...akan terus mencari keuntungan dari para penggunanya
Jakarta (ANTARA News) - Pengguna media jejaring sosial di dalam jaringan (online) seringkali menganggap layanan yang digunakan sepenuhnya gratis dan penuh kebebasan, padahal tidak demikian.

Sejumlah layanan media jejaring sosial seperti Twitter, Facebook, atau Instagram akan terus mencari keuntungan dari para penggunanya terutama melalui iklan.

Brian Barret dari Gizmodo menyebut masalah dasar terletak pada para penyediaan layanan media sosial yang membutuhkan penggunanya.

"Jadi ketika Anda pertama kali bergabung (dengan media sosial), (seolah) negara dongeng akan nol konsekuensi langsung terbuka lebar," tulis Barret.

Para pengguna menikmati layanan gratis sesaat setelah mendaftar. Kemudian, perusahaan media jejaring sosial akan segera menjual iklan kepada mereka dan mengubah pengguna sebagai pengiklan di platform itu.

Barret menyebut kasus ketika Instagram mengubah pernyataan layanan penggunaannya menjadi salah satu contoh di mana pengguna menganggap media sosial sebagai rekan mereka dan memberikan layanan gratis.

"Respon dari para pengguna (Instagram) bukan sekedar keluhan. Tapi itu adalah rasa akan pengkhianatan yang dalam," sebut Barret.

Selain Instagram, Facebook juga sempat memelintir aturan privasi para penggunanya demi mendapatkan keuntungan.

"Tapi, membatasi aplikasi pemrogram tampilan muka (API) dan mengarahkan orang ke layanan (media sosial) Anda bukanlah hal yang buruk. Itulah yang dilakukan perusahaan, atau mereka akan menjadi lembaga amal," sebut Barret.
(I026)

Penerjemah: Imam Santoso
Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2012