Bengkulu (ANTARA News) - Belasan ribu warga Bengkulu menyaksikan "arak gedang" atau pawai akbar pada perayaan tabot di daerah itu yang berlangsung di Jalan Achmad Yani pada 9 Muharam 1433 Hijriah.

"`Arak gedang` malam ini diikuti sebanyak 33 tabot yang terdiri dari 17 tabot sakral dan 16 tabot turutan dengan disaksikan belasan ribu orang ," kata Ketua Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) Bengkulu Syaiful Hidayat, di Bengkulu, Senin malam.

Ia mengatakan, tabot sakral adalah tabot yang hanya dibuat oleh keturunan keluarga tabot imam dan bangsal, sedangkan tabot turutan dibuat oleh keluarga tabot lainnya.

"Khusus tabot sakral sebelum mengikuti arak gedang dilakukan ritual "naik pangkek" atau menaikkan `jari-jari` ke puncak bangunan tabot. Ritual naik pangkek dilakukan setelah shalat Ashar di gerga (markas) Imam dan gerga bangsal," ujarnya.

Tabot yang telah dilengkapi "jari-jari" yang bermakna sebagai simbol jasad cucu Nabi Muhamad SAW yakni Husien, diarak menuju Jalan Ahmad Yani Kota Bengkulu untuk mengikuti ritual arak gedang dan disandingkan dengan puluhan tabot lainnya.

"Arak gedang tahun ini diikuti oleh tabot yang berukuran tinggi tiga sampai lima meter. Tabot yang berwarna warni tersebut semakin meriah dan menarik perhatian karena dipasang lampu kerlap-kerlip sehingga sangat indah dilihat pada malam hari," katanya.

Ia menjelaskan, untuk menambah variasi, tabot juga ditambah dengan hiasan antara lain berbentuk kuda terbang buraq, burung, dan hewan lainnya.

"Biaya pembuatan satu unit Tabot yang berkualitas termasuk tinggi dan mencapai belasan juta rupiah karena membutuhkan waktu sekitar 20 hari untuk membuatnya," katanya.

Berdasarkan pantauan, belasan ribu warga datang silih berganti memadati arena `arak gedang` sejak sore hingga malam hari sehingga arus warga yang berjalan menjadi penuh sesak.

Selain dari dalam Kota Bengkulu, para penonton datang dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Seluma, bahkan ada yang datang dari Provinsi Sumatera Selatan.

Mereka sengaja datang ke Kota Bengkulu untuk menyaksikan ritual yang hanya dilakukan satu kali dalam setahun tersebut.

Bagi keluarga keturunan Tabot di Bengkulu, ritual perayaan Tabot harus tetap dilaksanakan setiap tahun karena dipercaya akan mendatangkan musibah atau bencana bila tidak dilaksanakan.

Upacara tabot dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Bengkulu untuk menyambut Tahun Baru Hijriah dan memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW bernama Husien dalam perang di Padang Karbala Irak.

Tabot yang berarti peti mati adalah lambang peti yang berisi jenazah Husien yang diarak keluarga tabot Bengkulu untuk mengikuti ritual tabot tebuang pada 10 Muharam atau Selasa (6/12) menuju pemakaman Karabela yang mencerminkan kawasan Karbala di Irak.
(ANT-213/A035)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011