Ekonom: Keliru memandang harga rokok Indonesia murah

id cukai rokok, ekonom indef,Bhima Yudhistira Adhinegara

ilustrasi: Barang bukti rokok ilegal ditunjukkan kepada wartawan saat gelar barang bukti dan pemusnahan di Kanwil Bea Cukai Jawa Timur I, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (30/4/2018). . (ANTARA /Umarul Faruq)

Jakarta (ANTARA News) - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai ada pandangan yang keliru bahwa harga rokok Indonesia tergolong murah dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya.

"Perbandingan harga itu cenderung bias," kata Bhima di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, Bhima menjelaskan harga rokok terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9 persen.

Sementara di Singapura dan Malaysia masing-masing hanya 1,5 persen serta 2 persen.

"Di Singapura terbukti bahwa harga rokok yang kita anggap mahal ternyata masih dalam jangkauan daya beli penduduk Singapura," ucapnya.

Menurut Bhima, menaikkan harga rokok tidak serta-merta menurunkan angka jumlah perokok. Konsumen justru bisa berbalik arah mengonsumsi rokok murah.

"Yang terjadi justru adanya perilaku beralihnya konsumen ke rokok yang lebih murah, atau yang paling berbahaya justru meningkatnya peredaran rokok ilegal," kata dia.

Hasil riset dari Universitas Gadjah Mada pada 2014 menunjukkan bahwa sekitar 11,7 persen dari 344 miliar batang rokok di pasaran dijual secara ilegal.

Bhima menegaskan jika harga rokok langsung dinaikkan secara drastis maka yang terjadi rokok ilegal semakin mendominasi pasaran.

"Kondisi ini jelas tidak menambah pemasukan cukai, justru kehilangan penerimaan negara bisa membesar," ujar dia.

Sebelumnya Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi juga menegaskan harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan yang tertinggi setelah dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah daripada Singapura atau negara maju lain. Tapi kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi," ucapnya.

Harga jual rokok di Indonesia sebesar 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) per kapita per hari.

Angka ini terbilang tinggi dibandingkan dengan negara maju, seperti Jepang.

Harga jual rokok di Jepang berkisar 0,2 persen dari PDB per kapita per hari.

"Memang nominalnya lebih murah dibandingkan negara-negara maju. Tapi harus kita ingat semua, itu kan dikendalikan juga dari daya beli," ungkap Heru.

Pewarta : Joko Susilo
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar