Survei : Harga rokok masih terjangkau anak-anak

id harga rokok,terjangkau anak-anak,survei harga rokok

Arsip. Aksi Penurunan Reklame Rokok Di Lingkungan Sekolah Sejumlah siswa SMP 1 Bojong Gede menurunkan reklame tentang rokok dan memasang iklan layanan masyarakat di warung lingkungan sekolahnya di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (13/2/2017). Penurunan iklan rokok disekitar sekolah ini merupakan bentuk penolakan siswa, guru serta masyarakat sekitar sekolah terhadap perusahaan rokok yang dengan sengaja meletakkan iklan rokok disekitar sekolah untuk menargetkan anak-anak sebagai perokok pengganti. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

Jakarta (ANTARA News) - Yayasan Lentera Anak bersama FCTC Warrior mengungkapkan hasil survei yang telah dilakukannya menunjukkan harga rokok masih terjangkau anak-anak pascakenaikan tarif cukai rokok 10,04 persen per Januari 2018.

"Kami sangat senang ketika ibu Menteri Keuangan mengumumkan akan menaikan cukai rokok. Tapi kenyataannya di lapangan, di kotaku di Bandung bahkan tidak ada satu pun dari 10 merek rokok yang aku pantau mengalami kenaikan harga," kata salah satu anggota FCTC Warrior Made Syanindita Putri Larasati di Jakarta, Rabu.

FCTC Warrior yang terdiri dari 21 anak muda melakukan survei di 46 warung yang sama di 19 kota Indoensia pada Desember 2017 dan Februari 2018.

Survei tersebut menunjukkan hanya enam kota yang mengalami kenaikan harga rokok yaitu di Kota Pekanbaru, Bandar Lampung, Jember, Kabupaten Pandeglang, Kota Langsa, dan Mataram. Kenaikan paling tinggi hanya sebesar Rp500 per batang dan tidak berlaku di semua merek rokok.

Program Officer Yayasan Lentera Anak Iman Mahaputra Zein menyayangkan hasil riset tersebut yang menunjukkan tidak adanya kenaikan signifikan.

"Sangat disayangkan sudah naiknya tidak seberapa, tidak merata di 19 kota tersebut. Nailknya paling tinggi hanya Rp500 per batang. Baru-baru ini Yayasan Lenteran Anak melakukan survei uang saku siswa sekolah, hasilnya rata-rata siswa SD itu memiliki uang saku sebesar Rp10 ribu, tentu kenaikan Rp500 bukan masalah bagi mereka, rokok masih bisa terbeli," kata Iman.

Salah satu hasil penelitian juga menunjukkan di Kota Palu hanya satu dari 10 merek rokok yang bisa dijual batangan.

"Salah satu keterjangkauan anak terhadap rokok adalah karena masih diperbolehkan dijual batangan. Pemilik warung merasa rugi jika menjual batangan, karena perlu waktu agar semua rokoknya terjual. Kalau pedagang tidak mau menjual batangan, masa pemerintah masih menganggap tidak masalah rokok boleh dijual batangan. Dibuatkan saja larangan jual batangan," kata Muhammad Syafaat anggota FCTC Warrior dari Palu.

Dalam survei tersebut juga dilakukan perbandingan harga telur per butir dan harga rokok per batang. Hasilnya menunjukkan harga telur termurah Rp1.200 per butir dan harga rokok paling murah Rp1.000 per batang. "Ini berarti harga rokok lebih murah ketimbang harga telur yang jelas-jelas makanan bergizi," kata anggota FCTC Warrior Pekalongan Siti Nur Dzakiyyatul.

FCTC Warrior berharap agar harga rokok bisa dijual lebih mahal agar tidak terjangkau oleh anak-anak. "Kami mendukung pemerintah untuk mengambil langkah yang bisa melindungi anak-anak," kata Dzakiyyatul yang biasa disapa Kiya.

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar