Penyintas gempa Haiti perlu bantuan, korban tewas hampir 2.000

id haiti,gempa

Penyintas gempa Haiti perlu bantuan, korban tewas hampir 2.000

Bagian motor terlihat diantara reruntuhan hotel yang hancur akibat gempa bermagnitudo 7,2 Sabtu lalu, di Les Cayes, Haiti, Senin (16/8/2021). REUTERS/Ricardo Arduengo/HP/djo (REUTERS/RICARDO ARDUENGO)

Les Cayes (ANTARA) - Para penyintas gempa bumi di Haiti, yang menewaskan sedikitnya 1.941 orang memerlukan makanan, tempat bernaung dan perawatan medis.

Upaya penyelamatan pada Selasa dilanjutkan setelah badai tropis menghantam negara di Karibia itu dengan hujan yang menyebabkan banjir berbahaya.

Kerusakan akibat gempa di sejumlah rumah sakit besar menghambat upaya kemanusiaan. Para dokter di tenda-tenda darurat berjuang menyelamatkan nyawa mereka yang terluka, termasuk anak-anak dan lansia. Namun mereka tak mampu membantu semua pasien.

"Tak ada cukup dokter dan sekarang dia sudah meninggal," kata Lanette Nuel yang duduk lunglai di samping jenazah putrinya di luar gedung rumah sakit Les Cayes, salah satu kota yang terdampak parah oleh gempa dan hujan badai.

Putrinya yang berusia 26 tahun dan beranak dua itu tertimpa reruntuhan saat gempa berkekuatan 7,2 magnitudo mengguncang. Kini dia terbaring diselimuti kain putih di atas lantai.

"Kami datang kemarin sore, dia meninggal pagi ini. Saya tak bisa melakukan apa-apa," kata ibunya.

Gempa pada Sabtu itu meruntuhkan puluhan ribu bangunan di negara termiskin di benua Amerika tersebut, yang masih belum pulih dari gempa 11 tahun lalu yang menewaskan 200.000 orang.

Selain korban tewas, gempa terakhir juga melukai 9.915 orang dan banyak lagi yang dilaporkan hilang atau tertimbun reruntuhan, kata dinas pelindungan sipil pada Selasa sore.

Upaya penanggulangan menjadi rumit akibat krisis politik dan sulitnya akses dari ibu kota ke bagian selatan karena sejumlah tempat dikuasai geng-geng kriminal.

Banjir bandang dan longsor akibat badai tropis Grace, yang pada Selasa sore bergerak melintasi Jamaika, telah memperburuk situasi.

"Tak terhitung banyaknya keluarga di Haiti yang kehilangan semua miliknya akibat gempa itu kini hidup dengan kaki di dalam air akibat banjir," kata Bruno Maes, perwakilan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) di negara itu.

"Saat ini, sekitar setengah juta anak Haiti tidak memiliki atau memiliki akses terbatas ke tempat penampungan, air bersih, perawatan kesehatan dan gizi."

PBB mengatakan mereka telah mengalokasikan dana darurat 8 juta dolar (Rp115,1 miliar) untuk membantu para penyintas.

Negara-negara Amerika Latin seperti Venezuela, Chile, Meksiko, Panama, Kolombia dan negara tetangga Republik Dominika mengirimkan makanan, obat-obatan dan keperluan lain. Amerika Serikat juga mengerahkan pasokan dan tim penyelamat

Meski geng-geng kriminal menutup akses jalan selama berbulan-bulan, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan "negosiasi berhasil" dicapai sehingga konvoi bantuan bisa menjangkau Les Cayes.

Rumah sakit di Les Cayes, sekitar 150 km arah barat ibu kota Port-au-Prince, bahkan lebih kewalahan pada Selasa ketika para pasien yang dirawat di tenda-tenda dipindahkan ke dalam gedung untuk menghindari badai tropis.

Direktur RS Peterson Gede mengatakan paramedis sudah berusaha melakukan yang terbaik.

"Kami tak mampu menangani semua pasien," kata dia. "Dan kami sudah menerima bantuan, tapi tidak cukup."

Di kampung tenda di Les Cayes yang banyak ditinggali anak-anak dan bayi, lebih dari seratus orang berusaha memperbaiki atap darurat dari batang kayu dan terpal yang rusak akibat badai Grace. Beberapa dari mereka berlindung di bawah lembaran plastik.

Mathieu Jameson, wakil kepala komite yang dibentuk oleh penghuni kampung tenda, mengatakan ratusan orang di sana sangat membutuhkan makanan, tempat berlindung dan perawatan kesehatan.

"Kami tak punya dokter. Kami tak punya makanan. Tiap pagi warga baru bertambah. Kami tak punya kamar mandi, tak ada tempat untuk tidur. Kami perlu makanan, kami perlu lebih banyak tenda," kata Jameson, menambahkan bahwa kampung tenda masih menunggu bantuan pemerintah.

Bau Busuk

Gempa yang menimpa Haiti terjadi lebih dari sebulan setelah negara itu terjerumus dalam krisis politik oleh pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 7 Juli.

Penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan mengatakan pada Selasa terlalu dini untuk mengukur dampak gempa pada proses politik di Haiti dan bahwa AS, negara donor terbesar, belum punya rencana untuk mengirim tentara ke sana.

Tim penyelamat telah menggali di reruntuhan untuk mencari penyintas. Pada Selasa pagi 16 orang ditemukan masih hidup bersama sembilan jenazah, kata otoritas pelindungan sipil Haiti.

Namun harapan semakin pudar, bau debu dan mayat yang membusuk meruap ke udara.

"Kami datang dari mana-mana untuk membantu: dari utara, dari Port-au-Prince, dari mana saja," kata Maria Fleurant, petugas pemadam kebakaran dari Haiti utara.

Perdana Menteri Ariel Henry, yang dilantik kurang dari sebulan lalu setelah peristiwa pembunuhan Moise, berjanji akan mendistribusikan bantuan kemanusiaan yang lebih baik daripada yang diberikan saat bencana gempa 2010 terjadi.

Meski miliaran dolar bantuan telah dikucurkan di Haiti setelah gempa 2010 itu dan badai Matthew pada 2016, banyak warga Haiti mengatakan mereka merasakan sedikit manfaat dari upaya-upaya pemerintah yang tidak terkoordinasi, di tengah kelangkaan pangan dan kebutuhan pokok yang terus terjadi.

"Gempa ini adalah bencana besar yang menimpa kami di tengah musim badai," kata Henry kepada wartawan. Dia mengatakan pemerintah tidak akan mengulangi "kesalahan sama" yang dilakukan pada 2010.

Sumber: Reuters
Baca juga: Gempa Haiti berkekuatan 7,2 magnituda tewaskan lebih dari 300 orang
Baca juga: Gempa Haiti, Kemlu pastikan tak ada korban WNI
Baca juga: Naomi Osaka sumbangkan pendapatannya untuk korban gempa Haiti

Pewarta : Anton Santoso
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar