Pakar: EBT dorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan

id ebt,energi baru terbarukan,pertumbuhan ekonomi,menteri esdm,Amory Lovins,ietd 2021

Pakar: EBT dorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan

Tangkapan layar Pakar energi baru terbarukan (EBT), Profesor Amory Lovins yang merupakan Guru Besar Precourt Institute for Energy Stanford University, Cofounder and Chairman Emeritus RMI pada Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2020 yang digelar Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) dan Institute for Essential Services Reform (IESR) secara virtual diikuti peserta dalam dan luar negeri, Senin (20/9/2021). ANTARA Foto/ Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Pakar Energi Baru Terbarukan (EBT) Profesor Amory Lovins yang merupakan Guru Besar Precourt Institute for Energy Stanford University, Cofounder and Chairman Emeritus RMI, menyebutkan EBT akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan.

Hal itu dikemukakan Lovins pada Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021 yang digelar Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) dan Institute for Essential Services Reform (IESR) secara virtual yang diikuti peserta dalam dan luar negeri, Senin.

Menurut Lovins, penggunaan EBT menjadi hal mutlak ke depan, demi menjaga bumi dan isinya dari kerusakan. Karena itu, momen transisi energi ini merupakan kesempatan untuk secara bertahap menggantikan energi fosil ke EBT yang ramah lingkungan.

Dia mengatakan EBT itu biayanya murah dan pemanfaatannya dapat menurunkan efek Gas Rumah Kaca (GRK), kendati pada awal pelaksanaannya banyak terkendala dengan pengadaan infrastruktur.

Baca juga: Presiden tekankan pentingnya Transformasi EBT dan ekonomi hijau

Mengenai EBT yang dapat dikembangkan di masyarakat dan tergolong murah, lanjut dia, biogas dapat menjadi alternatif di Indonesia, hanya saja perlu dibarengi dengan perubahan prilaku dalam pemanfaatan EBT tersebut.

"Jadi EBT itu intinya bukan persoalan biaya, tetapi energi ini hemat biaya saat berproduksi dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi lebih baik dan ramah lingkungan," katanya.

Sementara itu Menteri ESDM Arifin Tasrif pada kesempatan yang sama mengatakan pihak terus berupaya untuk mendorong pemanfaatan EBT, meskipun saat transisi energi diakui penggunaan energi fosil masih mendominasi yakni sekitar 90 persen, sedang EBT masih sekitar 12 persen.

Namun ke depan, lanjut dia, sudah dicoba diantisipasi dan ditangani dengan melalui reformasi kebijakan dan regulasi, termasuk meningkatkan perencanaan menengah dan jangka panjang terhadap sistem daya rendah karbon.

Selain itu mereformasi industri sektor listrik, juga menyesuaikan model bisnis utilitas serta mempromosikan investasi sektor swasta yang lebih kuat untuk mendukung EBT.

Baca juga: Kementerian ESDM: Regulasi "grid code" perkuat kinerja pembangkit EBT
 
Tangkapan layar penjelasan secara infografik yang disampaikan Pakar energi baru terbarukan (EBT), Profesor Amory Lovins dan merupakan Guru Besar Precourt Institute for Energy Stanford University, Cofounder and Chairman Emeritus RMI pada Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2020 yang digelar Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) dan Institute for Essential Services Reform (IESR) secara virtual diikuti peserta dalam dan luar negeri, Senin (20/9/2021). ANTARA Foto/ Suriani Mappong

Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar