Kemendikbudristek: Nilai kebinekaan di sekolah tentukan potret bangsa

id Kemendikbudristek, sekolah,kebinekaan

Kemendikbudristek: Nilai kebinekaan di sekolah tentukan potret bangsa

Tangkapan layar Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Kamis (5/8/2021). ANTARA/Indriani.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Anindito Aditomo mengatakan nilai kebinekaan di sekolah berperan penting dalam menentukan potret bangsa pada masa depan.

“Nilai kebinekaan di sekolah sangat menentukan potret bangsa pada masa depan. Kita harus melihat sejak dari sekolah agar dapat mengetahui apa yang harus dilakukan,” ujar Anindito dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Kemendikbudristek tidak akan paksakan AN jika kondisi tidak aman

Dia menambahkan pihaknya percaya jika insan pendidikan di sekolah adalah orang-orang yang toleran dan mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Namun, kasus intoleransi di sekolah yang terjadi perlu mendapatkan perhatian dan intervensi agar tidak terus berlanjut.

Untuk itu, Kemendikbudristek menyelenggarakan Asesmen Nasional (AN) yang terdiri dari tiga komponen, yakni Asesmen Kompetensi Minimum, Survei Karakter dan Survei Lingkungan Sekolah.

Dia menyebut ada beberapa indikator AN yang terkait dengan kebinekaan, seperti menghargai perbedaan, mendukung hak sipil yang dijamin UU, maupun kesetaraan gender.

Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi mengatakan hasil riset yang dilakukan pada 2018 terhadap siswa yang mengikuti organisasi rohani Islam, sekitar 70 persen siswa tersebut enggan mengucapkan selamat hari raya pada siswa yang beragama lain.

“Mungkin ini hal terlihat kecil, namun berdasarkan riset kami, ini seperti puncak gunung es. Ada pemikiran yang masuk di kebatinan siswa yang membuat hubungan dengan siswa lain yang berbeda keyakinan tidak se-interaktif seperti dulu, “ kata Mujtaba.

Baca juga: Kemendikbudristek sebut Asesmen Nasional bukan sekadar pemetaan

Baca juga: Pemerintah kembali lanjutkan bantuan kuota dan bantuan UKT

Mujtaba menambahkan lingkungan belajar sangat menentukan cara berpikir siswa dan bagaimana masyarakat bersikap. Pihaknya mendukung adanya Survei Lingkungan Belajar untuk mengetahui kondisi siswa, guru, kepsek dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah.

Anggota Komisi X DPR, Sofyan Tan mengatakan mendukung adanya Survei Lingkungan Belajar di sekolah. "Survei ini merupakan komponen penting untuk mengetahui apa yang ada di pikiran generasi muda," ujarnya.


Pewarta : Indriani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar