Binpres PBSI cari program alternatif regenerasi atlet bulu tangkis

id bulu tangkis,pp pbsi,pelatnas cipayung,kabid binpres,rionny mainaky,bwf

Binpres PBSI cari program alternatif regenerasi atlet bulu tangkis

Mencari Bibit Atlet Bulu Tangkis Sejumlah pebulutangkis junior mengikuti kompetisi Super Badminton di GOR Tawang Alun, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (24/8). Kompetisi yang diikuti sebanyak 259 pebulutangkis tersebut, bertujuan untuk mencari bibit atlet berbakat. Antara Jatim/Budi Candra Setya/zk/16.

Jakarta (ANTARA) - Pengurus Pusat Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) melalui Bidang Pembinaan dan Prestasi tengah berupaya mencari program alternatif untuk meneruskan regenerasi atlet yang terhambat akibat pandemi Covid-19 sejak tahun lalu.

Ketua Binpres PBSI Rionny Mainaky, dalam rilis PBSI pada Rabu menuturkan, tantangan untuk mencetak atlet penerus bulu tangkis nasional semakin mencuat sejak pandemi COVID-19 sehingga banyak turnamen tingkat junior yang ditiadakan.

"Memang situasinya cukup sulit. Tapi saya sudah memikirkan bahwa kami tidak boleh mengharap turnamen junior saja. Mereka akan kami dorong untuk ikut di kelas senior, tingkat 'International Challenge' misalnya," kata Rionny.

Ia menilai bahwa aksi cepat harus dilakukan karena jika hanya mengandalkan pelaksanaan turnamen junior, maka tidak akan ada kejelasan selama pandemi belum tertangani secara tuntas.

Apabila terus seperti itu, maka dipastikan regenerasi atlet akan terhambat, katanya menegaskan.

Baca juga: PBSI fokus persiapan turnamen beregu setelah Korea Open batal
Baca juga: BWF batalkan Korea dan Macau Open 2021 karena pembatasan COVID-19


Ketidakpastian itu diperkuat dengan pengumuman Federasi Badminton Dunia (BWF) yang mengeluarkan pembatalan dan penundaan sejumlah turnamen tahun 2021.

Salah satunya adalah Kejuaraan Dunia Junior BWF 2021, yang rencananya berlangsung di China, ditunda pelaksanaannya karena negara tersebut belum bisa menggelar turnamen apapun di tahun ini. BWF juga belum menentukan tuan rumah dan tanggal pengganti.

PBSI mengaku kecewa atas pembatalan dan penundaan turnamen BWF, namun menyadari bahwa pandemi belum usai, sehingga aspek kesehatan dan keselamatan pemain adalah yang paling utama.

"Tapi memang kembali lagi, ini masa pandemi dan belum selesai. Negara di kawasan Asia masih berjuang untuk lepas dari COVID-19 dan saya menyadari itu. Kesehatan dan keselamatan semua adalah hal terpenting," pungkasnya.

Baca juga: Ketenangan hati kunci Greysia/Apriyani juarai Olimpiade
Baca juga: Vita Marissa: orang tua punya peran besar jaga regenerasi atlet


 

Pewarta : Roy Rosa Bachtiar
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar