Pengamat: Loyalitas jadi pertimbangan dalam pengangkatan Panglima TNI

id Penggantian Panglima TNI,Pengamat Militer,Khairul Fahmi,TNI

Pengamat: Loyalitas jadi pertimbangan dalam pengangkatan Panglima TNI

Arsip - Prajurit TNI dengan alutsista melakukan defile dalam Gladi Bersih HUT Ke-74 TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta TImur, Kamis (3/10/2019). HUT Ke-74 TNI akan diperingati pada Sabtu 5 Oktober 2019 dengan mengangkat tema TNI Profesional Kebanggaan Rakyat. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp.

Jakarta (ANTARA) - Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan faktor loyalitas akan menjadi pertimbangan penting bagi Presiden Joko Widodo dalam mengangkat Panglima TNI pengganti Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang segera pensiun.

"Secara politik, saya kira kebutuhan Presiden hari ini adalah sosok panglima yang memiliki loyalitas total, terutama untuk memuluskan agenda-agenda politik kenegaraan dan pemerintahan," kata Khairul di Jakarta, Selasa.

Baca juga: DPR RI minta Panglima TNI baru ubah konsep pembangunan pertahanan

Baca juga: Ahli harap panglima TNI baru hapus kekerasan prajurit terhadap sipil

Menurut dia, Panglima TNI tidak boleh memiliki agenda sendiri di luar agenda politik negara, terlebih terkait politik kekuasaan. 

Oleh karena itu, Presiden maupun DPR diharapkan tidak terjebak dalam pembangunan citra dan reputasi di ruang-ruang digital. 

"Realitas yang ada harus dilihat secara jernih dan objektif," kata Khairul.

Pertimbangan lain, menurut Khairul, adalah pentingnya menjaga kesetaraan posisi dan kesempatan bagi tiap matra, faktor usia, dan memperhatikan bentuk-bentuk ancaman potensial.

Ia menegaskan, siapa pun yang menjadi Panglima TNI pengganti Hadi Tjahjanto akan dihadapkan pada sejumlah tantangan besar. 

Selain konflik Laut China Selatan yang kembali memanas dan rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia, ada pula tantangan terkait pengembangan organisasi, moral dan kompetensi prajurit, modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), kesejahteraan prajurit, dan penjagaan terhadap potensi peran berlebihan dan eksesif TNI yang melampaui batasan tugas pokoknya.

Khairul Fahmi pun menyinggung kekhawatiran yang sering muncul terkait kemampuan menyelesaikan masalah sebagai salah satu kriteria ideal Panglima TNI. Ia menilai kekhawatiran itu tidak berdasar.

"Tak perlu ada kekhawatiran terkait kemampuan menyelesaikan masalah. Seorang Panglima TNI tidak bekerja sendiri. Dia akan didukung dan ditopang oleh para staf dan komandan satuan di jajaran Mabes TNI maupun di tiap-tiap matra," ujarnya.

Persoalan soliditas TNI, menurut Khairul, juga tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, tidak akan ada resistensi di sana. 

"Organisasi TNI sudah cukup mapan dan mampu secara cepat beradaptasi dengan perubahan kepemimpinan," kata Khairul.

Pewarta : Tri Meilani Ameliya
Editor: Sigit Pinardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar