Transformasi perpustakaan dukung pelaksanaan MBKM

id MBKM, merdeka belajar kampus merdeka, kampus merdeka

Transformasi perpustakaan dukung pelaksanaan MBKM

Tangkapan layar - Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dalam webinar beberapa waktu lalu. ANTARA/Dokumentasi Pribadi.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan transformasi pengelolaan dan pelayanan perpustakaan di perguruan tinggi dapat dilakukan selaras dengan transformasi sistem pembelajaran.

“Transformasi harus dilakukan secara menyeluruh. Transformasi dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Transformasi kedua unsur ini akan menghasilkan alumnus yang kreatif dan inovatif dalam menciptakan lapangan kerja,” ujar Syarif dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Dia menambahkan tujuan akhir pendidikan perguruan tinggi bukan sekadar lulus dengan nilai memuaskan. Perguruan tinggi diminta mampu menjabarkan Kampus Merdeka, sehingga hasilnya dapat dideskripsikan. Apalagi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi berubah cepat. Percepatan harus dilakukan di dalam ruang kelas, sehingga para mahasiswa dapat berinovasi.

Menurut dia ada delapan kompetensi yang harus dimiliki alumnus perguruan tinggi untuk untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul. Kompetensi tersebut yakni kemampuan intelektual, kemampuan emosional, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan interpersonal, kemampuan berpikir kritis dan strategis, motivasi dan komitmen, kesadaran diri, serta kemampuan belajar cepat dan mengembangkan diri.

Baca juga: Perpusnas mutakhirkan data profil perpustakaan Indonesia

Baca juga: Perpusnas ingin menumbuhkan budaya menulis untuk menguatkan literasi

“Jadi ini yang harus dijabarkan dalam kampus merdeka, bukan sekadar dogma. Bagaimana paradigmanya untuk mengubah, karena outcome-nya yang dipastikan,” tambah dia.

Saat ini paradigma perpustakaan harus berubah. Fungsi perpustakaan sebesar 10 persen menjalankan manajemen koleksi, 20 persen menjalankan manajemen ilmu pengetahuan, dan 70 persen menjalankan transfer ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, pustakawan juga harus bertransformasi, tidak sekadar menunggu pemustaka dan menjaga buku.

“Sekarang bagaimana pustakawan menyiapkan ilmu yang relevan dengan perkembangan yang ada. Karena sekarang perpustakaan itu tidak boleh ditanya satu buku, dia kasih satu buku. Tidak bisa tidak, jika pemustaka membutuhkan 10 informasi, berikanlah 100. Itu inovasi. Kalau minta satu, kita berikan satu, nah sudah selesailah perpustakaan,” kata Syarif.

Sementara itu, Rektor UI, Ari Kuncoro, menjelaskan MBKM merupakan kebijakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan lulusan pendidikan tinggi sesuai dengan kebutuhan zaman dan kebutuhan dunia industri. MBKM memberi kebebasan dan otonomi kepada pendidikan dan merdeka dari birokrasi.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah membawa perubahan yang sangat pesat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan transformasi pembelajaran untuk membekali dan menyiapkan lulusan pendidikan tinggi agar menjadi generasi yang unggul dan siap menghadapi tantangan zaman.

Baca juga: Perpustakaan kampus harus bisa diakses mahasiswa dengan mudah

Baca juga: Akademisi: Perpustakaan digital dorong minat baca mahasiswa


Pewarta : Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar