KSP: Penanganan COVID-19 di Kudus patut dicontoh daerah lain

id Staf Presiden, Penanganan COVID-19 di Kudus, patut dicontoh daerah lain

KSP: Penanganan COVID-19 di Kudus patut dicontoh daerah lain

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Abraham Wirotomo saat memberikan keterangan kepada media usai rapat koordinasi di Command Center Dinas Kominfo Kudus didampingi Bupati Kudus Hartopo, Kapolres dan Dandim 0722/Kudus di Pendopo Kabupaten Kudus, Rabu (28/7/2021). (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus (ANTARA) - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Abraham Wirotomo menyampaikan apresiasinya terhadap penanganan kasus COVID-19 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sehingga patut menjadi contoh daerah lain karena angka kasusnya turun setelah terjadi lonjakan.

"Apa yang dilakukan oleh Pemkab Kudus dalam penanganan COVID-19 menjadi 'best practice'. Kami juga belajar dari Komandan Kodim 0722/Kudus Letkol Kav Indarto dan Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma atas keberhasilannya bersama pemda menekan angka kasus COVID-19," ujarnya saat memberikan keterangan kepada media usai rapat koordinasi di Command Center Dinas Kominfo Kudus, Rabu.

Menurut dia, kunci keberhasilan Kabupaten Kudus menekan angka kasus COVID-19, yakni sinergi dengan berbagai pihak, transparansi data kasus, serta eksekusi yang cepat.

Baca juga: KSP : Pasokan oksigen di Kabupaten Bandung masih kurang

Sementara itu, Bupati Kudus Hartopo membenarkan bahwa penanganan COVID-19 di Kabupaten Kudus merupakan hasil kerja sama semua pihak, termasuk pihak yang bahu membahu melawan wabah sehingga dalam kurun waktu sekitar satu bulan Kudus berangsur pulih.

"Kami berterima kasih atas kolaborasi dan peran serta dari seluruh elemen, mulai dari Pemerintah Pusat, Provinsi, TNI dan Polri, serta ketaatan masyarakat selama PPKM Darurat dan juga pihak swasta seperti PT Djarum yang senantiasa tanggap dalam menghadapi wabah sehingga Kudus bisa keluar dari zona merah penyebaran corona," ujarnya.

Ia berharap nantinya masyarakat semakin menaati protokol kesehatan secara ketat sehingga Kudus segera berubah status menjadi zona hijau.

Baca juga: Moeldoko ajak anak muda aktif wujudkan visi Indonesia Emas 2045

Kepala Dinas Kesehatan Kudus Badai Ismoyo menambahkan membaiknya kondisi di Kudus dapat dilihat dari tidak adanya desa di Kudus yang berstatus zona merah dengan sebaran 44 desa berstatus zona oranye, 20 desa zona kuning dan 22 desa zona hijau.

"Tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di Kudus juga semakin menurun karena saat ini hanya 15 persen dari yang semula nyaris semuanya penuh di bulan Juni 2021. Sementara keterisian ruang ICU menurun hingga kisaran 60 persen dari total 66 ruangan yang tersedia," ujarnya.

Salah satu upaya mengurangi tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit juga dilakukan oleh Djarum Foundation dengan menyalurkan bantuan hospital bed paramount bed 3 crank sebanyak 300 unit ke beberapa rumah sakit di Kudus dan Jateng sebagai solusi membendung lonjakan pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Baca juga: KSP minta percepat penyaluran bantuan 200 ribu ton beras ke masyarakat

Bantuan lain yang disalurkan berupa seperangkat alat PCR test yang terdiri dari refrigerated centrifudge, vortex mixer, dan digital dry bath. Salah satu rumah sakit yang menerima bantuan alat PCR test tersebut RSUD Loekmono Hadi Kudus.

Bantuan alat PCR test tersebut sangat membantu proses testing dan tracing bagi warga Kudus menjadi lebih cepat sehingga dapat membantu proses mitigasi kondisi di Kudus, terutama ketika terjadi lonjakan kasus seperti pada bulan Juni 2021.

RSUD Loekmono Hadi Kudus juga menerima bantuan alat terapi oksigen High Flow Nasal Cannula (HFNC) yang bertujuan memberikan suplai oksigen bagi para penderita corona yang mengalami gangguan pernapasan untuk mempercepat proses kesembuhan dan berfungsi mencegah agar pasien tidak memasuki fase berat akibat sakit yang dideritanya. 

Baca juga: Penanganan lonjakan COVID di Klaten mencontoh Kudus

Baca juga: BOR Isolasi rumah sakit COVID-19 di Kudus turun jadi 32 persen

Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar