiket pesawat lantaran turut menjual surat hasil tes usap polymerase chain reaction (PCR)  COVID-19 palsu.

"Satu kasus tersangka inisial FN, kerja setip hari adalah dia melalui media online menjual tiket peswat selama ini. Tetapi dengan aturan baru selama PPKM level 4 dan Darurat kemarin, si pelaku FN ini menawarkan tiket pesawat plus tes PCR tanpa melalui tes," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa.

Baca juga: BIN gelar swab dan vaksinasi COVID-19 di Jakarta Barat

Saat dilakukan pemeriksaan, tersangka FN mengaku menjual surat hasil swab PCR palsu seharga Rp700 ribu dan untuk meyakinkan calon pembelinya, tersangka FN bahkan berani menjamin keaslian surat PCR yang dijualnya.

"Sudah lebih dari 20 surat hasil PCR palsu dibuat. Keuntungannya hampir Rp11 juta," tambahnya.

Saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa FN bukan pembuat surat hasil tes PCR tersebut. Tersangka FN mengaku memesan surat tersebut kepada rekannya yang saat ini dalam pengejaran oleh petugas kepolisian.

Baca juga: Polisi sediakan pos tes usap antigen di PN Jakarta Timur

"Kami masih mengejar, karena yang membuat PCR bukan FN. Tersangka FN juga memesan kepada seseorang yang sekarang DPO," ujarnya.

FN juga mengaku bahwa dia memesan surat PCR palsu tersebut dengan harga Rp300 ribu per satu surat.

Atas perbuatannya FN kini ditahan di Rutan Polda Metro Jaya untuk menjalani proses hukum dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Baca juga: Pemprov DKI wajibkan tes cepat antigen untuk keluar-masuk Jakarta

Dia dijerat dengan Pasal 35 Juncto Pasal 51 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun penjara.

Pewarta : Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar