NU-Muhammadiyah apresiasi gerakan nasional revolusi mental

id Revolusi mental, Nu, Muhammadiyah, Menko PMK

NU-Muhammadiyah apresiasi gerakan nasional revolusi mental

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini. ANTARA/nu.or.id/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengapresiasi gerakan nasional revolusi mental (GNRM) di bawah koordinasi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudyaan (PMK) Muhadjir Effendy.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengapresiasi dan mendukung GNRM melalui partisipasi masyarakat. Helmi mendorong gerakan itu berorientasi kepada penguatan nilai luhur budaya bangsa.

"Yakni tepa selira, gotong royong, saling menghormati dan membangun jati diri bangsa,” kata Helmy.

Baca juga: Pemerintah bangun gerakan solidaritas nasional penanganan COVID-19

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan bahwa GNRM merupakan program yang strategis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang maju sebab faktor mental sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Karena itu sangat tepat ketika pemerintah menjadikan revolusi mental sebagai gerakan nasional.

“Selama beberapa tahun, Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian PMK bekerjasama dalam gerakan nasional Revolusi Mental. Program revolusi mental sangat bermanfaat dalam membangun kehidupan sosial yang rukun, tolong menolong, gotong royong dan sikap positif serta kesetiaan terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas Mu'ti.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Panut Mulyono mengatakan bahwa Gerakan Nasional Revolusi Mental melalui partisipasi masyarakat 2020-2024 untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dari gerakan itu, dia berharap akan tumbuh insan-insan Indonesia yang memiliki sifat melayani, bersih dan jujur, tertib, mandiri, dan selalu menjaga persatuan bangsa.

"Hal ini sebenarnya merupakan karakter dan jati diri bangsa Indonesia," kata Panut yang juga Rektor Universitas Gadjah Mada.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menambahkan bahwa dalam dunia pendidikan, gerakan ini menjadi ruh pendidikan karakter yang harus ditanamkan, dibiasakan dan dilaksanakan dalam kehidupan sekolah melalui kegiatan kurikuler, ko kurikuler dan intrakurikuler.

“Gerakan revolusi mental adalah nafas dalam pendidikan sehingga harus menjadi gerakan bersama lintas kementerian terutama Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang pelaksanaanya dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK),” jelas Unifah.

Baca juga: Kanwil Kemenkumham DKI gelar acara Penguatan Revolusi Mental
Baca juga: Revolusi mental dalam wujud pendidikan antikorupsi usia dini oleh KPK
Baca juga: Meniti revolusi mental via sepak bola

Pewarta : Fauzi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar