Satgas dorong disiplin kolektif protokol kesehatan hadapi pandemi

id satgas covid-19,covid-19,protokol kesehatan

Satgas dorong disiplin kolektif protokol kesehatan hadapi pandemi

Tangkapan layar Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Sonny Harry B. Harmadi dalam diskusi virtual, Jakarta, Rabu (28/7/2021) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Sonny Harry B. Harmadi mendorong adanya disiplin kolektif akan protokol kesehatan dalam situasi pandemi seperti saat ini.

"Di dalam menghadapi pandemi ini kita butuh kebersamaan. Disiplin kolektif itu jauh lebih penting," kata Sonny, dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, yang dipantau secara virtual dari Jakarta, Rabu.

Sonny menjelaskan bahwa selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jawa Bali, telah terjadi peningkatan kepatuhan protokol kesehatan di mayoritas kabupaten/kota yang menjalankannya. Rata-rata kepatuhan memakai masker, bahkan sampai di atas 85 persen.

Namun, kata dia, masih terdapat kabupaten/kota yang tingkat kepatuhannya berada di 60 persen. Meski jumlahnya lebih kecil dibandingkan daerah yang patuh, tapi hal itu berpotensi berdampak kepada daerah lain.

"Dampaknya nanti bisa mengalami peningkatan kasus, lalu kemudian berdampak terhadap wilayah-wilayah sekitarnya," ujarnya.

Karena itu Satgas Penanganan COVID-19 terus mendorong Duta Perubahan Perilaku untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat bahwa disiplin yang dilakukan setiap individu akan berdampak terhadap orang lain.

Baca juga: Hanya 3 persen warga pasar sadar protokol kesehatan

Sonny mengatakan yang disasar bukan hanya kepatuhan, atau hanya sekadar mengikuti aturan dan pengawasan. Karena itu Satgas Penanganan COVID-19 ingin membangun kesadaran akan pentingnya protokol kesehatan sebagai bentuk pencegahan infeksi COVID-19.

Baca juga: Forum GenRe: Terapkan protokol kesehatan dengan sadar bukan paksaan

Karena itu Duta Perubahan Perilaku didorong untuk melakukan edukasi dengan bahasa yang sederhana dan dilakukan secara humanis dan persuasif ke masyarakat.

"Sehingga ada atau tidak ada pengawasan, masyarakat muncul kesadaran dan ada pengawasan secara internal di masyarakat, sehingga menjadi sebuah norma baru kalau ada yang tidak memakai masker saling mengingatkan satu dengan lainnya," demikian Sonny.

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar