KLHK arusutamakan langkah adaptasi perubahan iklim di pesisir

id perubahan iklim,karbon biru

KLHK arusutamakan langkah adaptasi perubahan iklim di pesisir

Tangkapan layar Dirjen PPI KLHK Laksmi Dhewanthi (kanan) dalam diskusi virtual yang dipantau dari Jakarta, Rabu (8/9/2021) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan langkah untuk mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim terutama di daerah pesisir.

"Di dalam dokumen updated NDC telah diuraikan beberapa program yang dikaitkan dengan adaptasi perubahan iklim, program-program kelautan yang dikontekskan dengan adaptasi perubahan iklim," kata Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Laksmi Dhewanthi dalam diskusi virtual tentang karbon biru, dipantau dari Jakarta pada Rabu.

Beberapa program itu seperti pengarusutamaan adaptasi dalam kebijakan dan program di wilayah pesisir dan laut. Dalam dokumen kontribusi penurunan emisi atau Nationally Determined Contribution (NDC) dijelaskan Indonesia akan mengambil aksi seperti implementasi adaptasi berbasis ekosistem dalam pengembangan wilayah pesisir.

Selain itu akan dilaksanakan pula pengelolaan ekosistem mangrove secara terpadu dan peningkatan pengendalian pencemaran di zona pesisir dan laut, termasuk penanganan sampah plastik di wilayah itu.

Pemerintah juga akan mengembangkan kawasan pesisir yang tahan iklim. Hal itu dicapai lewat peningkatan kesadaran masyarakat tentang peran penting ekosistem pesisir dan meminimalisir dampak bencana alam.

Baca juga: KLHK upayakan langkah dorong masuknya karbon biru dalam NDC

Baca juga: KLHK: Konservasi penting di mitigasi perubahan iklim sektor kelautan


Dilakukan juga restorasi kawasan pesisir yang terlanjur rusak dan meningkatkan aspek sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan pesisir yang bergantung kepada sumber daya di wilayah tersebut.

Langkah itu diambil karena ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun memilik potensi menyimpan dan menghasilkan karbon atau yang dikenal dengan istilah karbon biru atau blue carbon.

Terkait pemanfaatan potensi karbon biru di wilayah pesisir Indonesia, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Nani Hendiarti mengatakan bahwa perlu adanya keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan ekosistem laut.

"Dalam konteks peran atau pentingnya blue carbon ini di kawasan pesisir kita perlu menyatukan antara konservasi dengan pemanfaatan ekosistem laut dan pantai yang berkelanjutan," kata Nani dalam diskusi tersebut.

Peran keduanya penting karena dalam bentuk adaptasi akan bersentuhan langsung dengan masyarakat dan dari sisi mitigasi akan berkontribusi dalam upaya pengendalian perubahan iklim nasional.

Baca juga: Responsif perubahan iklim, MedcoEnergi komitmen hasilkan energi hijau

Baca juga: Sri Mulyani: Kebutuhan RI atasi perubahan iklim capai Rp3.461 triliun

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar