Tambang batu bara ancam habitat gajah Sumatera di Bengkulu

id Bengkulu, Gajah Sumatera, Tambang Batu Bara, Habitat Gajah

Tambang batu bara ancam habitat gajah Sumatera di Bengkulu

Tiga orang pawang gajah di PLG Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu saat membentangkan spanduk sebagai bentuk protes terhadap keberadaan tambang batu bara yang mengancam habitat gajah Sumatera di kawasan Bentang Alam Sebelat. (Foto ANTARA/Carminanda)

Bengkulu (ANTARA) - Aktivis lingkungan hidup Bengkulu yang tergabung dalam Konsorsium Bentang Alam Seblat menyebut keberadaan tambang batu bara di daerah itu menjadi ancaman nyata bagi habitat gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di provinsi tersebut.

Anggota Konsorsium Bentang Alam Seblat Ali Akbar di Bengkulu, Jumat mengatakan, salah satu habitat gajah Sumatera yang terancam karena aktivitas tambang batu bara yakni di kawasan Bentang Seblat di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

"Bentang Seblat tidak lepas dari ancaman yang setiap tahun terus meningkat terutama industri ekstraktif batu bara. Contoh nyata dengan keberadaan PT. Inmas Abadi yang sampai saat ini izin usaha pertambangan produksi masih belum dicabut Menteri ESDM, padahal Bentang Alam Sebelat bukan untuk tambang batu bara tapi untuk kehidupan makhluk hidup termasuk gajah," kata Ali.

Baca juga: Bentang Seblat harapan terakhir pelestarian gajah Sumatera di Bengkulu

Menurut Ali, sebagai hewan yang dilindungi, gajah Sumatera memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan berada pada posisi sebagai konsumen tingkat satu pemakan tumbuhan (herbivora).

"Apabila populasi gajah Sumatera berkurang, maka jaringan makanan serta keseimbangan ekosistem terganggu," jelasnya.

Sementara itu, anggota Lingkar Inisiatif Indonesia Edwin Ravinki menyebut berdasarkan data yang diperoleh dari hasil patroli rutin yang dilakukan dalam dua tahun terakhir ditemukan fakta jika habitat gajah terus beralih fungsi dan terjadi penyempitan.

Parahnya lagi, dalam kurun waktu dua tahun terakhir pihaknya menemukan empat ekor bangkai gajah Sumatera dalam keadaan membusuk di dalam hutan. Temuan ini disinyalir erat kaitannya dengan terus menyempitnya habitat gajah.

"Perburuan dan kerusakan habitat menjadi ancaman terbesar keberlanjutan hidup gajah Sumatera di Bengkulu. Kami menemukan fakta bahwa habitat gajah ini terus menyempit," ucap Edwin.

Baca juga: Aktivis bentangkan spanduk tolak tambang di habitat gajah Bengkulu

Kepala Resort PLG Seblat Mustadin menilai tantangan mempertahankan habitat gajah Sumatera di kawasan Bentang Seblat semakin hari semakin sulit karena berhadapan dengan kepentingan perusahaan besar.

Ia berharap upaya perlindungan demi kelestarian ekosistem dan habitat gajah Sumatera di kawasan Bentang Seblat ini mendapat perhatian dari banyak pihak.

"Maka dari itu kita mengajak seluruh pihak bersama-sama melindungi habitat dan masa depan gajah. Saat ini tantangannya semakin sulit, pihak lain banyak yang berkepentingan namun bertentangan dengan keselamatan gajah," kata Mustadin.

Sebelumnya, dalam memperingati hari gajah sedunia tahun 2021, anggota Konsorsium Bentang Alam Seblat menggelar aksi simpatik dengan membentangkan spanduk raksasa berisi pesan penyelamatan gajah Sumatera dari ancaman pertambangan batu bara di wilayah Bentang Seblat, Bengkulu.

Spanduk bertuliskan "coal kill elephant, Seblat landscape for future" dibentangkan para aktivis dan pawang gajah bersama tiga ekor gajah Sumatera di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara.

Baca juga: Bentang Seblat habitat terakhir gajah di Bengkulu
Baca juga: Harimau Ciuniang Nurantih dilepas ke Taman Nasional Kerinci Seblat

Pewarta : Carminanda
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar